Mitos atau Fakta Obat Antipsikotik Picu Agranulositosis

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Mitos atau Fakta Obat Antipsikotik Picu Agranulositosis

Halodoc, Jakarta – Ada banyak mitos yang beredar terkait dunia kesehatan, salah satunya konsumsi obat tertentu yang sering dikaitkan dengan risiko gangguan kesehatan. Pada dasarnya, penggunaan obat bertujuan untuk melawan penyakit yang mengganggu kondisi tubuh. Namun tahukah kamu, berlebihan mengonsumsi jenis obat tertentu ternyata memang bisa memicu efek samping, salah satunya gangguan kesehatan. 

Salah satu jenis obat yang diketahui bisa memberi dampak tersebut adalah obat antipsikotik. Faktanya, mengonsumsi jenis obat yang satu ini bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami agranulositosis. Penyakit ini terjadi ketika sumsum tulang gagal membentuk granulosit, yaitu jenis sel darah putih yang terdiri dari neutrofil. Lantas, bagaimana cara obat antipsikotik memicu terjadinya penyakit agranulositosis? 

Baca juga: Waspadai 7 Penyebab Agranulositosis

Obat Antipsikotik bisa Memicu Agranulositosis

Salah satu penyakit yang bisa dipicu oleh penggunaan obat antipsikotik adalah agranulositosis. Kondisi ini terjadi karena sumsum tulang gagal membentuk granulosit yang berperan dalam melawan infeksi. Karena itu, tubuh tidak memiliki cukup granulosit dan risiko infeksi akan menjadi lebih tinggi. Selain konsumsi obat antipsikotik, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini. 

Antipsikotik merupakan golongan obat yang umum digunakan untuk menangani gangguan mental. Penggunaan obat jenis ini bisa membantu mengurangi gejala-gejala, misalnya pada pengidap bipolar, skizofrenia, gangguan kecemasan hingga depresi. Meski obat ini bisa membantu, konsumsi dalam jangka panjang ternyata bisa memicu gangguan kesehatan. 

Risiko terserang penyakit agranulositosis menjadi lebih tinggi pada pengguna obat antipsikotik. Penyakit ini terjadi saat sumsum tulang gagal membentuk granulosit. Normalnya, sumsum tulang bisa membentuk hingga 1.500 neutrofill per mikroliter darah. Sedangkan pada pengidap agranulositosis, terjadi gangguan pada produksi neutrofil, sehingga jumlah yang dihasilkan pun menurun. Pengidap penyakit ini umumnya hanya mampu menghasilkan tidak sampai 100 neutrofil per mikroliter darah.

Rendahnya jumlah neutrofil bisa membuat seseorang menjadi lebih berisiko mengalami infeksi berat. Tak hanya itu, kondisi ini juga bisa menyebabkan mikroba atau kuman yang sebelumnya tidak berbahaya berkembang dan mengancam kesehatan tubuh. Agranulositosis sangat berbahaya dan harus segera ditangani dengan tepat, sebab jika tidak ditangani agranulositosis bisa berujung pada hilangnya nyawa alias kematian pengidapnya. 

Baca juga: Begini Pemeriksaan Fisik untuk Diagnosis Agranulositosis

Penyakit agranulositosis membuat tubuh pengidapnya rentan terserang infeksi. Hal itu disebut bisa terjadi karena minimnya jumlah sel darah putih yang memiliki kemampuan untuk melawan serangan bakteri penyebab infeksi. Saat infeksi terjadi, gejala yang sering muncul adalah demam, lemas, sakit kepala, mudah berkeringat, menggigil, radang tenggorokan, gusi berdarah, serta sariawan yang tak kunjung sembuh. 

Infeksi yang parah ditandai dengan gejala napas tidak teratur, takikardia, serta tekanan darah yang rendah alias hipotensi. Jika dilihat dari penyebabnya, agranulositosis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agranulositosis kongenital yang merupakan cacat lahir atau diturunkan dari orangtua ke anak yang dilahirkan dan agranulositosis yang didapat akibat penyakit atau faktor tertentu. Selain itu, penyakit ini juga bisa muncul akibat sering konsumsi obat antipsikotik. Agranulositosis juga bisa disebabkan oleh kondisi autoimun, seperti lupus, penyakit sumsum tulang, hepatitis, HIV, serta paparan senyawa kimiawi pada tubuh.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengobati Agranulositosis?

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter di mana dan kapan saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Agranulocytosis.
Mind.org. Diakses pada 2019. Antipsychotics.
WebMD. Diakses pada 2019. Antipsychotic Medication for Bipolar Disorder.