20 December 2018

Mengenal Plasenta Previa Penyebab Pendarahan pada Kehamilan

Mengenal Plasenta Previa Penyebab Pendarahan pada Kehamilan


Halodoc, Jakarta - Masa kehamilan merupakan kala di mana perempuan mengalami banyaknya perubahan dalam tubuhnya. Tak jarang perubahan ini menimbulkan berbagai masalah, baik fisik maupun psikis. Berbicara fisik, plasenta previa merupakan keluhan yang bisa menghantui ibu hamil. Kondisi ini bisa menimbulkan pendarahan pada kehamilan. Lalu, apa sih plasenta previa itu?

Nah, selama periode kehamilan, semestinya posisi plasenta berada di sepanjang bagian atas rahim. Akan tetapi, dalam beberapa kasus ada plasenta yang menempel di bawah rahim. Kondisi inilah yang nantinya dapat menutup jalan lahir bagi janin yang akan lahir.

Organ yang terhubung dengan bayi ini sebenarnya berfungsi untuk menyalurkan oksigen dan nutrisi untuk Si Kecil. Ibu hamil yang mengalami kondisi plasenta previa biasanya dilarang mengeluarkan banyak tenaga selama kehamilan.

Perdarahan Tanpa Rasa Sakit

Meski kasus plasenta previa bisa dibilang cukup jarang terjadi (1: 200 kehamilan pada trimester ketiga), tapi ibu tak boleh abai dengan gejala-gejala yang ditimbulkan. Sebab, risikonya bisa membahayakan ibu dan bayi di dalam kandungan.

Gejala utama plasenta letak rendah (plasenta previa) merupakan perdarahan pada kehamilan tanpa disertai rasa sakit. Dalam kebanyakan kasus, perdarahan ini terjadi pada tiga bulan terakhir masa kehamilan. Volume darah yang keluar bervariasi, bisa ringan dan bisa juga parah. Untungnya, perdarahan ini umumnya akan berhenti tanpa penanganan khusus.

Meski begitu, bisa saja ada kemungkinan akan terjadi lagi pada beberapa hari atau minggu kemudian. Dalam beberapa kasus, gejala plasenta previa juga bisa ditandai dengan kontraksi dan nyeri di punggung atau perut bagian bawah.

Namun yang perlu diingat, tak semua ibu hamil dengan plasenta letak rendah akan mengalami perdarahan. Kata ahli, bila ibu mengalami perdarahan pada kehamilan trimester kedua atau ketiga, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk memastikan kondisi kesehatan ibu dan janin.

Ibu mesti berhati-hati, plasenta previa ini terbukti memiliki risiko lebih tinggi untuk menyebabkan perdarahan sebelum dan setelah kelahiran, kelahiran prematur, hingga lepasnya plasenta dari rahim.

Ada Moyor dan Minor

Dalam kebanyakan kasus, ibu dengan plasenta previa harus menjalani persalinan caesar, tapi ada juga yang bisa melahirkan lewat persalinan normal. Prinsipnya, selama plasenta enggak menutupi jalan lahir dan tak ada penyulit, ibu tetap bisa melahirkan secara normal.

Nah, plasenta previa sendiri dibagi menjadi dua jenis. Pembagiannya berdasarkan posisi plasenta, yaitu minor dan mayor. Plasenta minor berarti sebagian plasenta menjulur ke rahim bagian bawah, tanpa menutupi lubang serviks. Sedangkan plasenta previa mayor justru sebaliknya, posisi plasenta menutupi lubang serviks.

Kedua kondisi ini juga bisa menentukan apakah ibu bisa melahirkan normal atau tidak. Ibu dengan plasenta previa minor, biasanya masih diperbolehkan untuk melahirkan normal. Sementara mayor akan membutuhkan tindakan caesar.

Cara Penanganannya

Cara penanganan masalah kehamilan ini meliputi istirahat sebanyak mungkin, transfusi darah (bila diperlukan), dan operasi caesar. Namun, langkah-langkah penanganan ini akan ditentukan berdasarkan beberapa faktor. Misalnya, usia kandungan, posisi plasenta dan bayi, terjadi perdarahan atau tidak, perdarahan berhenti atau tidak, tingkat keparahan perdarahan, hingga kondisi kesehatan ibu dan janin.

Untuk ibu yang tidak mengalami perdarahan atau sedikit, biasanya tak membutuhkan perawatan di rumah sakit. Meski demikian, ibu tetap harus waspada. Biasanya dokter akan menganjurkan ibu untuk istirahat di rumah, bahkan dianjurkan untuk terus berbaring. Ibu biasanya hanya dibolehkan duduk atau berdiri jika benar-benar diperlukan.

Dalam kondisi ini, hubungan intim dan olahraga juga sebaiknya perlu dihindari, sebab bisa memicu perdarahan. Nah, bila terjadi perdarahan ibu mesti segera ke rumah sakit sebelum perdarahannya semakin parah.

Sedangkan ibu yang mengalami perdaharan selama kehamilan, amat disarankan untuk menjalani sisa masa kehamilannya di rumah sakit (dari Minggu ke-34). Tujuannya jelas, agar pertolongan darurat (seperti transfusi darah) segera bisa dilakukan.

Punya keluhan pada kehamilan atau mengalami perdarahan pada kehamilan? Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: