• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta, Pria Bisa Mengalami Menopause

Mitos atau Fakta, Pria Bisa Mengalami Menopause

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Perubahan hormon adalah peristiwa alami dari penuaan. Menurunnya hormon reproduksi biasanya berbanding lurus dengan kesuburan seseorang. Pada wanita, hilangnya masa kesuburan ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi, kondisi ini lebih sering dikenal dengan menopause. 

Siapa sangka, ternyata pria juga bisa mengalami gejala yang mirip dengan menopause. Hal ini karena seiring bertambahnya usia, pria juga mengalami perubahan hormon seks secara bertahap. Berikut informasi seputar menopause pria yang mungkin belum pernah kamu ketahui. 

Baca juga: 4 Jenis Penyakit yang Rentan Dialami Lansia

Mengenal Menopause Pria Lebih Dalam

Bukan cuma mitos, kenyataannya pria juga bisa mengalami menopause. Namun, istilah "menopause pria" digunakan untuk menggambarkan penurunan kadar testosteron yang berkaitan dengan penuaan. Perubahan hormon terkait penuaan ini tentunya berbeda dengan wanita. Pada wanita yang menopause, tidak ada lagi ovulasi dan produksi hormon menurun selama periode waktu yang relatif singkat. 

Pada pria, produksi testosteron dan hormon lain menurun selama bertahun-tahun dan dampak maupun gejalanya belum tentu jelas. Penurunan kadar testosteron secara bertahap ini disebut hipogonadisme onset lambat atau testosteron rendah terkait usia. Dikutip dari laman Mayo Clinic, tingkat testosteron pria turun rata-rata sekitar 1 persen setiap tahun setelah menginjak usia 40 tahun. 

Rendahnya kadar testosteron ini seringkali tidak diperhatikan. Padahal, kadar testosteron dapat diperiksa dengan tes darah, tetapi tes ini tidak dilakukan secara rutin. Selain itu, banyak pria yang memiliki kadar testosteron rendah tidak mengalami gejala, sehingga kondisinya tidak pernah ditangani. Selain penambahan usia, penggunaan obat dan memiliki indeks masa tubuh yang tinggi juga bisa menurunkan kadar testosteron. 

Tanda Menurunnya Testosteron pada Pria

Meski gejalanya jarang disadari, berikut gejala umum dari menurunnya kadar testosteron pada pria, yaitu:

  • Hasrat dan aktivitas seksual mulai menurun;
  • Menurunya ereksi spontan atau mengalami disfungsi ereksi;
  • Ketidaknyamanan atau pembengkakan pada payudara;
  • Infertilitas;
  • Kepadatan mineral tulang rendah;
  • Berkeringat.

Gejala lain yang mungkin termasuk penurunan energi, motivasi dan kepercayaan diri, suasana hati tertekan dan konsentrasi yang buruk. Peningkatan rasa kantuk, gangguan tidur, anemia ringan yang tidak dapat dijelaskan, berkurangnya massa dan kekuatan otot, dan peningkatan lemak tubuh juga termasuk gejala penurunan testosteron.

Baca juga: Menopause, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui

Sebaiknya segera melakukan tes jika kamu mengalami tanda-tanda di atas. Jika tes awal menunjukkan testosteron rendah, tes harus diulang untuk mengkonfirmasi hasilnya. Jika testosteron rendah telah dikonfirmasi, pengujian lebih lanjut dari kelenjar hipofisis biasanya akan dianjurkan untuk menentukan penyebabnya dan menyingkirkan kekurangan hormon lainnya.

Jika kamu punya pertanyaan mengenai hal ini lebih lanjut, hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat aplikasi, kamu bisa menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Bagaimana Menangani Penurunan Testosteron?

Melansir dari WebMD, menurunnya testosteron dapat diatasi dengan terapi penggantian testosteron. Terapi ini dapat membantu meringankan gejala seperti, penurunan libido, depresi dan kelelahan. Seperti halnya terapi penggantian hormon pada wanita, terapi penggantian testosteron memiliki potensi risiko dan efek samping. Penggantian testosteron meningkatkan risiko kanker prostat dan penyakit jantung.

Baca juga: Cara Melewati Masa Menopause Tanpa Rasa Cemas

Apabila kamu sedang mempertimbangkan terapi pengganti androgen, bicarakan dengan dokter untuk mempelajari lebih lanjut. Dokter mungkin juga merekomendasikan gaya hidup tertentu atau perubahan lain untuk membantu mengatasi penurunan testosteron pada pria. Gaya hidup yang bisa dilakukan mungkin berupa pola makan sehat dan rutin berolahraga. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Male menopause: Myth or reality?
WebMD. Diakses pada 2020. Male "Menopause"