• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengalami Stroke Bisa Terkena Demensia, Ini Penjelasannya

Mengalami Stroke Bisa Terkena Demensia, Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Stroke dan demensia merupakan dua masalah kesehatan yang memengaruhi otak. Keduanya sering kali terjadi secara bersamaan. Selain cenderung dialami oleh seseorang di usia lanjut, stroke menjadi salah satu faktor pemicu demensia. Lantas, bagaimana para pengidap stroke bisa mengalami demensia secara bersamaan? Begini penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Bahayakah Mengembalikan Ingatan Akibat Amnesia?

Demensia pada Pengidap Stroke, Mengapa Bisa Terjadi?

Seorang pengidap stroke biasanya mengalami gejala umum, seperti lemas, kesulitan berbicara, kehilangan penglihatan, serta sering lupa. Sejumlah gejala tersebut biasanya dialami oleh para pengidap stroke dalam kasus yang parah. Sering lupa terjadi saat stroke memengaruhi bagian dalam otak. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah demensia vaskular.

Demensia, atau yang lebih dikenal dengan istilah pikun merupakan penurunan kesehatan otak yang ditandai dengan penurunan daya ingat, kesulitan untuk merawat diri sendiri, serta sulit mengambil keputusan. Pada pengidap stroke, demensia terjadi saat bagian otak yang bertanggung jawab terhadap memori, tingkah laku, serta kewaspadaan tidak mendapatkan suplai darah yang cukup.  

Demensia pada pengidap stroke tidak muncul secara tiba-tiba. Penyakit tersebut muncul dan berkembang dari waktu ke waktu. Jadi, segera temui dokter di rumah sakit terdekat jika kamu atau orang terdekat mengalami sejumlah gejala stroke ringan, ya. Jangan sampai parah, karena risiko terkena demensia akan semakin tinggi.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Childhood Amnesia pada Orang Dewasa

Bagaimana Cara Mengatasi Demensia pada Pengidap Stroke?

Hingga kini, tidak ada langkah yang bisa dilakukan guna membantu mengembalikan ingatan yang hilang pada pengidap stroke. Pengidap stroke yang juga mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, dan gangguan kolesterol perlu melakukan terapi tertentu guna menurunkan risiko terjadinya demensia. Meski belum ada langkah khusus untuk mengatasi demensia pada pengidap stroke, tetapi upaya dapat ditingkatkan melalui rehabilitasi.

Kesuksesan rehabilitasi sendiri tergantung pada beberapa hal, yaitu keparahan kerusakan otak yang dialami, kerjasama pasien dan tim medis, serta kapan waktu rehabilitasi dimulai. Lebih awal atau lebih cepat rehabilitasi dilakukan, maka persentase kesembuhan akan lebih tinggi. Tujuannya sendiri agar pengidap stroke dapat mencapai tingkat kemandirian dan produktivitas yang maksimal.

Masing-masing pengidap akan membutuhkan proses rehabilitasi yang berbeda, sehingga mereka memiliki kemajuan dan pemulihan yang berbeda pula. Sebagian besar kemampuan fungsional para pengidap stroke memang dapat dipulihkan setelah stroke. Namun, pemulihan bisa terjadi secara berkelanjutan dan jangka panjang. Selain rehabilitasi, berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan guna meningkatkan kemampuan memori pada pengidap stroke:

  • Lakukan kebiasaan rutin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengerjakan kegiatan dalam waktu yang sama di setiap harinya.
  • Susun langkah-langkah sederhana sebagai panduan dalam melakukan kegiatan. Kegiatan yang dilakukan umumnya adalah kegiatan sehari-hari.
  • Biasakan untuk menyimpan barang di tempat yang sama seperti sebelumnya, agar mudah ditemukan saat dibutuhkan.
  • Mencatat apa yang perlu dilakukan atau diselesaikan.
  • Ulangi informasi secara berulang agar lebih melekat di ingatan.

Baca juga: Bisakah Trauma Psikologi Memicu Amnesia?

Itulah alasan demensia pada pengidap stroke bisa terjadi dan bagaimana langkah penanganan yang dapat dilakukan. Jika kamu ingin penjelasan yang lebih dalam terkait dengan demensia pada pengidap stroke, silahkan bertanya langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya.

Referensi:
American Stroke Association. Diakses pada 2020. Vascular Dementia.
Healthline. Diakses pada 2020. Can Stroke Lead to Dementia?