• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Membongkar Mitos Seputar Radang Sendi yang Beredar

Membongkar Mitos Seputar Radang Sendi yang Beredar

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Membongkar Mitos Seputar Radang Sendi yang Beredar

Halodoc, Jakarta – Arthritis atau radang sendi adalah penyakit yang sudah menyerang banyak orang dan merupakan penyebab kecacatan paling umum di Amerika Serikat. Meski begitu, banyaknya mitos seputar radang sendi yang beredar, membuat banyak orang memiliki pemahaman yang salah mengenai penyakit yang mengganggu tersebut.

Baca juga: Jaga Kesehatan Sendi, Ini Bedanya Radang Sendi dan Nyeri Sendi

Memiliki pemahaman yang benar mengenai radang sendi sangat penting agar kamu bisa mewaspadai penyakit tersebut.

Ada tujuh mitos seputar radang sendi yang paling umum, yaitu:

1. Radang Sendi adalah Penyakit Orang Tua

Mitos seputar radang sendi yang paling umum adalah bahwa penyakit ini hanya menyerang orangtua. Faktanya, radang sendi bisa menyerang siapa saja di segala usia, termasuk anak-anak dan orang muda.

Melansir dari University of Rochester Medical Center, arthritis atau radang sendi terjadi pada 54 juta orang Amerika dari segala usia, bahkan anak-anak. Dr Maria Karipidis Pouria dari UR Medicine Sports mengungkapkan, ia menemukan pasien berusia awal 20-an yang mengidap radang sendi akibat cedera yang dialami sebelumnya, pasien berusia 30-an hingga paruh baya, dan banyak pasien berusia 100 tahun yang harus bertahan terhadap penyakit tersebut.

2. Radang Sendi Bisa Dipicu Iklim yang Basah dan Dingin

Sudah lama beredar mitos bahwa radang sendi disebabkan oleh iklim yang dingin dan basah. Pindah ke daerah dengan iklim yang hangat dan kering dianggap oleh beberapa orang bisa menjadi solusi untuk mengatasi arthritis. Namun, bila hal itu benar, maka tidak ada seorang pun di negara yang hangat seperti Indonesia yang mengidap radang sendi. 

Faktanya, gesekan yang terjadi antara tulang dengan tulang rawan bisa menyebabkan rasa sakit di iklim apa pun. Namun, kehangatan bisa meredakan gejala radang sendi, seperti halnya berendam di dalam bak air hangat atau mandi air hangat.

3. Radang Sendi Disebabkan Pola Makan yang Buruk

Mitos seputar radang sendi lainnya yang juga cukup umum adalah bahwa radang sendi terkait dengan pola makan. Pola makan yang bergizi dan seimbang, serta menjaga berat badan ideal dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran secara keseluruhan. Namun, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa makanan tertentu bisa mencegah atau menyebabkan sebagian besar bentuk radang sendi.

Faktanya, pola makan yang sehat tidak mencegah arthritis. Kecuali bila kamu memiliki alergi makanan tertentu yang menyebabkan radang sendi menjadi kambuh. Namun, tidak ada hubungan langsung yang terbukti antara sumber makanan tertentu dan radang sendi.

4. Kurangi Olahraga Bila Radang Sendi Kambuh

Nasihat yang mengatakan bahwa pengidap arthritis tidak boleh berolahraga karena bisa merusak persendian dengan cepat tidak sepenuhnya benar.

Faktanya, olahraga bisa menjadi ‘obat’ terbaik untuk radang sendi karena bisa mengembangkan otot-otot yang menopang persendian kamu, meningkatkan kelenturan, serta jangkauan gerak kamu. Meski begitu, kamu perlu memastikan bahwa olahraga yang kamu lakukan tidak membebani persendian kamu. 

Terapis fisik bisa membantu menyesuaikan rutinitas olahraga untuk kamu, mulai dari olahraga berdampak tinggi dan lari, sampai pilihan olahraga berdampak rendah, seperti hiking dan berenang.

Seorang ahli terapi fisik juga bisa merekomendasikan latihan untuk memastikan bahwa otot-otot yang menopang persendian seimbang. Hal ini penting karena bila beberapa otot terlalu diforsir dan yang lainnya tidak, hal ini bisa memengaruhi keselarasan dan gerakan tubuh, sehingga memberikan tekanan berlebih pada sendi yang terpengaruh.

Baca juga: 5 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan Saat Nyeri Sendi

5. Tidak Ada Pengobatan Radang Sendi, Kecuali Operasi

Faktanya, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh pengidap arthritis untuk mengatasi penyakitnya tersebut, sehingga bisa memiliki kualitas hidup yang baik.

Cara untuk mengatasi gejala osteoarthritis, yaitu: 

  • Terapi Panas dan Dingin. Kamu bisa menggunakan kompres panas untuk meredakan nyeri dan kekakuan, sedangkan kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan.
  • Alat Bantu. Kamu juga bisa menggunakan braces atau penyangga untuk membantu menopang sendi yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga kamu bisa memiliki pergerakan yang lebih baik dengan sedikit rasa sakit.
  • Obat Antiinflamasi yang Dijual Bebas. Obat seperti antiinflamasi nonsteroid atau NSAIDS membantu meredakan nyeri dan peradangan, tapi mungkin belum tentu cocok untuk semua orang. Orang dengan penyakit jantung, masalah ginjal dan hati kronis, refluks asam, maag dan hipertensi harus menghindari NSAID.

Selain itu, acetaminophen juga efektif untuk mengurangi rasa sakit, tapi tidak bisa mengurangi pembengkakan. Obat ini juga memiliki efek samping, jadi sebaiknya bicarakan dulu pada dokter sebelum mengonsumsinya.

Untuk membeli obat-obatan yang kamu perlukan untuk mengurangi nyeri akibat radang sendi, gunakan saja aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, tinggal pesan saja lewat aplikasi dan pesananmu akan diantar dalam waktu satu jam.

  • Bila kamu memiliki radang sendi, kamu mungkin perlu menyesuaikan rutinitas harian kamu. Apalagi bila pekerjaan kamu menuntut secara fisik untuk berlutut atau jongkok. Hal itu bisa memberikan tekanan yang luar biasa pada lutut dan pinggul. Namun, terapis okupasi bisa membantu menemukan alternatif cara untuk menyelesaikan tugas dengan risiko cedera jangka panjang yang lebih kecil.

Baca juga: Ini 6 Obat Nyeri Sendi dari Bahan Alami di Rumah

Itulah mitos seputar radang sendi yang banyak beredar di masyarakat. Jadi, jangan mudah percaya pada mitos-mitos kesehatan yang sering kali menyesatkan, cek dulu faktanya dengan bertanya pada dokter di Halodoc. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Very Well. Diakses pada 2021. Common Misconceptions About Arthritis.
University of Rochester Medical Center. Diakses pada 2021. Myth Buster: The Truth About Arthritis Causes and Treatments