• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kontroversi Sputnik V, Vaksin Corona Asal Rusia

Kontroversi Sputnik V, Vaksin Corona Asal Rusia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Hampir satu bulan yang lalu, Rusia telah menyetujui vaksin corona untuk memerangi pagebluk COVID-19. Vaksin ini sempat diberikan pada salah satu putri Vladimir Putin, sebagai bagian dari uji coba fase klinis. Menurut pemerintah Rusia, vaksin miliknya akan dipasarkan ke luar negeri sebanyak 500 juta dosis, dan permintaan satu miliar dosis dari 20 negara. Hmm, cukup menjanjikan bukan? 

Vaksin milik Rusia ini berjalan dengan lancar pada tahap uji klinis fase I dan II. Lalu, bagaimana dengan uji klinis fase III? Nah, di sini letak masalahnya. Vaksin dari negara adidaya ini menuai kontroversi karena dianggap abai terhadap kepatuhan metode atau tahapan uji coba sebuah vaksin. Singkat kata, tes uji coba belum rampung, tapi vaksin sudah siap diproduksi massal. 

Baca juga: Picu Sebuah Penyakit, Vaksin COVID-19 AstraZeneca Ditangguhkan

‘Jalan Pintas’ Vaksin Sputnik V

Vaksin yang cukup kontroversial ini awalnya bernama Gam-Covid-Vac. Vaksin ini dibuat dari kombinasi dua adenovirus, Ad5 dan Ad26, keduanya direkayasa dengan gen coronavirus. The Gamaleya Research Institute, bagian dari Kementerian Kesehatan Rusia, melakukan uji klinis Gam-Covid-Vac pada Juni lalu.

Dua bulan berselang, Presiden Vladimir V. Putin mengumumkan bahwa regulator kesehatan Rusia telah menyetujui vaksin tersebut. Pengumuman yang disampaikan Putin menempatkan Rusia sebagai negara pertama yang menyetujui vaksin COVID-19. 

Lalu, di mana letak kontroversinya? Ternyata, vaksin yang telah disetujui tersebut belum memasuki uji klinis fase III. Kini, Gam-Covid-Vac berganti nama menjadi Sputnik V. 

Banyak kalangan termasuk para ilmuwan menganggap Rusia sedang mencoba meraih kemenangan dengan mengambil ‘jalan pintas’. Para ahli mengecam langkah tersebut karena dianggap sangat berisiko. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah memperingatkan Rusia untuk tidak menyimpang dari metode pengujian vaksin, demi keamanan dan kemanjurannya. 

Akibat tekanan dari dunia internasional, Rusia kembali menarik pengumuman tersebut. Menurutnya persetujuan itu adalah "sertifikat pendaftaran bersyarat”, yang akan bergantung pada hasil positif dari uji klinis fase III. Uji coba yang awalnya direncanakan hanya untuk 2.000 sukarelawan, diperluas menjadi 40.000.

Bagaimana kelanjutan dari vaksin Sputnik V? Pada 4 September, tiga minggu setelah pengumuman Putin, para peneliti The Gamaleya Research Institute menerbitkan hasil uji klinis fase I/II. Melalui sebuah penelitian kecil, mereka menemukan bahwa Sputnik V menghasilkan antibodi terhadap virus corona dan efek samping ringan.

Baca juga: Ini Tahapan Pengujian dan Perkembangan Global Vaksin Corona

Belum Teruji, Berpotensi Membahayakan 

Uji klinis fase III juga sering disebut sebagai uji klinis kritis tahap akhir. Di sini, para ahli memberikan vaksin pada ribuan orang, lalu menentukan apakah vaksin ini dapat melindungi tubuh dari SARS-CoV-2. Nah, menurut Food and Drug Administration (FDA), vaksin corona harus melindungi setidaknya 50 persen orang yang divaksinasi agar dianggap efektif. 

Tak hanya itu saja peran dari uji klinis fase III. Para ahli akan melihat ada tidaknya efek samping yang dapat ditimbulkan sebuah vaksin. Efek samping ini mungkin saja terlewatkan dalam penelitian sebelumnya (uji klinis fase I dan III).  

Melalui uji klinis fase III, para ahli baru bisa menentukan keefektifan dan keamanan sebuah vaksin. Singkat kata, hanya lewat uji klinis fase III yang dapat memastikan apakah vaksin benar-benar mampu dan aman melindungi tubuh dari COVID-19. 

Baca juga: Ini 7 Perusahaan Pembuat Vaksin Virus Corona

Sayangnya, dengan melewati uji klinis berskala besar ini, langkah Rusia untuk menciptakan sebuah vaksin menimbulkan kekhawatiran luas. Alasannya jelas, Rusia menghindari langkah-langkah penting, dan berpotensi membahayakan orang-orang yang menerima vaksin tersebut. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 

Referensi:
The Guardian. Diakses pada 2020. Russia approves Sputnik V coronavirus vaccine despite testing safety concerns – video
Al Jazeera. Diakses pada 2020. Sputnik V: What we know about Russia's coronavirus vaccine
The New York Times. Diakses pada 2020. Russia Approves Coronavirus Vaccine Before Completing Tests
The New York Times. Diakses pada 2020. Coronavirus Vaccine Tracker
The New York Times. Diakses pada 2020. Different Approaches to a Coronavirus Vaccine