• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Fenomena FOMO, Benarkah Picu Gangguan Mental?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Fenomena FOMO, Benarkah Picu Gangguan Mental?

Mengenal Fenomena FOMO, Benarkah Picu Gangguan Mental?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 10 Agustus 2022

“Orang FOMO cenderung suka memantau media sosialnya agar tidak ketinggalan tren. Padahal, kebiasaan seperti ini bisa memicu kecemasan, kekhawatiran hingga depresi.”

Mengenal Fenomena FOMO, Benarkah Picu Gangguan Mental?Mengenal Fenomena FOMO, Benarkah Picu Gangguan Mental?

Halodoc, Jakarta – Fear Of Missing Out (FOMO) digambarkan sebagai rasa takut akan ketinggalan sesuatu yang baru, semisal berita, tren atau aktivitas lainnya. Fenomena ini semakin marak akibat penggunaan media sosial, seperti Instagram, Twitter hingga TikTok. 

Melalui aplikasi di atas, penggunanya bebas mengunggah foto atau video rutinitasnya. Postingan-postingan tersebut dapat memunculkan perasaan cemas kepada viewer. Pada akhirnya, mereka selalu membanding-bandingkan kehidupan dengan orang lain yang tampak lebih bahagia. 

Benarkah FOMO Bisa Memicu Gangguan Mental?

Dilansir dari Very Well Mind, penggunaan media sosial melalui smartphone dikaitkan dengan pengalaman FOMO yang lebih besar. Aktivitas tersebut dinilai meningkatkan rasa takut akan penilaian negatif maupun positif oleh orang lain yang pada akhirnya memengaruhi suasana hati. 

Orang dewasa dan remaja adalah kelompok individu yang paling rentan terhadap efek FOMO. Penelitian membuktikan kalau remaja yang FOMO lebih rentan mengalami jenis gangguan mental seperti kecemasan, depresi dan rendahnya tingkat kepercayaan diri. 

Mereka juga lebih mudah terlibat dalam perilaku berisiko, seperti seks bebas, narkoba dan perilaku negatif lainnya. Karena otak remaja masih dalam perkembangan, mereka bisa nekat melakukan tindakan seperti itu tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya.

Artikel lain yang diterbitkan di Computers and Human Behavior, mengungkapkan kalau sebagian besar tren yang bertebaran di media sosial mengurangi kepuasan hidup seseorang. Yang tadinya mereka merasa cukup bisa berubah menjadi selalu kekurangan alias bikin minder

Tanda Kamu Mengalami FOMO

Orang FOMO cenderung memantau media sosial setiap waktu seakan tidak mau ketinggalan berita atau gosip terbaru. Smartphone-nya hampir tidak pernah lepas dari genggaman tangan. 

Perilaku di atas membuat mereka lebih peduli dengan media sosial daripada kehidupan nyata. Lama- kelamaan muncul keinginan untuk diakui orang lain di dunia maya. Selain itu, orang FOMO juga selalu kepo alias ingin tahu kehidupan orang lain. 

Parahnya lagi, mereka bisa mengeluarkan uang melebihi kemampuan finansialnya. Mereka rela membeli hal yang sebenarnya tidak penting dengan dalih tidak mau ketinggalan tren. 

Orang-orang FOMO juga cenderung menerima ajakan meski dirinya sedang tidak ingin. Lagi-lagi, alasan tepatnya adalah karena tidak mau ketinggalan apa pun. 

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Fenomena ini mungkin terasa mustahil dihindari karena smartphone sudah menjadi kebutuhan setiap individu di zaman sekarang. Namun, FOMO tetap bisa diminimalisir, kok. Contohnya dengan membatasi penggunaan media sosial. 

Seperti dijelaskan sebelumnya, salah satu penyebab FOMO adalah postingan orang-orang di media sosial. Untuk menghindarinya, kurangi membuka media sosial dan gunakan smartphone seperlunya saja. Misalnya, hanya untuk menelepon atau mengirim pesan. 

Tips lainnya, fokus terhadap diri sendiri saja. Tanamkan sebuah mindset bahwa setiap orang tidak mungkin selalu bahagia. Ada kalanya mereka tertimpa masalah yang tidak kamu ketahui. Jadi, kamu tidak perlu membandingkan kehidupan yang kamu miliki dengan orang lain, ya. Sebab, setiap orang punya alur kehidupan yang berbeda-beda.

Manusia adalah makhluk sosial yang sejatinya membutuhkan orang lain. Alih-alih bersosialisasi lewat Instagram, jalin hubungan kamu dengan orang lain di kehidupan nyata. Perasaan negatif tersebut nantinya perlahan hilang ketika kamu mengutamakan koneksi nyata.

Terakhir, dari pada mencari pembuktian dari orang lain, fokus saja pada apa yang sedang kamu kerjakan saat ini. Syukuri hal-hal baik yang ada di hidup kamu sehingga tidak ada rasa kurang maupun iri dengan kehidupan orang lain. 

Apakah kamu sedang mengalami situasi FOMO? Kamu bisa lho, menghubungi psikolog melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan solusi tepat atas keadaan yang tengah kamu hadapi. Jangan ragu untuk hubungi psikolog, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2022. How to Deal With FOMO in Your Life.
Well and Good. Diakses pada 2022. Is FOMO a Diagnosable Mental Health Condition?