• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Lansia Dapat Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Lansia Dapat Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Lansia Dapat Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Halodoc, Jakarta - Menurut perhitungan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari periode 2015 sampai 2050 populasi lansia (60 tahun ke atas) diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat. Dari 900 juta orang menjadi dua miliar orang. Cukup banyak, bukan?

Hal yang perlu dipahami, lansia adalah salah satu kelompok yang harus siap berhadapan dengan tantangan kesehatan fisik dan kesehatan mental. Nah, menyoal kesehatan mental ini, menurut data dari WHO sekitar 15 persen lansia mengalami gangguan jiwa atau gangguan kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental adalah penyakit yang memengaruhi emosi, perilaku, dan pola pikir pengidapnya. Hati-hati, gangguan kesehatan mental yang tak ditangani bisa menimbulkan berbagai masalah psikis dan fisik bagi pengidapnya.

Mirisnya lagi, menurut Pan American Health Organization (PAHO), lansia yang berusia 85 atau lebih tua memiliki tingkat bunuh diri tertinggi dari semua kelompok umur. Cukup mengkhawatirkan, bukan?

Lantas, mengapa lansia masuk ke dalam kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental? 

Baca juga: Pola Hidup Sehat Bisa Mencegah Terjadinya Depresi

Pemicu Gangguan Kesehatan Mental pada Lansia

Pada dasarnya, terdapat gangguan kesehatan mental yang bisa menghantui lansia, contohnya depresi dan gangguan kecemasan. Menurut WHO, depresi memengaruhi sekitar 5-7 persen populasi lansia di dunia. Sementara itu gangguan kecemasan memengaruhi sekitar 3,8 persen lansia.

Sebenarnya, banyak faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan mental di titik manapun dalam hidup. Khusus untuk lansia, mungkin mengalami stresor kehidupan yang umum terjadi pada semua orang, tetapi juga stresor yang lebih umum terjadi di kemudian hari. 

Contohnya, hilangnya kapasitas secara signifikan dan penurunan kemampuan fungsional. Misalnya, lansia mungkin mengalami penurunan mobilitas, nyeri kronis, kelemahan, atau masalah kesehatan lainnya yang memerlukan perawatan jangka panjang. 

Selain itu, lansia lebih mungkin mengalami peristiwa seperti berkabung, atau penurunan status sosial ekonomi akibat masa pensiun. Semua penyebab stres ini menyebabkan isolasi diri, kesepian, atau tekanan psikologis pada lansia, yang dapat memerlukan perawatan jangka panjang. 

Kesehatan mental berdampak pada kesehatan fisik, dan begitu pula sebaliknya. Contohnya, lansia yang mengidap penyakit tertentu (seperti penyakit jantung) memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi daripada lansia yang sehat. 

Menurut WHO, lansia juga rentan terhadap pelecehan lansia. Contohnya pelecehan fisik, verbal, psikologis, finansial, seksual, ditinggalkan, diabaikan, dan kehilangan martabat dan rasa hormat. 

Bukti terkini menunjukkan bahwa 1 dari 6 lansia mengalami pelecehan lansia. Hati-hati, pelecehan lansia tidak hanya menyebabkan masalah fisik saja, tetapi juga konsekuensi psikologis yang serius dan terkadang bertahan lama, termasuk depresi dan kecemasan.

Baca juga: Waspada 5 Penyakit yang Umum Muncul pada Lansia

Nah, bagi kamu yang tinggal atau hidup mendampingi lansia, bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc, untuk mengetahui cara mencegah gangguan kesehatan mental pada lansia.

Kenali Gejala Gangguan Kesehatan Mental

Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental (baik anak-anak, orang dewasa, atau lansia) umumnya akan menunjukkan berbagai gejala.

Dikutip dari American Psychiatric Association, berikut ini gejala gangguan kesehatan mental, yaitu:

  • Perubahan tidur atau nafsu makan.
  • Perubahan suasana hati, perubahan emosi, atau perasaan tertekan yang cepat atau dramatis.
  • Isolasi diri, penarikan sosial, atau hilangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
  • Masalah berpikir, contohnya sulit berkonsentrasi, kesulitan mengingat, atau pemikiran logis dan ucapan yang sulit dijelaskan.
  • Apatis, kehilangan inisiatif atau keinginan untuk berpartisipasi dalam aktivitas apa pun. 
  • Merasa terputus dengan lingkungan sekitar.
  • Pemikiran yang tidak logis, pemikiran tidak logis atau "magis" yang khas dari masa kanak-kanak di masa dewasa.
  • Perilaku tidak biasa, ganjil, atau perilaku aneh.

Baca juga: 5 Penyebab Depresi yang Sering Diabaikan

Menurut American Psychiatric Association, seseorang yang menunjukkan satu atau dua gejala di atas tidak dapat dipastikan mengidap gangguan mental, tetapi menunjukkan kebutuhan untuk dievaluasi lebih lanjut. 

Namun, jika seseorang mengalaminya banyak gejala di atas hingga menyebabkan masalah serius dalam kemampuan untuk belajar, bekerja atau berhubungan dengan orang lain, dirinya harus diperiksa oleh dokter, psikolog, atau psikiater. 

Nah, bila terdapat lansia atau anggota keluarga lainnya yang menunjukkan gejala di atas kamu bisa kok memeriksakan diri mereka ke rumah sakit pilihan. Sebelumnya, buat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit. Praktis, kan?



Referensi:
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2021. Mental Disorders
WHO. Diakses pada 2021. Mental health of older adults
American Psychiatric Association. Diakses pada 2021. Warning Signs of Mental Illness
Pan American Health Organization (PAHO). Diakses pada 2021. Seniors and Mental Health