Konsumsi Berlebih Air Alkali Picu Alkalosis, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Konsumsi Berlebih Air Alkali Picu Alkalosis, Ini Faktanya

Halodoc, Jakarta - Air alkali digadang-gadang sangat baik bagi kesehatan, karena mengandung kadar pH yang lebih tinggi dibanding air biasa. Jika air biasa mengandung pH netral 7, air alkali memiliki kandungan pH sekitar 8 atau 9. Manfaat air alkali, bahkan disebut-sebut bisa mencegah kanker dan penyakit jantung. Namun, terlalu banyak mengonsumsi air alkali juga ternyata berbahaya, lho. Salah satunya adalah memicu alkalosis. 

Meski kemungkinannya kecil, tetapi terlalu banyak mengonsumsi air alkali, terutama yang kadar pH-nya terlalu tinggi, dapat berisiko menyebabkan alkalosis. Penyakit ini merupakan kondisi ketika darah dalam tubuh mengandung terlalu banyak basa atau alkali, yang membuat tubuh kekurangan kadar kalsium, sehingga memicu kerusakan pada tulang. 

Baca juga: Hati-Hati, Alkalosis bisa Sebabkan Komplikasi Serius

Perlu diketahui bahwa darah dalam tubuh mengandung kadar asam dan basa, yang kadarnya dapat diketahui melalui pemeriksaan darah dalam skala pH. Keseimbangan asam dan basa tersebut diatur oleh ginjal dan paru-paru, dengan nilai pH normal sekitar 7,4. Kadar pH yang lebih kecil dari itu menandakan kandungan asam dalam tubuh lebih banyak, sedangkan pH yang lebih besar dari normal menandakan kandungan basa yang lebih banyak. 

Selain terlalu banyak mengonsumsi air alkali, alkalosis juga dapat disebabkan oleh berbagai hal. Berdasarkan hal yang menyebabkannya itu, alkalosis terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

 

1. Alkalosis Metabolik 

 

Alkalosis jenis ini terjadi ketika kandungan asam di dalam tubuh terlalu rendah, sehingga tubuh lebih banyak mengandung basa. Alkalosis metabolik ini dapat disebabkan oleh muntah berlebihan dan berkepanjangan, akibatnya tubuh kehilangan elektrolit.

Selain itu, alkalosis metabolik juga dapat disebabkan oleh konsumsi obat tertentu yang berlebihan (seperti, obat diuretik, antasida, atau obat pencahar), penyakit kelenjar adrenal, konsumsi bikarbonat, serta kecanduan alkohol. 

 

2. Alkalosis Respiratorik 

 

Alkalosis respiratorik terjadi karena tidak cukupnya karbondioksida dalam aliran darah, yang disebabkan oleh bernapas terlalu cepat, kekurangan oksigen, keracunan salisilat, dan kondisi medis, seperti demam tinggi, penyakit paru-paru, dan penyakit liver. Tak hanya itu, alkalosis jenis ini juga bisa terjadi ketika seseorang berada di tempat yang tinggi, serta hiperventilasi karena kecemasan.

Baca juga: Ini Akibatnya Kalau Tubuh Kehabisan Oksigen (Anoksia)

Beragam Gejala Alkalosis

Ketika seseorang mengalami gangguan keseimbangan pH, atau alkalosis, akan ada banyak organ yang dapat terganggu. Gejala yang muncul dapat cukup beragam dan berbeda-beda tergantung jenis dan penyebabnya. Namun umumnya, pada tahap awal, gejala alkalosis dapat berupa:

  • Mual.

  • Tubuh terasa kaku.

  • Otot yang tegang dan mengalami kedutan.

  • Tremor pada tangan.

  • Cepat marah.

  • Gangguan kecemasan yang menimbulkan napas cepat dan kesemutan pada wajah, tangan, atau kaki.

Pada beberapa kasus, alkalosis juga bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali. Sedangkan di sisi lain, gejala dapat muncul sangat parah yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan sesak napas dan penurunan kesadaran. Oleh karena itu, jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc.

Apakah Alkalosis Berbahaya?

Alkalosis dapat menimbulkan kondisi fatal jika tidak segera ditangani dengan tepat. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat alkalosis adalah:

  • Sesak napas.

  • Aritmia, seperti detak jantung terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.

  • Koma.

Baca juga: Jangan Diabaikan, Inilah Komplikasi Akibat Hipoksia

Oleh karena itu, penting untuk melakukan upaya pencegahan dengan mengurangi risiko alkalosis. Upaya pengurangan risiko yang dapat dilakukan adalah:

  • Menerapkan pola makan yang sehat, terutama makanan yang tinggi kalium, untuk mencegah kekurangan elektrolit. Sumber nutrisi kalium banyak terdapat dalam buah dan sayuran, seperti wortel, bayam, pisang, serta kacang-kacangan.

  • Menjaga asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi. Sebab, dehidrasi dapat membuat tubuh kehilangan banyak elektrolit dalam waktu cepat. Jangan lupa untuk minum 8 hingga 10 gelas setiap hari, dan biasakan untuk minum sebelum, sesudah, atau pada saat berolahraga. Batasi juga konsumsi kafein dalam soda, teh, atau kopi, yang dapat memperparah dehidrasi.

  • Segera diskusikan keluhan kesehatan sekecil apapun dengan dokter. Hal ini agar diagnosis dan penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin. Diskusi dengan dokter kapan dan di mana saja juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lewat fitur Chat atau Voice/Video Call. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.


 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Alkalosis
Medical News Today. Diakses pada 2019. What to know about respiratory alkalosis
National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Diakses pada 2019. Physiology, Metabolic Alkalosis