• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Cancel Culture, Aksi Positif atau Sebatas Cyberbullying?

Mengenal Cancel Culture, Aksi Positif atau Sebatas Cyberbullying?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Twitter adalah salah satu platform media sosial yang sering mendatangkan kontroversi. Salah satu yang belakangan jadi trending adalah tagar RIP JK Rowling, aksi ini menjadi sorotan setelah JK Rowling berencana akan meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Trouble Blood yang melibatkan karakter transgender di dalamnya.

Sejak beberapa waktu belakangan diketahui bahwa JK Rowling mengemukakan pendapatnya yang kontroversial mengenai transgender, sehingga ia disebut sebagai transphobic (orang yang tidak menyukai keberadaan kaum transgender). Meski banyak yang menentangnya, hingga kini ia tetap pada pendapatnya. Tagar RIP JK Rowling pun dibuat warga Twitter untuk tidak menganggap lagi JK Rowling. 

Aksi seperti ini memang bukan yang pertama, dan secara luas dikenal sebagai cancel culture. Istilah ini memang cukup populer di antara penutur bahasa Inggris sejak beberapa tahun ke belakang dan dikhawatirkan bersifat politis. Bukan hanya selebriti dunia, hal ini juga menimpa banyak public figure di Indonesia. Lantas, apakah cancel culture ini tergolong dalam aktivitas yang positif? Atau apakah ini sebagai versi terbaru dari cyberbullying? Yuk, simak ulasannya berikut ini! 

Baca Juga: Orang Dewasa juga Rentan Jadi Korban Cyberbullying

Apa itu Cancel Culture?

Mengutip kamus Merriam-Webster, cancel culture dapat diartikan sebagai aksi pembatalan yang berkaitan dengan pencabutan dukungan terhadap tokoh masyarakat sebagai tanggapan atas perilaku atau pendapat yang tidak menyenangkan. Ini dapat mencakup boikot atau penolakan untuk mempromosikan pekerjaan mereka. 

Melakukan aksi cancel culture kepada seseorang (biasanya selebritas atau tokoh terkenal lainnya) berarti berhenti memberikan dukungan kepada orang tersebut. Tindakan pembatalan dapat mencakup pemboikotan film aktor atau tidak lagi membaca atau mempromosikan karya penulis. Alasan pembatalan bisa bermacam-macam, tetapi biasanya karena orang yang bersangkutan telah menyatakan pendapat yang tidak pantas, atau telah bertindak dengan cara yang tidak dapat diterima oleh kebanyakan masyarakat, sehingga jika masih berusaha untuk menikmati karya mereka, ada rasa tidak senang yang akan muncul. 

Untuk 'membatalkan' seseorang secara publik sering kali membutuhkan penyiaran tindakan, yang kemudian membuat target 'pembatalan' menjadi subjek perhatian. Tujuan di balik aksi ini sering kali untuk menyangkal perhatian itu, sehingga subjek akan kehilangan citra positif mereka. Mengutip Lisa Nakamura, seorang profesor di Department of American Cultures University of Michigan berkata, "Orang-orang berbicara tentang perhatian ekonomi - tetapi ketika Anda menghilangkan perhatian seseorang, maka Anda merampas mata pencaharian mereka."

Baca juga: Penyakit Anak Milenial Akibat Internet

Lantas, Apakah Cancel Culture Bisa Mengarah pada Cyberbullying? 

Cancel culture adalah sebuah gerakan yang sebetulnya dikhawatirkan bisa berkontribusi pada peningkatan polarisasi politik. Baik itu tweet atau klip video yang kontroversial, pengguna media sosial dengan cepat bisa menuntut pertanggungjawaban pada subjek. Namun, para kritikus menganggap bahwa hal ini bisa menjadi sebuah bentuk online shaming, yang kemudian bisa mengarah kepada cyberbullying

Cancel culture melibatkan upaya bersama untuk menarik dukungan untuk sosok atau bisnis yang telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan sampai mereka meminta maaf atau menghilangkan pandangan yang secara mayoritas dianggap keliru. 

Richard Ford, seorang profesor hukum di Stanford University California setuju bahwa beberapa aktivisme media sosial itu konstruktif dan sah, tetapi ia juga mengeluhkan bahwa cancel culture bisa membatasi perdebatan. Selain itu, hal ini juga bisa memengaruhi perilaku diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku ini juga dapat mendorong provokasi dan ekspresi kemarahan dan hampir sepenuhnya tidak mampu menyampaikan nuansa atau konteksnya. Richard juga menyebutkan bahwa terkadang tujuannya hanyalah kepuasan emosional saat menjatuhkan seseorang, yang mana ini bisa menjadi hal yang buruk. 

Keith Hampton, profesor media dan informasi di Michigan State University juga sependapat akan hal ini. Ia menyebutkan bahwa jika gerakan itu dilakukan secara sengaja untuk mencoba menyakiti orang, itu adalah hal yang kurang positif. 

Baca juga: Hati-Hati, Bullying Bisa Terjadi di Lingkungan Kerja

Kini bermain di media sosial memang perlu kehati-hatian, pasalnya ia bisa menjadi sumber masalah kesehatan mental. Salah satu hal yang perlu diingat adalah, jika kamu tidak memiliki hal yang baik untuk dikatakan, sebaiknya jangan katakan apapun. Selain itu, jika kamu merasa media sosial telah memengaruhi aspek kejiwaan, mungkin sudah saatnya kamu melakukan puasa media sosial untuk sementara waktu.

Jika hal ini belum berhasil, kamu bisa hubungi psikolog di Halodoc untuk mengutarakan masalah yang membuat kamu stres belakangan ini. Psikolog akan mencoba mendengarkan masalahmu dan memberikan saran-saran yang bisa kamu lakukan untuk membuat suasana hati kamu kembali baik. Tunggu apa lagi? Segera nikmati kemudahan bicara dengan psikolog melalui genggaman hanya di Halodoc!

Referensi:
Kompas. Diakses pada 2020. Rilis Buku tentang Transgender, Tagar RIP JK Rowling Trending di Twitter.
Merriam-Webster. Diakses pada 2020. What It Means to Get 'Canceled'.
The Jakarta Post. Diakses pada 2020. Cancel Culture: Positive Social Change or Online Harassment?
The New York Times. Diakses pada 2020. 10 Theses About Cancel Culture.