• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Menstruasi Tidak Teratur? Awas Bisa Menandai Adanya PCOS

Menstruasi Tidak Teratur? Awas Bisa Menandai Adanya PCOS

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Katanya gangguan ovarium hanya dimonopoli oleh wanita lanjut usia saja. Faktanya, banyak kok wanita di usia subur yang mesti berhadapan dengan kondisi ini. Enggak percaya? Di Amerika Serikat contohnya, sekitar 5 juta wanita subur di sana dibikin khawatir oleh gangguan ovarium.

Nah, gangguan ovarium ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya sindrom polikistik ovarium (polycystic ovary syndrome/PCOS). Wanita yang mengidap PCOS umumnya akan mengalami gangguan menstruasi, bisa berupa siklus menstruasi yang tidak teratur. Lho, kok bisa?

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Cara Menangani Sindrom Polikistik Ovarium

Terganggunya Fungsi Indung Telur

Berbicara PCOS, tak ada salahnya melihat riwayat PCOS di Amerika Serikat yang datanya tercatat dengan rapi. Menurut jurnal di US National Library of Medicine National Institutes of Health, PCOS merupakan gangguan heterogen yang memengaruhi setidaknya 7 persen wanita dewasa.

Menurut National Institute of Health Office of Disease Prevention, PCOS memengaruhi sekitar 5 juta wanita usia subur di Amerika Serikat. Mau tahu biaya untuk perawatan dan manajemen PCOS per tahunnya? Jangan kaget, negara tersebut menghabiskan sekitar US$ 4 Miliar Dolar per tahun (Rp 55 triliun). Sangat banyak, bukan?

Kembali ke pertanyaan di atas, lalu apa hubungannya PCOS dengan menstruasi tidak teratur? Menurut ahli di National Institutes of Health - MedlinePlus, PCOS merupakan adanya kelainan pada hormon dan sistem metabolisme tubuh, sehingga fungsi indung telur terganggu.

Pengidap PCOS memiliki kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan. Berlebihnya adrogen ini bisa mengakibatkan ovarium atau indung telur memproduksi banyak kantong-kantong berisi cairan. Alhasil, sel telur tak berkembang sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur. Nah, kondisi inilah ujung-ujungnya bisa membuat periode menstruasi tidak teratur.

Sayangnya, sampai kini penyebab PCOS belum diketahui pasti. Akan tetapi, ada dugaan kuat kalau penyakit ini berkaitan dengan kondisi lain. Contohnya, sindrom metabolik atau resistensi insulin.

Baca juga: 3 Faktor Risiko yang Dapat Memicu Sindrom Polikistik Ovarium

Lalu, seperti apa sih gejala-gejala PCOS?

Dari Pertumbuhan sampai Penipisan Rambut

PCOS ini bisa menimbulkan sederet gejala pada pengidapnya. Nah, berikut gejala-gejala yang mesti diwaspadai.

  1. Pertumbuhan rambut yang berlebih pada wajah, dagu, bawah hidung (kumis), yang disebut dengan hirsutisme. Kondisi ini ditemukan pada 70 persen perempuan dengan PCOS.

  2. Siklus menstruasi tak teratur. Wanita dengan PCOS dapat mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi. Contohnya, dalam setahun ia hanya mengalami menstruasi sebanyak kurang dari 8 kali, atau siklus menstruasinya datang setiap 21 hari atau lebih sering. Dalam beberapa kasus, bahkan ada pengidapnya yang berhenti mengalami menstruasi sama sekali.

  3. Tonjolan daging bersifat jinak yang disebut skin tag, biasanya di daerah ketiak atau leher.

  4. Kulit menjadi gelap, terutama pada daerah lipatan leher, selangkangan, dan lipatan payudara.

  5. Jerawat pada wajah, dada, dan punggung bagian atas.

  6. Meningkatnya berat badan atau kesulitan menurunkan berat badan.

  7. Penipisan rambut atau kebotakan dengan pola kebotakan laki-laki

Baca juga: Cara Diagnosis Sindrom Polikistik Ovarium yang Sebaiknya Diketahui

Awasi Penyebab dan Penyakit Lainnya

Seperti penjelasan di atas, sampai kini penyebab PCOS belum diketahui pasti. Akan tetapi, ada dugaan kalau beberapa faktor seperti genetik memainkan peran di sini. Sebab, faktor genetik ini dikaitkan dengan terjadinya peningkatan androgen yang tinggi pada perempuan pengidap PCOS.

Hormon androgen ini sering disebut sebagai hormon laki-laki. Sebab, hormon ini sangat dominan dalam tubuh lelaki, sedangkan pada perempuan hormon ini hanya diproduksi dalam jumlah yang sedikit.

Androgen sendiri mengendalikan perkembangan fitur-fitur maskulin, seperti kebotakan androgen atau pola kebotakan laki-laki. Perempuan dengan PCOS akan memproduksi androgen lebih banyak dari normal. Nah, hal inilah yang akan menyebabkan ketidakseimbangan hormon.

Hal yang perlu digarisbawahi, jangan sekali-kali mengangga remeh PCOS, sebab bila tak awas PCOS bisa menimbulkan beberapa penyakit lain. Misalnya:

  • Sindrom metabolik.

  • Kadar lemak darah abnormal.

  • Gangguan menstruasi berupa perdarahan abnormal dari rahim.

  • Diabetes tipe 2.

  • Infertilitas.
  • Meningakatnya kadar kolesterol darah.

  • Tekanan darah tinggi, termasuk pada masa kehamilan.

  • Sleep apnea.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Polycystic ovary syndrome (PCOS).
US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses pada 2020. Polycystic Ovary Syndrome.