• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Meningkat Selama Corona, Ini Pencegahan Sindrom Patah Hati

Meningkat Selama Corona, Ini Pencegahan Sindrom Patah Hati

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan Science Daily, disebutkan kalau terjadi peningkatan pengidap sindrom patah hati selama pandemi corona. Sindrom patah hati atau stres kardiomiopati terjadi sebagai respons terhadap tekanan fisik atau emosional yang menyebabkan disfungsi atau kegagalan pada otot jantung.

Corona telah membuat banyak orang mengalami stres baik dari sisi kesehatan, masalah ekonomi, sosial, sampai mental, seperti kesepian dan isolasi. Stres memicu tekanan pada otot jantung salah satunya mengakibatkan sindrom patah hati. Simak penjelan lengkapnya di bawah ini!

Pencegahan Sindrom Patah Hati

Pencegahan sindrom patah hati bisa dilakukan dengan cara manajemen stres dan teknik relaksasi yang dapat membantu meningkatkan kesehatan psikologis dan fisik. Mengelola stres juga dapat ditingkatkan dengan olahraga dan obat-obatan bila diperlukan.

Baca juga: Wanita Ini Kena Sindrom Patah Hati Setelah Makan Wasabi, Kok Bisa?

Penting juga untuk menghindari pilihan buruk dalam mengelola, stres seperti alkohol, makan berlebihan, penggunaan obat-obatan, dan merokok. Hal-hal ini bukanlah solusi permanen dan malahan bisa menyebabkan masalah kesehatan tambahan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas yang bisa membantu mengelola stres yang pada akhirnya bisa membantu pencegahan sindrom patah hati. Berikut ini rekomendasinya:

1. Olahraga 

Aktivitas fisik adalah satu kegiatan penting yang bisa kamu lakukan untuk pencegahan stres. Manfaat yang bisa kamu dapatkan saat berolahraga secara teratur adalah mengurangi kecemasan. 

Olahraga menurunkan hormon stres dan membantu melepaskan endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati dan bertindak sebagai penghilang rasa sakit alami. Olahraga juga dapat meningkatkan kualitas tidur. Berolahraga secara teratur juga dapat membangun rasa percaya diri yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan mental.

2. Mengurangi Asupan Kafein 

Kafein adalah stimulan yang dapat meningkatkan kecemasan bila diminum terlalu sering. Setiap orang memiliki ambang batas yang berbeda seberapa banyak kafein yang bisa ditoleransinya. Jika kamu amati kalau konsumsi kafein membuatmu gelisah atau cemas, pertimbangkan untuk menguranginya.

Baca juga: Vaksin Corona Belum Tersedia, Begini Cara Tekan Angka Penularannya

3. Menghabiskan Waktu Bersama Orang-Orang Tersayang

Dukungan sosial dari teman dan keluarga serta orang-orang yang disayangi dapat membantu melewati masa-masa penuh tekanan seperti pandemi corona saat ini. Menghabiskan waktu bersama teman dan orang-orang tersayang dapat membantu melepaskan oksitosin sebagai pereda stres alami. 

4. Mendengarkan Musik atau Menonton Film Komedi

Menonton film komedi ataupun mendengarkan musik yang slow dan menenangkan dapat membantumu untuk rileks. Menonton film komedi dapat menghilangkan respons stres dan tertawa juga dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan suasana hati. Cobalah menonton film lucu ataupun mendengarkan musik yang kamu senangi untuk membangkitkan mood positif. 

Gejala Sindrom Patah Hati

Lonjakan hormon stres, seperti adrenalin dapat merusak jantung. Lonjakan hormon ini dapat memicu penyempitan arteri besar dan arteri kecil. Umumnya, sindrom patah hati ini sering didahului dengan peristiwa fisik atau emosional yang intens. 

Heart.org mencatat tanda dan gejala sindrom patah hati yang paling umum adalah angina (nyeri dada) dan sesak napas. Aritmia (detak jantung tidak teratur) dan syok kardiogenik. Syok kardiogenik adalah suatu kondisi di mana jantung tiba-tiba melemah sehingga tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kondisi ini bisa berakibat fatal jika tidak segera diobati. 

Perlu diketahui kalau gejala sindrom patah hati berbeda dengan serangan jantung. Pada sindrom patah hati, gejala muncul tiba-tiba setelah tekanan emosional atau fisik yang ekstrem. Berikut ini beberapa perbedaan lainnya:

1. Hasil EKG (tes yang mencatat aktivitas listrik jantung) tidak terlihat sama dengan hasil EKG untuk seseorang yang mengalami serangan jantung.

2. Tes darah tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan jantung.

3. Pemeriksaan tidak menunjukkan tanda-tanda penyumbatan di arteri koroner.

4. Tes menunjukkan gerakan balon dan jantung bilik kiri bawah yang tidak biasa (ventrikel kiri).

5. Waktu pemulihannya cepat, biasanya dalam beberapa hari atau minggu (dibandingkan dengan waktu pemulihan sebulan atau lebih untuk serangan jantung)

Tetap selalu jaga kesehatan di situasi pandemi corona, jika butuh informasi lebih jelas mengenai mengenai masalah kesehatan bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Referensi:
Heart.org. Diakses pada 2020. Is Broken Heart Syndrome Real?
Healthline. Diakses pada 2020. 16 Simple Ways to Relieve Stress and Anxiety.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Broken Heart Syndrome.
Science Daily. Diakses pada 2020. Researchers find rise in broken heart syndrome during COVID-19 pandemic.