• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengalami Penyakit Stroke Tidak Boleh Kateterisasi Jantung?

Mengalami Penyakit Stroke Tidak Boleh Kateterisasi Jantung?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Jantung menjadi salah satu organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Jantung memiliki peran untuk memompa darah menuju seluruh tubuh agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan jantung, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, hingga menghindari kebiasaan merokok. Tanda adanya gangguan jantung juga perlu kamu ketahui agar dapat segera diatasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kondisi gangguan jantung yang lebih buruk. 

Baca juga: Siapa Saja yang Perlu Melakukan Kateterisasi Jantung?

Kondisi kesehatan jantung dapat kamu lihat melalui beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan, salah satunya dengan kateterisasi jantung. Pemeriksaan ini dilakukan jika dokter menduga adanya gangguan pada otot, katup, hingga pembuluh darah pada jantung. Namun, tidak semua orang boleh melakukan pemeriksaan ini. Yuk, simak siapa saja yang sebaiknya tidak melakukan kateterisasi jantung!

Siapa Saja yang Perlu Lakukan Pemeriksaan Jantung?

Pemeriksaan jantung bukan hanya diperuntukkan bagi kamu yang pernah mengalami gangguan jantung atau sering mengalami keluhan kesehatan pada bagian jantung. Ternyata, orang yang memiliki kondisi kesehatan optimal pun perlu memerlukan kesehatan jantung. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan jantung sejak dini.

Lalu, siapa saja yang sebaiknya lakukan pemeriksaan jantung? Semua orang yang sehat perlu memeriksakan kondisi kesehatan jantung, apalagi jika kamu berisiko memiliki gangguan jantung. Ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan, misalnya jarang berolahraga, sering mengonsumsi makanan yang mengandung lemak dan garam, memiliki riwayat penyakit pemicu jantung, serta mengalami obesitas.

Kapan Kateterisasi Jantung Perlu Dilakukan?

Ada berbagai macam pemeriksaan yang bisa kamu lakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada jantung, salah satunya dengan melakukan kateterisasi jantung. Pemeriksaan ini merupakan prosedur medis yang bertujuan mendeteksi kondisi kesehatan jantung. 

Tidak hanya itu, kateterisasi jantung juga dapat digunakan sebagai pengobatan berbagai penyakit jantung menggunakan kateter. Alat ini merupakan selang yang tipis dan akan dimasukkan menuju pembuluh darah untuk diarahkan menuju jantung. 

Baca juga: Kenapa Kateterisasi Jantung dan Otak Dilakukan?

Biasanya, kateterisasi jantung akan dilakukan untuk mendiagnosis adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Tidak hanya itu, adanya permasalah katup jantung, penurunan kemampuan jantung memompa darah, hingga adanya dugaan kelainan jantung menjadi beberapa kondisi lain yang perlu dilakukan pemeriksaan kateterisasi jantung.

Kateterisasi jantung juga perlu dilakukan ketika dokter akan melakukan angioplasti, memperbaiki otot serta katup jantung, dan menutup jantung pada kondisi kelainan jantung bawaan.

Stroke hingga Anemia Hindari Kateterisasi Jantung

Lalu, benarkah pengidap stroke tidak boleh melakukan kateterisasi jantung? Melansir Mayo Clinic, ada beberapa orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu sebaiknya menunda pemeriksaan atau pengobatan kesehatan jantung dengan kateterisasi jantung.

Tidak hanya pengidap stroke, ada beberapa kondisi lain yang sebaiknya menghindari kateterisasi jantung, seperti mengalami perdarahan, memiliki alergi terhadap cairan kontras, anemia, gagal ginjal, dan gangguan pembekuan darah. Namun jangan khawatir, kateterisasi jantung dapat dilaksanakan saat penyakit tersebut dapat diatasi dengan baik.

Inilah Prosedur Kateterisasi Jantung

Sebelum melakukan kateterisasi jantung kamu akan diminta untuk melakukan puasa selama 6 jam sebelum proses dilakukan. Kateterisasi jantung akan dilakukan pada ruangan khusus. Pasien yang akan melakukan kateterisasi jantung diberikan bius lokal dan dipasang selang infus untuk penyaluran obat selama proses berjalan.

Dokter akan membuat sayatan kecil untuk memasukan alat kateter ke dalam pembuluh darah, hingga menuju arteri jantung. Saat kateter terpasang dengan baik, dokter akan memasukan cairan kontras melalui kateter ke dalam arteri jantung. Setelah cairan kontras masuk, dokter akan mulai memindai jantung dan melihat kondisi kesehatannya. 

Baca juga: Alasan Pentingnya Melakukan Kateterisasi Jantung dan Otak

Setelah pemeriksaan telah selesai, kateter akan dilepas dan sayatan ditutup dengan jahitan. Biasanya, proses ini akan berlangsung selama 1 jam. Untuk mencegah perdarahan, sebaiknya pasien beristirahat selama 2–5 hari hingga kondisi kesehatan dapat pulih dengan optimal.

Segera lakukan pemeriksaan pada rumah sakit ketika kamu mengalami mati rasa pada bagian yang menjadi lokasi sayatan, lokasi kateter terlihat membiru, dan pembengkakan yang disertai dengan cairan. Download aplikasi Halodoc untuk mengetahui rumah sakit terdekat yang bisa kamu kunjungi.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Cardiac Catheterization.
American Heart Association. Diakses pada 2020. Cardiac Catheterization.
Web MD. Diakses pada 2020. Cardiac Catheterization.