• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Manfaat Senam Kegel untuk Mengatasi Kandung Kemih Overaktif

Manfaat Senam Kegel untuk Mengatasi Kandung Kemih Overaktif

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Tidak minum berlebihan tapi bolak-balik ke toilet terus untuk buang air kecil? Hati-hati, bisa jadi itu gejala kandung kemih overaktif. Kondisi yang dikenal juga dengan sebutan overactive bladder (OAB) ini adalah gangguan pada fungsi penyimpanan kandung kemih, sehingga membuat pengidapnya selalu ingin buang air kecil tiba-tiba dan tidak tertahankan. Benarkah senam kegel dapat mengatasi kandung kemih overaktif?

Jawabannya, iya. Sebenarnya, ada beberapa upaya atau strategi pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kandung kemih overaktif. Salah satunya adalah latihan otot dasar panggul, dan contohnya adalah senam kegel. Manfaat senam kegel untuk mengatasi kandung kemih overaktif adalah memperkuat otot-otot dasar panggul dan sfingter urine. Dengan begitu, kontraksi secara tidak sadar dari kandung kemih akan berkurang.

Baca Juga : Kenali 5 Penyebab Sering Buang Air Kecil

Cara Mengatasi Kandung Kemih Overaktif Lainnya

Selain melakukan senam kegel secara rutin, ada beberapa cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi kandung kemih overaktif, yaitu:

1. Intervensi Perilaku

Intervensi perilaku adalah salah satu pilihan pengobatan paling umum untuk mengatasi kandung kemih overaktif. Namun, pengobatan ini sering kali efektif dan tidak menimbulkan efek samping. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam intervensi perilaku adalah:

  • Menjaga berat badan ideal. Jika memiliki berat badan berlebih, menurunkan berat badan adalah salah satu cara untuk mengatasi kandung kemih overaktif.
  • Mengatur jadwal buang air kecil. Misalnya, mengatur jadwal berkemih menjadi setiap dua sampai empat jam sekali. Hal ini dapat membuat pengidap kandung kemih overaktif dapat buang air kecil pada waktu yang sama setiap hari, daripada menunggu sampai keinginan untuk berkemih datang.
  • Kateterisasi intermiten. Penggunaan kateter secara berkala untuk mengosongkan kandung kemih dapat membantu kandung kemih berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, kamu mesti tanyakan pada dokter apakah pengobatan ini cocok untuk kamu.

Baca Juga: Urine Berwarna, Hati-hati 4 Penyakit Ini

2. Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan yang dapat mengendurkan kandung kemih juga dapat membantu meredakan gejala kandung kemih yang terlalu aktif dan mengurangi episode inkontinensia urgensi. Obat-obatan yang dapat diberikan antara lain tolterodine, oxybutynin (dalam bentuk patch kulit atau gel), trospium, solifenacin, darifenacin. Namun, sebagian besar obat-obatan tersebut memiliki efek samping, dan jika diminum terlalu sering, dapat memperburuk gejala kandung kemih overaktif.

3. Suntik Kandung Kemih

Pilihan pengobatan untuk mengatasi kandung kemih overaktif selanjutnya adalah suntik kandung kemih. Cairan yang disuntikkan biasanya adalah Onabotulinumtoxin A atau yang disebut juga botox, yang terbuat dari protein dalam bakteri yang menyebabkan penyakit botulisme. Botox tersebut bisa digunakan dalam dosis kecil yang langsung disuntikkan ke jaringan kandung kemih. Manfaatnya adalah untuk melumpuhkan sebagian otot, sehingga efektif untuk mengatasi inkontinensia urgensi parah.

4. Stimulasi Saraf

Dilakukan dengan cara mengatur impuls saraf ke kandung kemih. Hal ini dilakukan agar gejala kandung kemih overaktif dapat mereda.

Baca Juga: 4 Penyakit yang Bisa Dideteksi Melalui Cek Urine

5. Operasi

Prosedur operasi untuk mengatasi kandung kemih overaktif biasanya dilakukan bagi pengidap dengan kondisi yang parah dan tidak mempan terhadap pengobatan lainnya.

Itulah beberapa pilihan pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kandung kemih overaktif. Untuk bisa mengetahui pengobatan seperti apa yang tepat, kamu harus berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter. Jadi, jika mengalami gejala kandung kemih overaktif, segera download aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Overactive bladder – Diagnosis & Treatments.