• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Thalassophobia, Ketakutan pada Perairan Luas dan Dalam

Mengenal Thalassophobia, Ketakutan pada Perairan Luas dan Dalam

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Baru-baru ini, cuaca ekstrem membuat sejumlah wilayah di Indonesia dilanda banjir. Berbagai cerita tentang rumah yang kebanjiran pun datang dari kalangan selebriti dan publik figur. Desainer kondang, Dian Pelangi, adalah salah satu yang turut jadi korban banjir. 

Melalui unggahan Instagram Stories-nya, Dian membagikan momen ketika ia dan keluarga menerjang banjir di rumahnya, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Melalui unggahan tersebut, Dian terlihat ketakutan, dan mengaku bahwa ia mengidap thalassophobia. 

Baca juga: Ketakutan yang Berlebihan, Ini Fakta di Balik Fobia

Apa Itu Thalassophobia?

Thalassophobia adalah jenis fobia spesifik yang melibatkan rasa takut yang terus-menerus dan intens terhadap perairan luas dan dalam seperti lautan dan samudera. Apa yang membuat fobia ini berbeda dari aquaphobia, atau ketakutan akan air?

Jika aquaphobia melibatkan rasa takut akan air itu sendiri, thalassophobia berpusat pada badan air yang tampak luas, gelap, dalam, dan berbahaya. Pengidap thalassophobia tak sekadar takut pada air yang luas dan dalam, tetapi juga pada apa yang bersembunyi di bawah permukaannya.

Istilah thalassophobia berasal dari bahasa Yunani “thalassa” yang berarti laut, dan “phobos” yang berarti ketakutan. Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), fobia adalah jenis penyakit mental yang paling umum di Amerika Serikat. Sementara fobia spesifik cukup umum di antara populasi umum, tidak diketahui berapa banyak orang yang mengidap thalassophobia.

Thalassophobia umumnya dianggap sebagai jenis fobia lingkungan alamiah tertentu. Ketakutan terhadap lingkungan alam cenderung menjadi salah satu jenis fobia yang lebih sering dialami, dengan beberapa penelitian menunjukkan bahwa fobia terkait air cenderung lebih umum di antara wanita.

Baca juga: Ini 5 Penyebab Fobia Bisa Muncul

Tanda dan Gejala Thalassophobia

Sama halnya seperti jenis fobia lain, thalassophobia juga dapat memicu gejala kecemasan dan ketakutan fisik, serta emosional. Beberapa gejala fisik umum thalassophobia meliputi:

  • Pusing.
  • Sakit kepala ringan.
  • Mual.
  • Jantung berdebar kencang.
  • Napas cepat.
  • Sesak napas.
  • Berkeringat.

Sementara itu, gejala emosional dapat meliputi:

  • Menjadi kewalahan.
  • Perasaan cemas.
  • Merasa terpisah dari situasi.
  • Memiliki rasa takut ada malapetaka yang akan segera terjadi.
  • Merasa perlu segera melarikan diri.

Respons rasa takut ini dapat terjadi jika bersentuhan langsung dengan laut atau perairan dalam lainnya, seperti naik kapal laut, terbang di atas lautan dengan pesawat, bahkan juga saat menerjang banjir yang cukup dalam. Namun, tidak harus berada di dekat air untuk mengalami gejala.

Bagi sebagian orang, hanya membayangkan perairan luas dan dalam, melihat foto air, atau bahkan melihat kata-kata seperti "lautan" atau "danau" sudah cukup untuk memicu respons. Respons fobia lebih dari sekadar merasa gugup atau cemas. 

Bayangkan bagaimana perasaan saat terakhir kali dihadapkan pada sesuatu yang berbahaya. Kamu mungkin mengalami serangkaian reaksi yang mempersiapkan tubuh untuk bertahan dan menghadapi ancaman atau melarikan diri dari bahaya. Seseorang dengan thalassophobia akan mengalami reaksi yang sama bahkan jika responnya di luar proporsi bahaya yang sebenarnya.

Selain gejala fisik ketika bertemu dengan perairan dalam, orang dengan thalassophobia juga akan berusaha keras untuk menghindari berada di dekat atau bahkan harus melihat badan air yang besar. Mereka mungkin mengalami kecemasan antisipatif ketika mereka tahu bahwa mereka akan menghadapi objek ketakutan mereka, seperti merasa sangat gugup sebelum naik kapal feri dan bentuk perjalanan air.

Baca juga: Fobia pada Matematika, Benarkah Bisa Terjadi?

Tips Mengatasi Serangan Gejala Thalassophobia

Berurusan dengan thalassophobia bisa menjadi tantangan, tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan meredakan ketakutan, yaitu:

1.Strategi Relaksasi

Ketika mengalami gejala yang berhubungan dengan rasa takut sebagai respons terhadap air atau bahkan pikiran tentang air, cobalah teknik relaksasi untuk menenangkan pikiran dan tubuh, seperti:

  • Bernapas dalam-dalam.
  • Relaksasi otot progresif (PMR).
  • Visualisasi.

2.Self-Exposure

Meskipun perawatan di bawah arahan terapis adalah yang terbaik, kamu bisa melakukan pendekatan swadaya untuk menghadapi ketakutan kamu. Mulailah dengan membayangkan diri kamu berada di dekat perairan yang dalam, kemudian gunakan teknik relaksasi yang telah kamu latih untuk menenangkan diri.

Seiring waktu, secara bertahap, buka diri kamu ke sumber ketakutan, mulai dengan gambar, lalu perairan yang lebih kecil, dan akhirnya samudra, laut, atau danau besar. Setiap kali melakukannya, gunakan metode relaksasi untuk meredakan respons ketakutan.

Seiring waktu, ketakutan akan mulai mereda dan kamu akan merasa jauh lebih mudah untuk mencapai keadaan pikiran yang tenang. Namun, pastikan untuk selalu berhati-hati dan jangan pernah menempatkan diri sendiri dalam situasi yang berpotensi tidak aman. Kuncinya adalah hanya menghadapi ketakutan dalam lingkungan yang terkontrol dengan baik. 

Namun, jika merasa ragu bisa melakukannya sendiri, sebaiknya minta bantuan ahli. Kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan psikolog, kapan dan di mana saja, lalu utarakan semua keluhan dan gejala yang kamu rasakan.

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2021. Coping With the Fear of the Ocean.
The Healthy. Diakses pada 2021. You Might Have This Obscure Phobia—and Not Even Know It.
Healthline. Diakses pada 2021. How to Overcome Your Fear of the Ocean.