• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Merokok Bisa Meredakan Stres, Mitos atau Fakta?

Merokok Bisa Meredakan Stres, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Merokok Bisa Meredakan Stres, Mitos atau Fakta?

“Tak sedikit orang yang menggunakan rokok untuk atasi stres.  Nikotin menciptakan rasa relaksasi secara langsung, sehingga perokok berkeyakinan kalau nikotin dapat mengurangi stres dan kecemasan. Padahal, hal tersebut hanya efek sementara dan seseorang akan terus menerus merokok agar mendapat efek tersebut.”

Halodoc, Jakarta – Merokok terbukti dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Mulai dari penyakit paru-paru, jantung sampai kanker. Anjuran berhenti merokok pun mudah kamu temukan di  di ruang publik, layanan kesehatan, maupun media massa. Kendati demikian, masih banyak orang yang terjerat kebiasaan merokok. Salah satu yang sering dijadikan adalah rokok dinilai mampu meredakan stres.

Ketika seseorang merokok, nikotin mencapai otak dalam waktu sekitar sepuluh detik. Pada awalnya, nikotin meningkatkan suasana hati dan konsentrasi, mengurangi kemarahan dan stres, melemaskan otot dan mengurangi nafsu makan. Namun, pada kenyataannya ini hanyalah efek sementara dan seseorang akan terjebak di lingkaran setan untuk merokok terus menerus.

Baca juga: 5 Penyakit Ini Mengintai Perokok Aktif

Benarkah Merokok Bisa Meredakan Stres?

Dilansir dari laman Mental Health, penelitian membuktikan sebaliknya. Merokok  justru meningkatkan kecemasan dan ketegangan. Nikotin menciptakan rasa relaksasi secara langsung, sehingga perokok berkeyakinan kalau nikotin dapat mengurangi stres dan kecemasan. Perasaan ini bersifat sementara dan selanjutnya akan timbul gejala penarikan dan keinginan yang meningkat untuk merokok. Merokok mengurangi gejala penarikan, tetapi tidak mengurangi kecemasan ataupun stres.

Penggunaan nikotin lama kelamaan menyebabkan perubahan di otak, yang kemudian menyebabkan gejala penarikan ketika pasokan nikotin berkurang. Merokok untuk sementara mengurangi gejala penarikan ini dan karenanya dapat memperkuat kebiasaan tersebut.

Penelitian juga menunjukan kalau orang yang depresi dua kali lebih mungkin untuk merokok dibandingkan yang tidak depresi. Kebanyakan orang mulai merokok sebelum menunjukkan tanda-tanda depresi, jadi tidak jelas apakah merokok menyebabkan depresi atau depresi mendorong orang untuk mulai merokok. 

Nikotin merangsang pelepasan zat kimia dopamin di otak. Dopamin terlibat dalam memicu perasaan positif. Pada orang yang depresi, kandungan dopamin dalam otaknya cenderung rendah. Alhasil, orang tersebut menggunakan rokok sebagai cara untuk sementara meningkatkan pasokan dopamin. Namun, merokok justru mendorong otak untuk mematikan mekanisme pembuatan dopamin sehingga dalam jangka panjang pasokannya berkurang. Pada gilirannya, kondisi ini mendorong orang untuk merokok lebih banyak.

Tips Berhenti Merokok

Tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan merokok. Berhenti merokok secara tiba-tiba justru tidak akan efektif dan dapat memperburuk gejala penarikan. Bila kamu berkemauan untuk berhenti merokok, berikut beberapa tips yang bisa kamu coba:

1. Komitmen untuk berubah

Pikirkan atau bila perlu tuliskan hal apa saja yang bisa kamu peroleh jika tidak merokok, seperti kesehatan fisik yang lebih baik, napas yang lebih segar, konsentrasi yang lebih baik, dan lebih banyak uang untuk dibelanjakan untuk hal-hal lain. Dengan demikian, ini bisa memotivasi kamu untuk berkomitmen berhenti merokok.

Baca juga: Setelah Berhenti Merokok, Tubuh Tidak Langsung Bersih

2. Minta dukungan dari teman dan keluarga

Berhenti merokok bisa lebih mudah bila didukung oleh keluarga dan teman. Jika kamu tinggal dengan orang yang merokok, atau memiliki teman yang merokok, sarankan kepada mereka untuk berhenti bersama. Jika anggota rumah merokok, dorong mereka untuk tidak merokok di sekitar kamu atau meninggalkan rokok, asbak, atau pemantik api di tempat yang tidak kamu lihat.

3. Cari koping stres lainnya

Bila kamu sering menggunakan rokok untuk mengatasi stres, cari cara lain untuk mengatasinya. Beberapa hal yang bisa kamu coba contohnya meditasi dan latihan pernapasan, olahraga teratur, mengurangi alkohol, makan makanan yang seimbang, akupunktur, dan hipnosis. 

4. Hindari pemicu merokok

Buang semua produk tembakau atau hal-hal yang berhubungan dengan rokok, seperti pemantik api atau asbak. Ini dapat membantu kamu untuk mengurangi gejala penarikan. Identifikasi pula hal-hal apa saja yang memicu keinginan merokok, seperti di pesta atau setelah makan. Cobalah untuk menghindari situasi tersebut jika memungkinkan, atau rencanakan cara untuk melawan pemicu yang sulit dihindari. 

5. Bersiaplah untuk menghadapi gejala penarikan

Gejala penarikan bisa berupa sakit kepala, mual, lekas marah, gelisah, mengidam rokok, merasa sengsara, sulit berkonsentrasi, nafsu makan meningkat dan mengantuk. Minum lebih banyak jus buah segar atau air, makan lebih banyak makanan berserat tinggi,  kurangi kafein dan gula tambahan dapat membantu kamu dalam mengatasi gejala penarikan.

6. Jangan menyerah jika kambuh

Banyak orang yang gagal berhenti merokok akan kambuh. Namun, sebaiknya jangan menyerah dan jangan tunda untuk mencoba berhenti lagi. Gunakan kegagalan yang sebelumnya untuk mencari tahu apa yang salah dari prosesnya. Dengan demikian, kamu punya peluang yang lebih besar dalam kesempatan selanjutnya. 

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar Pemulihan dari Kecanduan Nikotin

Jika kamu butuh bicara dengan dokter terkait masalah merokok, kamu bisa menghubunginya lewat aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli dibidangnya akan membantu menjawab segala pertanyaan kamu. Download aplikasinya sekarang juga!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Mental Health. Diakses pada 2021. Smoking and mental health.
NHS. Diakses pada 2021. Stopping smoking for your mental health.