• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang

Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
undefined

Halodoc, Jakarta – Sudah menjadi kewajiban untuk ibu hamil dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi, serta rutin mengecek kondisi kehamilan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan selama kehamilan, salah satunya adalah preeklamsia. Preeklamsia terjadi ketika ibu hamil mengalami peningkatan tekanan darah yang disertai adanya protein dalam urine. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini membahayakan bagi ibu maupun bayi dalam kandungan.

Baca juga: Hamil Setelah Preeklamsia, Ini 6 Hal yang Perlu Diperhatikan

Meskipun berbahaya, ibu sebaiknya mengetahui gejala lebih awal agar dapat segera ditangani dengan baik. Selain itu, kondisi ini dapat dicegah agar ibu terhindar dari preeklamsia. Lalu, apakah kehamilan pertama dengan preeklamsia meningkatkan risiko yang sama pada kehamilan kedua

Benarkah Preeklamsia Dapat Terjadi Berulang?

Pada dasarnya, preeklamsia bisa terjadi pada siapa saja. Dilansir dari American Pregnancy Association, ada beberapa kelompok ibu hamil yang rentan mengalami preeklamsia, seperti ibu yang menjalani kehamilan untuk pertama kali, memiliki riwayat keluarga dengan preeklamsia saat menjalani kehamilan, kehamilan kembar dua atau lebih, menjalani kehamilan di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun, memiliki tekanan darah tinggi atau gangguan ginjal, dan wanita dengan kondisi obesitas.

American Pregnancy Association juga mengatakan, wanita yang sudah pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan pertama, masih memiliki risiko untuk kembali mengalaminya di kehamilan kedua dan seterusnya. Lalu apa yang menyebabkan seorang ibu mengalami preeklamsia?

Dilansir dari National Health Service UK, preeklamsia dapat terjadi akibat adanya gangguan pada plasenta, yaitu ketika plasenta tidak berkembang dengan baik sehingga aliran darah antara ibu dan bayi untuk memasok oksigen dan sebaliknya menjadi terganggu.

Tentunya, gangguan pada plasenta memengaruhi pembuluh darah sang ibu yang menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. Tidak hanya itu, kondisi ini dapat menyebabkan terganggunya fungsi ginjal yang menyebabkan protein yang seharusnya berada dalam darah menjadi keluar bersama urine.

Baca juga: Ini Pemeriksaan untuk Deteksi Preeklamsia

Ibu, Kenali Gejala Preeklamsia untuk Mencegah Komplikasi

Ibu sebaiknya tidak perlu khawatir karena preeklamsia dapat dicegah. Ada beberapa pencegahan yang bisa ibu lakukan agar terhindar dari preeklamsia. Dilansir American Pregnancy Association, beberapa cara yang bisa ibu lakukan untuk mencegah preeklamsia dengan mengurangi mengonsumsi makanan yang terlalu asin, memenuhi kebutuhan cairan setiap harinya, mengurangi mengonsumsi makanan yang dimasak dengan digoreng, hindari makanan junk food atau cepat saji, penuhi kebutuhan istirahat, lakukan latihan ringan, dan hindari kebiasaan gaya hidup kurang baik.

Segera lakukan pemeriksaan pada rumah sakit terdekat ketika ibu merasakan beberapa gejala, seperti ibu mengalami sakit kepala terus-menerus, adanya gangguan penglihatan, pembengkakan pada kaki, tangan, dan wajah, sesak napas, merasa kelelahan terus-menerus, dan frekuensi buang air kecil menurun.

Sebelum pergi ke rumah sakit, sebaiknya buat janji dengan dokter untuk mempermudah pemeriksaan kesehatan yang ibu hamil jalani. Caranya cukup membuat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.

Ibu, jangan lupa juga untuk selalu mengontrol kandungan pada dokter kandungan secara rutin pada:

  1. Usia kehamilan 4 minggu – 28 minggu sebanyak 1 bulan sekali.
  2. Usia kehamilan 28 minggu – 36 minggu sebanyak 2 minggu sekali.
  3. Usia kehamilan 36 minggu – 40 minggu sebanyak 1 minggu sekali.

Baca juga: Ini 5 Cara Mengatasi Preeklamsia pada Ibu Hamil

Pengecekan rutin dilakukan agar ibu terhindar dari preeklamsia dan komplikasi yang mungkin dialami, seperti gangguan jantung pada ibu, solusio plasenta, pertumbuhan janin yang terhambat, dan kelahiran prematur.

 

Referensi:
American Pregnancy Association. Diakses pada 2020. Preeclampsia
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Preeclampsia
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2020. Preeclampsia dan Eclampsia
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Preeclampsia