• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Koma Bisa Terjadi karena Cedera Otak, Ini Penjelasannya

Koma Bisa Terjadi karena Cedera Otak, Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Jika menonton film, tentu kamu sudah familiar dengan kondisi medis yang bernama koma, bukan? Secara medis, koma dijelaskan sebagai kondisi atau tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Disebut demikian karena orang yang mengalami koma tidak dapat merespons apa yang terjadi di sekitarnya sama sekali. 

Koma bisa terjadi karena kerusakan pada salah satu bagian otak, baik itu sementara atau permanen. Kerusakan otak ini dapat terjadi karena banyak faktor. Salah satunya adalah karena cedera otak. Seperti namanya, cedera otak adalah kondisi cedera yang terkait dengan otak dan memengaruhi seseorang secara fisik, sikap, dan emosional. 

Baca juga: 6 Olahraga yang Menyehatkan Otak

Lebih Lanjut tentang Cedera Otak

Berdasarkan penyebabnya, cedera otak terbagi menjadi dua, yaitu cedera otak traumatik dan non-traumatik. Cedera otak traumatik terjadi ketika adanya kekuatan eksternal (seperti hantaman atau pukulan), yang bisa menimbulkan luka tertutup (tidak menembus) atau terbuka (menembus). Sementara itu, cedera otak non-traumatik terjadi karena faktor internal, atau dari dalam tubuh. 

Selain dua kategori tersebut, cedera otak sebenarnya bisa dibedakan menjadi beberapa jenis lain, seperti:  

  • Cedera aksonal difus. Terjadi karena rotasi kuat di kepala, seperti shaken baby syndrome (sindrom bayi terguncang) atau kecelakaan mobil. 
  • Gegar otak atau cedera otak ringan. Bisa disebabkan oleh pukulan langsung ke kepala, luka tembak, atau goyangan kepala yang keras.
  • Cedera Coup-Contrecoup. Jenis cedera otak ini bisa terjadi ketika intensitas pukulan begitu hebat. Kondisi ini tidak hanya membuat memar, tetapi juga menyebabkan perpindahan lokasi cedera karena otak terbanting ke sisi yang berlawanan.
  • Second impact syndrome. Terjadi ketika seseorang mengalami benturan kedua sebelum cedera sebelumnya pulih. 
  • Cedera penetrasi. Cedera otak yang disebabkan oleh lapisan kepala yang diterobos oleh benda tajam, seperti tusukan pisau, tembakan peluru, atau benda lainnya yang menembus tengkorak hingga ke otak. 
  • Sindrom terkunci. Kondisi neurologis langka ketika seseorang tidak dapat secara fisik menggerakkan bagian tubuhnya selain melalui mata. 
  • Cedera kepala tertutup. Terjadi karena adanya pukulan yang tidak menyebabkan penetrasi pada tengkorak.

Baca juga: Ketahui Perbedaan Trauma Kepala Berat dan Trauma Kepala Ringan

Berbagai kondisi cedera otak tersebut dapat menimbulkan gangguan pada tubuh, termasuk koma, hingga kematian. Namun, tergantung pada seberapa parah kondisi atau cedera yang dialami.

Jika kamu atau orang terdekat ada yang mengalami cedera pada kepala, sebaiknya segera datang ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan penanganan. 

Berbagai Cara Mencegah Cedera Otak

Cedera otak yang sifatnya traumatik sebenarnya bisa dicegah dengan melakukan beberapa upaya seperti:

  • Selalu mengenakan sabuk pengaman saat berkendara. Anak-anak harus selalu duduk di bangku belakang mobil dan dipakaikan car seat dan sabuk pengaman yang sesuai dengan usia atau ukuran tubuhnya.
  • Hindari berkendara di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. Dalam hal ini termasuk obat resep yang dapat mengganggu kemampuan berkendara.
  • Kenakan helm saat mengendarai sepeda, sepeda motor, skateboard, atau kendaraan lainnya. Pakai juga pelindung kepala yang tepat saat bermain baseball atau olahraga kontak, ski, skating, snowboard, atau naik kuda. 

Baca juga: Naik Motor Enggak Pakai Helm Bisa Alami Trauma Kepala Ringan

Itulah sedikit penjelasan mengenai koma dan cedera otak. Jika kamu memiliki pertanyaan lain terkait kondisi ini, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, kapan saja dan di mana saja. 

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2020. Health A-Z. Coma.
Healthline. Diakses pada 2020. What Causes Coma?
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Traumatic brain injury.
WebMD. Diakses pada 2020. Head Injuries: Causes and Treatments.