• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengapa Pengidap Thalasemia Harus Membatasi Konsumsi Zat Besi?

Mengapa Pengidap Thalasemia Harus Membatasi Konsumsi Zat Besi?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Mengapa Pengidap Thalasemia Harus Membatasi Konsumsi Zat Besi?

“Kelebihan zat besi bisa memberikan dampak negatif pada tubuh, terutama bagi mereka yang mengidap penyakit thalasemia. Zat besi yang berlebihan tersebut bisa memicu masalah pada jantung, paru-paru, dan hati. Dalam beberapa kasus, penumpukan zat pada berbagai organ vital bisa mengakibatkan kematian.”

Halodoc, Jakarta – Thalasemia adalah kelainan darah genetis dimana protein pada sel darah merah dalam tubuh tidak terbentuk. Akibatnya, sel darah merah mudah pecah, sehingga pengidap thalasemia pun rentan akan kekurangan darah (anemia). Untuk mengatasi kondisi ini pengidap thalasemia membutuhkan transfusi darah secara rutin. Akan tetapi, dalam beberapa kasus proses transfusi darah bisa menyebabkan kelebihan kadar zat besi dalam tubuh pengidapnya. 

Oleh sebab itu, pengidap thalasemia harus membatasi konsumsi makanan tinggi zat besi. Mengapa demikian? 

Baca juga: Jadi Penyakit Genetik, Ini Pemeriksaan Lengkap Thalassemia

Kelebihan Zat Besi Picu Berbagai Masalah

Kelebihan zat besi pada tubuh pengidap thalasemia bisa menyebabkan penumpukan zat besi yang jika dibiarkan akan menjadi timbunan. Timbunan yang berlebihan tersebut akan terjadi di berbagai organ vital pada tubuh. Seperti jantung, paru-paru, dan juga hati atau liver. Jika dibiarkan terus-menerus, fungsi utama organ vital yang tertimbun oleh zat besi akan terganggu. 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penumpukan zat pada berbagai organ vital bisa mengakibatkan kematian. Selain itu, anak yang mengidap thalasemia juga rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Pasalnya, selain mengganggu fungsi utama berbagai organ vital, penumpukan zat besi juga bisa menjadi media pertumbuhan kuman yang baik. 

Tidak hanya itu, terganggunya fungsi organ vital jika dibiarkan terus-menerus bisa menimbulkan komplikasi. Nah, berikut ini adalah beberapa komplikasi thalasemia yang rentan menghantui pengidapnya. 

  • Perawakan tubuh yang pendek hipogonadisme, atau bentuk muka muka yang berubah atau dikenal sebagai facies Cooley.
  • Terjadi osteoporosis akibat sumsum tulang bekerja keras untuk memproduksi sel darah merah. 
  • Adanya perdarahan yang diakibatkan kerusakan organ hati/liver.
  • Pembesaran limpa dan hati (akibat timbunan zat besi).
  • Infertilitas.
  • Gagal jantung.

Selain itu, salah satu dampak fatal yang bisa timbul akibat timbunan zat besi di jantung adalah gagal jantung. Hal ini bisa terjadi pada penderita thalasemia dan mengakibatkan kelainan pada otot jantung atau kardiomiopati. Jika jantung mengalami kondisi ini, maka kemampuan jantung untuk memompa darah dengan maksimal pun tidak tercapai. Kondisi ini bila dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan atau perawatan akan sangat berbahaya. Sebab dapat berujung pada gagal jantung hingga yang lebih fatal, yaitu kematian. 

Untuk itu, deteksi dini penumpukan zat besi pada tubuh penderita thalasemia sangatlah penting. Namun, perlu diketahui juga bahwa ada beberapa gejala awal yang mengindikasikan bahwa tubuh sedang kelebihan zat besi. Berikut ini adalah beberapa gejalanya, antara lain: 

  • Lemas.
  • Nyeri sendi.
  • Perubahan warna kulit, biasanya menjadi lebih gelap.
  • Menurunnya libido.
  • Pembesaran organ hati dan limpa.

Jika kamu merasakan gejala-gejala tersebut, maka ada baiknya segera periksakan ke dokter. Terutama bila kamu adalah pengidap thalasemia, pastikan untuk selalu mengecek kadar zat besi di tubuhmu. Guna menghindari berbagai komplikasi yang dampaknya bisa sangat fatal pada kesehatanmu. 

Baca juga: Pentingnya Mendampingi Anak yang Mengidap Thalasemia

Kenali Pola Makan yang Sehat Bagi Penderita Thalasemia

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran setiap saat, tentu pengidap thalasemia membutuhkan asupan gizi seimbang. Terutama pada pengidap yang masih berusia anak-anak untuk memaksimalkan pertumbuhannya.

Perlu diketahui juga agar penderita thalasemia perlu menghindari makanan yang bisa menjadi pantangan. Contohnya, makanan dengan kandungan zat besi yang tinggi seperti daging merah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko penumpukan zat besi pada organ-organ vital tubuh pengidapnya. 

Baca juga: Pengidap Thalasemia Dilarang Makan Daging Sapi, Mitos atau Fakta?

Lantas dari mana pengidap thalasemia dapat memenuhi asupan kebutuhan protein hariannya? Nah, pengidap thalasemia masih bisa memenuhi kebutuhan protein dari daging putih. Seperti ikan, ayam, dan udang. Selain itu, berbagai sumber protein lain seperti susu sapi dan telur juga bagus untuk menu pengidap thalasemia. Nah, jika kamu membutuhkan  obat atau vitamin terkait thalasemia atau keluhan lain, kamu bisa dengan mudah memesannya melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi sekarang melalui app store atau Google app store. 

Referensi:

CDC.gov. Diakses pada 2021. What is Thalassemia

IDAI. Diakses pada 2021. Mengenal Thalasemia 

WebMd. Diakses pada 2021. Thalassemia