• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Belum Divaksinasi Berisiko Terkena Difteri

Mitos atau Fakta Belum Divaksinasi Berisiko Terkena Difteri

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang tidak boleh disepelekan. Penyakit ini awalnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Tetapi pada tahap lanjut, difteri dapat merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf pengidapnya. Bahkan dengan perawatan, difteri bisa mematikan, terutama pada anak-anak.

Salah satu upaya pencegahan difteri yang paling efektif adalah melalui vaksin. Tanpa vaksin, maka tubuh bisa rentan terserang bakteri penyebab difteri. 

Baca juga: Ini Alasan Difteri Termasuk Penyakit Berbahaya

Benarkah Belum Divaksinasi Berisiko Kena Difteri?

Difteri masih umum terjadi di negara-negara berkembang di mana tingkat imunisasinya masih rendah. Melansir dari Mayo Clinic, anak-anak di bawah usia 5 dan orang-orang di atas usia 60 di negara-negara berkembang sangat berisiko terkena difteri.

Nah, berikut sekelompok individu yang berisiko lebih tinggi tertular difteri, yaitu:

  • Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan vaksin.
  • Orang yang hidup dalam kondisi yang ramai atau tidak sehat.
  • Orang yang bepergian ke daerah di mana infeksi difteri lebih sering terjadi.

Melihat risiko-risiko di atas, vaksin dinilai amat penting dan pada faktanya, orang yang belum menerima vaksin sangat rentan tertular difteri. Vaksin difteri biasanya dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus dan batuk rejan (pertusis). Vaksin ini dikenal sebagai vaksin difteri, tetanus dan pertusis. 

Versi terbaru dari vaksin ini dikenal sebagai vaksin DTaP untuk anak-anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa. Vaksinasi terdiri dari serangkaian lima suntikan, biasanya diberikan di lengan atau paha kepada anak-anak yang berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan sampai anak berusia 4-6 tahun. 

Vaksin difteri efektif untuk mencegah difteri walaupun mungkin ada beberapa efek samping, seperti demam ringan, ketidaknyamanan, kantuk atau kelembutan di tempat suntikan setelah suntikan DtaP pada anak-anak. Vaksin DTaP sangat jarang menyebabkan komplikasi serius seperti reaksi alergi (gatal-gatal atau ruam timbul dalam beberapa menit setelah injeksi) pada anak-anak.

Baca juga: Benarkah Difteri Bisa Muncul Tanpa Gejala?

Kalau kamu atau Si Kecil punya kondisi medis tertentu seperti epilepsi dan ingin melakukan vaksin Dtap, sebaiknya bicara dengan dokter di aplikasi Halodoc terlebih dahulu terkait keamanannya. Lewat aplikasi Halodoc, kamu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Mengenal Bahaya Difteri Lebih Dalam

Difteri adalah suatu kondisi yang umumnya menular melalui kontak orang-ke-orang atau melalui kontak dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi bakteri di dalamnya, seperti cangkir atau tisu bekas. Kamu juga bisa terkena difteri jika berada di sekitar orang yang terinfeksi. Ketika pengidapnya bersin, batuk, atau meniup hidung, kamu berisiko tertular apabila droplet dari pengidap tersebut terhirup atau sekedar tersentuh.

Bahkan jika orang yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala difteri, mereka masih dapat menularkan infeksi bakteri hingga enam minggu setelah infeksi awal. Bakteri paling sering menginfeksi hidung dan tenggorokan. Setelah terinfeksi, bakteri melepaskan zat berbahaya yang disebut racun. Racun menyebar melalui aliran darah yang menghasilkan lapisan abu-abu tebal di area-area tubuh seperti hidung, tenggorokan, lidah, dan saluran udara.

Baca juga: Orangtua, Kenali 7 Gejala Difteri yang Dapat Menyerang Anak

Pada beberapa kasus, racun ini juga dapat merusak organ lain, termasuk jantung, otak, dan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa, seperti miokarditis, atau radang otot jantung, kelumpuhan sampai gagal ginjal.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diphtheria.
Healthline. Diakses pada 2020. Diphtheria.