• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Kernikterus adalah Penyakit Turunan

Mitos atau Fakta Kernikterus adalah Penyakit Turunan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Kernikterus adalah jenis kerusakan otak yang dapat terjadi pada bayi baru lahir. Penyebab penyakit ini adalah penumpukan bilirubin yang ekstrem di otak. Namun katanya, kernikterus juga merupakan penyakit keturunan, sehingga adanya riwayat penyakit tersebut dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seorang bayi terkena kernikterus. Benarkah demikian? Yuk, cek faktanya di bawah ini.

Bayi yang baru lahir sebenarnya wajar bila memiliki kadar bilirubin yang tinggi. Kondisi ini dikenal juga sebagai penyakit kuning. Sekitar 60 persen bayi mengalami penyakit kuning, karena tubuh mereka mereka tidak dapat mengeluarkan bilirubin dari dalam tubuh sebagaimana mestinya.  

Biasanya, penyakit kuning dapat hilang dengan sendirinya. Namun, ketika kadar bilirubin yang terlalu tinggi tidak cepat-cepat ditangani, kondisi ini berpotensi memicu terjadinya kernikterus yang menyebabkan kerusakan otak.

Baca juga: Jangan Disepelekan, Ini 5 Gejala Penyakit Kuning

Penyebab Kernikterus

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kernikterus disebabkan oleh kadar bilirubin yang sangat tinggi yang tidak diobati. Perlu diketahui, ada dua jenis bilirubin dalam tubuh:

  • Bilirubin tak terkonjugasi, yaitu jenis bilirubin yang bergerak dari aliran darah ke hati. Bilirubin ini tidak larut dalam air, sehingga dapat menumpuk di jaringan tubuh.

  • Bilirubin terkonjugasi, yang bilirubin tidak terkonjugasi yang sudah dikonversi di hati. Bilirubin terkonjugasi larut dalam air, sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui usus.

Bila bilirubin tak terkonjugasi tidak dikonversi dalam hati, bilirubin tersebut dapat menumpuk di tubuh.  Ketika kadar bilirubin tak terkonjugasi menjadi semakin tinggi, ia dapat keluar dari darah dan masuk ke jaringan otak. 

Bilirubin tak terkonjugasi dapat menyebabkan kernikterus bila sesuatu menyebabkannya menumpuk. Sedangkan bilirubin terkonjugasi tidak mengalir dari darah ke otak dan biasanya dapat dikeluarkan dari tubuh, sehingga bilirubin terkonjugasi tidak menyebabkan kernikterus.

Baca juga: Ini Cara Mendiagnosis Kernikterus pada Bayi

Faktor Keturunan Dapat Memicu Kernikterus

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami penyakit kuning yang parah dan kernikterus, antara lain:

  • Kelahiran Prematur. Ketika bayi lahir sebelum 37 minggu, organ hati mereka belum berkembang dengan sempurna, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghilangkan bilirubin secara efektif.

  • Kurang Mendapatkan Asupan Makanan. Bilirubin dibuang dalam tinja. Bila bayi tidak diberi asupan makanan yang cukup, proses pembentukan tinja menjadi lambat, sehingga kadar bilirubin dalam tubuh meningkat

  • Memiliki Riwayat Penyakit Kuning dalam Keluarga. Penyakit kuning bisa diturunkan dalam keluarga. Hal ini mungkin terkait dengan kelainan bawaan tertentu, seperti defisiensi G6PD yang menyebabkan sel darah merah terurai terlalu dini.

  • Lahir dari Seorang Ibu dengan Tipe Darah O atau Tipe Rh-negatif. Ibu dengan golongan darah ini kadang-kadang dapat melahirkan bayi yang memiliki kadar bilirubin tinggi.

Jadi, benar bahwa kernikterus merupakan penyakit keturunan, karena penyakit kuning yang menjadi penyebab kernikterus dapat diturunkan dalam keluarga. Bagi ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit kuning dalam keluarga, sebaiknya beritahukan pada dokter agar dokter dapat mewaspadai penyakit tersebut. Cara yang paling efektif untuk mencegah kernikterus adalah dengan menangani penyakit kuning sesegera mungkin. 

Bila bayi baru lahir menunjukkan tanda-tanda penyakit kuning, segera periksakan kadar bilirubin bayi ibu. Selain itu, penting juga untuk tetap melakukan kontrol dalam 2–3 hari pasca keluar dari rumah sakit.

Baca juga: Begini Prosedur Terapi Sinar untuk Tangani Kernikterus

Bila ibu ingin melakukan pemeriksaan terkait  masalah kesehatan yang dialami oleh anak, ibu bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihanmu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. What Is Kernicterus?