• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengidap Atresia Bilier, Ini yang Terjadi pada Tubuh Bayi

Mengidap Atresia Bilier, Ini yang Terjadi pada Tubuh Bayi

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Kondisi cacat lahir pada bayi memang cukup membahayakan. Salah satunya adalah atresia bilier yang bisa mengganggu kinerja sistem pencernaan bayi. Atresia bilier adalah kelainan bawaan lahir yang ditandai dengan gangguan saluran empedu pada bayi baru lahir. Meskipun cukup langka, namun kondisi ini perlu mendapat perawatan sesegera mungkin. 

Bayi yang lahir dengan atresia bilier mengalami penyumbatan pada aliran cairan empedu mereka. Alhasil, cairan ini menumpuk di dalam hati dan menyebabkan kerusakan hati permanen atau sirosis. Cara untuk menghindari kondisi berbahaya ini, penting untuk mengetahui tanda-tanda yang akan terjadi pada bayi.

Baca juga: Bayi Lahir Prematur Berisiko Mengidap Atresia Bilier

Gejala Atresia Bilier pada Bayi

Gejala atresia bilier tidak muncul langsung saat bayi dilahirkan. Umumnya, gejala akan mulai tampak saat bayi berusia 2 hingga 3 minggu. Nah, berikut ini hal yang akan terjadi pada tubuh bayi yang alami atresia bilier, yaitu:  

  • Bayi tampak kuning atau jaundice;
  • Urine berwarna gelap;
  • Perut bayi tampak membesar;
  • Tinja berwarna pucat dengan aroma yang sangat menyengat;
  • Berat badan bayi tidak naik, bahkan menurun;
  • Tumbuh kembang bayi yang terhambat.

Segera periksakan bayi ke rumah sakit terdekat jika gejala tersebut muncul pada bayi usia 2 hingga 3 minggu. Kamu bisa buat janji dengan dokter di Halodoc untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit yang lebih praktis. Ingat, penanganan yang dilakukan dengan cepat dan tepat adalah hal terbaik untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.

Baca juga: Serba-Serbi Bayi Kuning, Ini yang Perlu Diketahui

Penyebab dan Faktor Risiko Atresia Bilier pada Bayi

Atresia bilier bukan penyakit menurun ataupun menular. Hingga kini, para ahli masih mencari tahu apa yang menyebabkan penyumbatan ini terjadi pada bayi. Namun, menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, ada beberapa hal yang diduga kuat bisa menyebabkan terjadinya atresia bilier, yaitu: 

  • Perubahan genetik;
  • Gangguan sistem imun;
  • Gangguan perkembangan hati dan saluran empedu saat bayi masih dalam kandungan;
  • Paparan pada zat beracun selama kehamilan;
  • Infeksi virus atau bakteri.

Sementara itu, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan bayi mengalami atresia bilier seperti bayi yang terlahir secara prematur, keturunan Asia atau Afrika-Amerika, dan berjenis kelamin perempuan. 

Baca juga: Benarkah Penyembuhan Gagal Hati Hanya Transplantasi Hati?

Pengobatan Atresia Bilier

Salah satu penanganan yang bisa dilakukan untuk mengobati kondisi ini adalah pembedahan. Salah satu teknik operasi yang dapat dilakukan untuk menangani atresia bilier adalah teknik operasi Kasai yang akan dilakukan dengan metode konvensional atau menggunakan laparoskopi.

Melalui prosedur operasi Kasai, maka akan dilakukan penyambungan antara usus bayi ke hati mereka. Dengan begini, cairan empedu akan mengalir langsung dari hati ke usus. Tindakan ini akan memberikan hasil yang efektif jika dilakukan sebelum bayi berusia 2 hingga 3 bulan.

Pada kasus atresia bilier yang parah, hati bayi bisa rusak, bahkan menyebabkan gagal hati. Jika sudah begini, maka ia membutuhkan operasi transplantasi hati untuk bisa sembuh. Pada beberapa kasus, transplantasi hati perlu dilakukan meski bayi menjalani operasi Kasai. Ini dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih parah. 

Ingat, atresia bilier merupakan kondisi medis serius pada bayi yang perlu ditangani secepatnya. Jadi saat gejala seperti di atas muncul, maka pemeriksaan oleh dokter anak wajib segera dilakukan. Tujuannya agar kondisi ini dapat terdeteksi dan ditangani sebelum menimbulkan komplikasi atau kerusakan permanen pada organ hati.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.
WebMD. Diakses pada 2020. What is Biliary Atresia?