• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Konsumsi Kafein Berlebihan Picu Gangguan Panik, Ini Faktanya

Konsumsi Kafein Berlebihan Picu Gangguan Panik, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Konsumsi Kafein Berlebihan Picu Gangguan Panik, Ini Faktanya

Halodoc, Jakarta – Apa yang dikonsumsi ternyata berpengaruh terhadap naik turunnya emosi. Jika kamu mengidap gangguan panik ataupun gangguan kecemasan, disarankan untuk tidak mengonsumsi kafein secara berlebihan. 

Konsumsi kafein dapat menyebabkan perubahan sensasi fisik yang kemudian dikhawatirkan menjadi permulaan serangan kecemasan yang intens. Ketakutan ini kemudian berubah menjadi kecemasan dan bahkan dapat memicu serangan panik.

Kafein dan Hipersensitivitas pada Pengidap Gangguan Panik

Hipersensitivitas terjadi ketika pikiran menyadari adanya perubahan dalam tubuh. Ini biasa terjadi pada mereka yang mengalami gangguan kecemasan. Konsumsi kafein dapat menyebabkan perubahan sensasi fisik, kemudian menjadi permulaan serangan kecemasan yang intens dan dapat memicu serangan panik.

Baca juga: Benarkah Stres yang Berat Sebabkan Gangguan Panik?

Adapun beberapa gejalanya ditandai dengan:

1. Peningkatan Denyut Jantung 

Kafein dapat menyebabkan sedikit peningkatan detak jantung. Kebanyakan orang tidak menyadari hal ini. Terutama buat mereka yang memiliki gangguan panik sebelumnya. 

2. Ketidaknyamanan Perut 

Kafein sering kali dikenal sebagai diuretik dan pencahar. Hal ini dapat menyebabkan rasa sakit, nyeri, dan bentuk ketidaknyamanan lainnya pada sistem pencernaan. Ketidaknyamanan ini juga dapat memicu serangan panik karena penjelasan yang mirip dengan peningkatan detak jantung. Lebih lanjut, jika mengonsumsi kafein menyebabkan sering buang air kecil atau diare, kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan meningkat.

3. Meningkatkan Sensitivitas Mental 

Kafein dapat meningkatkan sensitivitas mental, sehingga dapat memicu rasa cemas berlebih yang mengarah pada serangan panik. Perubahan fisiologis ditafsirkan secara berlebihan yang akibatnya dapat memicu kecemasan.

Jika kamu punya gangguan panik, dan ingin tahu bagaimana penanganannya, tanyakan saja langsung ke dokter di Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya mudah, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Kafein dan Gangguan Mental

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh American Psychiatric Association, terdapat hubungan peningkatan gejala pengidap gangguan mental dengan konsumsi kafein. Faktanya, kafein meningkatkan kewaspadaan dengan memblokir zat kimia otak (adenosine) yang membuat kamu merasa lelah, sekaligus memicu pelepasan adrenalin yang diketahui dapat meningkatkan energi.

Baca juga: 5 Pemeriksaan Penunjang untuk Deteksi Gangguan Panik

Jika jumlah kafein cukup tinggi, efek ini lebih kuat, sehingga menyebabkan kecemasan. Meskipun mengonsumsi kafein bisa bermanfaat bagi kesehatan tubuh, mengonsumsinya secara berlebihan dapat menyebabkan gejala kecemasan. Apalagi orang dengan gangguan panik dan kecemasan sosial akan sangat sensitif terhadap hal tersebut.

Sebuah studi pada 2005 mencatat bahwa konsumsi kafein yang berlebihan dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan kondisi kejiwaan, termasuk gangguan tidur dan kecemasan, serta gejala psikotik.

Menurut Harvard Medical School, konsumsi kafein dapat menyerupai gejala kecemasan mulai dari:

1. Kegugupan.

2. Kegelisahan.

3. Kesulitan tidur.

4. Detak jantung cepat.

5. Masalah gastrointestinal.

U.S. Food and Drug Administration merekomendasikan batasan normal untuk konsumsi kafein 400 miligram sehari, yang berarti sekitar 4 cangkir kopi. Biasanya, jumlah ini tidak menimbulkan efek negatif atau berbahaya bagi orang dewasa yang sehat.

Baca juga: Alami Kejadian Traumatis Bisa Picu Gangguan Panik

U.S. Food and Drug Administration juga memperkirakan sekitar 1.200 miligram kafein dapat menyebabkan efek toksik, seperti kejang. Walaupun begitu, rekomendasi ini tidak menjadi ukuran pasti, karena pada akhirnya tingkat kepekaan masing-masing orang berbeda-beda terhadap efek kafein, termasuk juga bagaimana sistem metabolismenya.

Jika kamu mengonsumsi obat apa pun, obat tersebut juga dapat berinteraksi dengan konsumsi kafein. Bicarakan pada dokter mengenai pola konsumsi kafein yang direkomendasikan jika kamu sedang mengonsumsi obat tertentu.



Referensi:
Calm Clinic. Diakses pada 2020. Can Caffeine Cause Panic Attacks?
Healthline. Diakses pada 2020. Does Caffeine Cause Anxiety?