• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Hemodialisis Bisa Picu Anemia
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Hemodialisis Bisa Picu Anemia

Mitos atau Fakta, Hemodialisis Bisa Picu Anemia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 23 Oktober 2020
Mitos atau Fakta, Hemodialisis Bisa Picu Anemia

Halodoc, Jakarta - Ketika ginjal sudah tidak bisa lagi berfungsi dengan baik, seperti pada pengidap gagal ginjal kronis, maka perlu dilakukan hemodialisis. Prosedur hemodialisis bekerja dengan cara menyaring limbah, garam, dan cairan dari darah, untuk menggantikan fungsi ginjal. Namun, hemodialisis bisa menimbulkan efek samping, salah satunya adalah anemia. 

Namun, sebenarnya bukan hanya karena hemodialisis saja anemia bisa terjadi. Pada dasarnya, anemia adalah salah satu komplikasi dari gagal ginjal. Seiring bertambah buruknya gagal ginjal yang dialami, ditambah dengan prosedur hemodialisis yang perlu dijalani, maka anemia cenderung memburuk.

Baca juga: 5 Kebiasaan Ini Bisa Sebabkan Gagal Ginjal

Gagal Ginjal dan Hemodialisis Bisa Picu Anemia

Seperti dijelaskan tadi, memang benar bahwa prosedur hemodialisis bisa memicu anemia. Namun, sebenarnya yang lebih patut “disalahkan” atas komplikasi ini adalah gagal ginjal yang dialami. Lalu, mengapa pengidap gagal ginjal sangat rentan mengalami anemia?

Hal ini karena pada kasus gagal ginjal, fungsi ginjal sudah terganggu. Selain menyaring darah, ginjal berfungsi untuk memproduksi EPO (erythropoietin), sebagai bahan pembentuk sel darah merah yang dihasilkan ginjal. Ketika ginjal mengalami kerusakan, organ ini tidak lagi bisa memproduksi EPO dalam jumlah cukup, sehingga sel darah merah yang dihasilkan akan sedikit.

Itulah sebabnya, pengidap gagal ginjal rentan sekali mengalami anemia berkepanjangan. Selain itu, anemia bisa terjadi akibat kehilangan darah dari hemodialisis dan kadar nutrisi pada makanan yang rendah, misalnya defisiensi zat besi, vitamin B12 dan asam folat. Beberapa nutrisi tersebut dibutuhkan sel darah merah untuk membentuk hemoglobin.

Baca juga: 6 Jenis Olahraga untuk Pengidap Sakit Ginjal

Untuk mengatasi anemia akibat gagal ginjal dan hemodialisis, dokter biasanya menganjurkan transfusi darah apabila kadar hemoglobin sangat rendah. Namun, pada kasus anemia yang ringan, dokter mungkin hanya akan memberi tambahan suplemen zat besi, asam folat, dan vitamin B12.

Efek Samping Hemodialisis Lainnya

Selain anemia, hemodialisis juga bisa menimbulkan berbagai efek samping lainnya, seperti:

  • Tekanan darah rendah. Terjadi karena adanya penurunan volume darah dan aktivasi kardiovaskular ke jantung ketika proses hemodialisis dijalankan. 
  • Kram otot. Meski penyebabnya tidak jelas, kram otot selama hemodialisis cukup sering terjadi.
  • Gatal-gatal. Efek samping ini sering terasa selama atau setelah prosedur hemodialisis.
  • Kesulitan tidur. Hal ini mungkin disebabkan oleh sleep apnea atau kaki yang sakit, tidak nyaman, atau gelisah.
  • Penyakit tulang. Jika ginjal yang rusak tidak mampu lagi memproses vitamin D dalam tubuh, tulang akan semakin melemah.
  • Tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi jika pengidap gagal ginjal mengonsumsi garam terlalu banyak. 
  • Hiperkalemia. Efek samping ini terjadi jika mengonsumsi lebih banyak kalium daripada yang disarankan. 
  • Amiloidosis. Terjadi ketika protein dalam darah disimpan pada sendi dan tendon, sehingga menyebabkan nyeri, kekakuan, dan cairan pada sendi. 

Baca juga: 7 Tanda Awal Penyakit Ginjal

Itulah sedikit penjelasan mengenai anemia sebagai komplikasi gagal ginjal dan hemodialisis, serta berbagai efek samping hemodialisis lainnya. Jika kamu punya pertanyaan lain mengenai hemodialisis, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, kapan dan di mana saja.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hemodialysis.
National Kidney Foundation. Diakses pada 2020. Hemodialysis.
Clinical Nephrology. Diakses pada 2020. Hypotension during hemodialysis results from an impairment of arteriolar tone and left ventricular function