• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Anak Hiperaktif Pertanda Idap ADHD

Mitos atau Fakta, Anak Hiperaktif Pertanda Idap ADHD

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Melihat anak bertumbuh menjadi anak yang aktif membuat kebanyakan orangtua merasa senang. Namun, bagaimana bila anak terlalu aktif, bahkan bisa dikatakan hiperaktif? Hati-hati, anak yang hiperaktif mungkin saja mengidap attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

ADHD adalah salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling umum pada anak-anak. Gangguan ini biasanya pertama kali didiagnosis pada masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga ia dewasa. ADHD ditandai dengan perilaku hiperaktif dan impulsif yang melebihi normal. Anak dengan ADHD mungkin mengalami kesulitan untuk diam dalam waktu yang lama dan memusatkan perhatian mereka pada satu tugas.

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Ini 4 Penyebab ADHD pada Anak

Memahami Gejala Hiperaktif Pada Anak dengan ADHD

Dilansir dari National Institute of Mental Health, ada dua perilaku utama yang menjadi gejala ADHD, yaitu kurang perhatian dan hiperaktif-impulsif. Beberapa anak yang mengidap ADHD hanya memiliki salah satu perilaku, sementara yang lainnya menunjukkan perilaku kurangnya perhatian dan hiperaktif-impulsif. Namun, gejala ADHD yang paling umum muncul di usia pra sekolah adalah hiperaktif.

Sebenarnya wajar saja bila anak-anak mencari sedikit perhatian atau menunjukkan aktivitas motorik yang tidak fokus dan impulsif. Namun, anak dengan ADHD menunjukkan perilaku yang lebih parah, lebih sering, hingga dapat mengganggu atau mengurangi kemampuannya dalam belajar di sekolah maupun bersosialisasi dengan teman-teman.

Berikut gejala hiperaktif-impulsif yang mungkin ditunjukkan oleh anak dengan ADHD:

  • Gelisah dan tidak bisa duduk tenang di kursi mereka.
  • Meninggalkan kursi ketika mereka diharuskan untuk tetap duduk, seperti saat di ruang kelas.
  • Berlari-lari atau memanjat dalam situasi yang tidak sesuai.
  • Tidak bisa bermain atau melakukan hobi dengan tenang.
  • Terus bergerak atau bergerak secara otomatis.
  • Berbicara tanpa henti.
  • Sering mengucapkan jawaban sebelum pertanyaan diselesaikan, atau menyelesaikan kalimat orang lain atau berbicara tanpa menunggu giliran dalam percakapan.
  • Sulit untuk menunggu gilirannya.
  • Mengganggu orang lain, misalnya dalam percakapan, permainan, atau aktivitas.

Baca juga: Jangan Langsung Dimarahi, Ini Penyebab Anak Tidak Bisa Diam

Cara Mengenali Hiperaktif yang menjadi Pertanda ADHD

Meskipun hiperaktif adalah salah satu gejala utama ADHD, namun anak yang hiperaktif tidak selalu mengidap ADHD. Hiperaktif adalah kondisi yang banyak dialami anak-anak. Lantas, bagaimana caranya mengenali perilaku hiperaktif yang menjadi gejala ADHD?

Seorang anak baru bisa dikatakan mengidap ADHD bila menunjukkan perilaku kurang perhatian dan atau hiperaktif impulsif dalam waktu yang lama. Kondisi ini juga membuat anak tersebut kesulitan untuk berfungsi sehari-hari dan menyebabkan ia mengalami keterlambatan perkembangan untuk anak seusianya. 

Anak dengan ADHD biasanya berperilaku hiperaktif-impulsif di lebih dari dua tempat. Bila Si Kecil hanya bersikap hiperaktif selama di kelas, hal itu mungkin karena ia merasa bosan atau cemas.

Namun, untuk mendapatkan diagnosis yang pasti, ibu perlu memeriksakan anak hiperaktif pada dokter yang berlisensi, seperti dokter anak, psikolog atau psikiater dengan keahlian ADHD. Selain membantu mendiagnosis ADHD pada anak, dokter juga bisa memastikan bahwa gejala ADHD tidak disebabkan oleh kondisi medis atau kejiwaan lain.

Maka dari itu, apabila anak menunjukkan gejala mengarah pada ADHD, segera periksakan kondisi anak ke dokter. Ibu bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: 5 Tips Didik Anak dengan ADHD

Bagaimana Mengatasi Gejala Hiperaktif pada Anak dengan ADHD?

Bila anak didiagnosis mengidap ADHD, ada berbagai pilihan pengobatan untuk meredakan gejala dan membantu anak agar dapat menjalankan fungsinya sehari-hari dengan baik. Pilihan pengobatan untuk ADHD biasanya meliputi terapi perilaku, pemberian obat-obatan, edukasi atau latihan atau kombinasi dari ketiganya.

Melalui terapi, seorang terapis atau psikolog dapat membantu mengajar anak dengan ADHD untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri dan belajar berpikir sebelum bertindak. Terapis atau psikolog juga dapat membantu orangtua untuk untuk mencari cara yang lebih efektif untuk menangani perilaku hiperaktif anak mereka. 

Referensi:
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder.
Additude. Diakses pada 2020. ADHD or Just Hyperactive?
Checkup Newsroom. Diakses pada 2020. Does my hyperactive child have ADHD?