Lakukan 4 Kebiasaan Ini untuk Atasi Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Lakukan 4 Kebiasaan Ini untuk Atasi Dermatitis Herpetiformis

Halodoc, Jakarta - Kulit yang mulus adalah idaman bagi kebanyakan orang. Untuk mencapainya, kamu harus rajin membersihkan kulit. Walau begitu, kamu mungkin saja mengalami gangguan kulit meski sudah merawatnya dengan baik. Salah satu gangguan yang terjadi adalah dermatitis herpetiformis.

Penyakit ini terjadi ketika tubuh kamu bereaksi terhadap gluten. Gangguan ini dapat menyebabkan ruam dan rasa gatal pada kulit. Dermatitis herpetiformis umumnya terjadi pada pengidap penyakit celiac. Gluten adalah protein yang terkandung dalam gandum dan biji-bijian lainnya.

Baca juga: Adakah Pencegahan untuk Penyakit Dermatitis Herpetiformis?

Kebiasaan untuk Mengatasi Dermatitis Herpetiformis

Dermatitis herpetiformis adalah sebuah gangguan yang disebabkan oleh penyakit autoimun. Gangguan tersebut dapat menyebabkan ruam pada kulit. Kandungan gluten yang masuk ke tubuh dapat membuat sistem kekebalan tubuh bereaksi dan menimbulkan rasa gatal pada kulit.

Gangguan ini paling sering menyerang bagian siku, lutut, bokong, punggung bawah, dan kulit kepala. Dermatitis herpetiformis lebih sering terjadi pada seseorang berusia 30-40 tahun. Selain itu, penyakit ini jarang terjadi pada anak-anak. 

Untuk mengatasinya, terdapat beberapa kebiasaan yang dapat kamu lakukan. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kamu lakukan:

  1. Menghindari konsumsi makanan yang mengandung gluten.

  2. Hindari aktivitas yang membuat tubuh kamu berkeringat secara berlebihan.

  3. Rajin bersihkan kulit untuk mengurangi risiko terhadap infeksi.

  4. Cuci segala sesuatu yang kamu kenakan secara teratur.

Dermatitis herpetiformis yang terjadi mungkin dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Maka dari itu, kamu harus dengan cepat memastikannya. Caranya adalah dengan bertanya pada dokter di Halodoc tentang gangguan tersebut. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone kamu!

Gejala dari Dermatitis Herpetiformis

Untuk dapat melakukan pencegahan secara dini, kamu harus mengetahui gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Penyakit autoimun ini dapat menyebabkan gangguan pada kulit, oral, hingga pencernaan. Berikut adalah beberapa gejala yang dapat ditimbulkan.

  1. Gangguan Kulit

Gejala yang paling umum ketika dermatitis herpetiformis terjadi adalah gangguan kulit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan lepuh, gatal, dan lesi pada kulit. Gatal dan rasa terbakar yang terjadi mungkin saja tidak tertahankan. Bagian yang paling umum terserang adalah siku, lutut, dan kulit kepala.

  1. Gangguan pada Mulut

Penyakit ini juga dapat menyebabkan gangguan pada mulut. Gangguan tersebut berupa cacat pada email gigi, gigi berlubang, dan perubahan warna pada gigi. Dalam tahap yang jarang, gangguan ini dapat menyebabkan sariawan.

  1. Gangguan Saluran Pencernaan

Penyakit Dermatitis Herpetiformis adalah gangguan yang disebabkan oleh sensitivitas gluten. Hal tersebut dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada usus kecil. Seseorang yang mengalami gangguan ini dapat merasakan perut kembung, kram, nyeri, diare, hingga sembelit.

Baca juga: Kulit Terbakar dan Melepuh, Ini Gejala Dermatitis Herpetiformis

Cara Mendiagnosis Dermatitis Herpetiformis

Untuk mendiagnosis penyakit tersebut, dokter pertama-tama akan melihat catatan medis pengidapnya. Setelah itu, ahli medis tersebut akan melihat lepuhan yang terjadi di permukaan kulit kamu. Jika penyakit pada kulit tersebut bertambah parah, barulah masuk ke pemeriksaan selanjutnya.

Dokter juga akan melakukan biopsi kulit untuk mengonfirmasi gangguan pada kulit tersebut. Hal tersebut akan dilakukan dengan mengangkat kulit dan melakukan pengujian. Sampel kulit tersebut diambil dari area yang terserang. Hasil pemeriksaan dari penderita DH umumnya positif terhadap pola granular IgA.

Baca juga: Kenali 4 Jenis Dermatitis dan Cara Mengatasinya

Tes darah terhadap antibodi lain juga dapat dilakukan. Seseorang yang mengidap gangguan ini akan memiliki antibodi transglutaminase anti-jaringan. Hal tersebut dapat melengkapi proses diagnostik dari penyakit tersebut. Jika tes antibodi dan biopsi menghasilkan positif terhadap DH, biopsi usus pun tidak perlu dilakukan.