• Home
  • /
  • Mitos atau Fakta Sering Menatap Layar Ponsel Picu Mata Malas

Mitos atau Fakta Sering Menatap Layar Ponsel Picu Mata Malas

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Mitos atau Fakta Sering Menatap Layar Ponsel Picu Mata Malas

Halodoc, Jakarta – Kini hampir setiap saat orang-orang terpaku pada gadget yang mereka miliki. Baik itu anak-anak atau orang dewasa, sulit bagi mereka untuk bisa sehari saja tanpa gadget. Akibatnya, kekhawatiran akan penggunaan gadget kini banyak dirasakan banyak kalangan, mereka merasa smartphone kelak menyebabkan efek samping terutama pada mata. 

Mata malas atau amblyopia adalah kondisi yang sering dikaitkan dengan efek penggunaan gadget. Namun, benarkah hal yang demikian ini? Mari simak ulasannya berikut ini!

Baca juga: Benarkah Juling Bisa Sebabkan Mata Malas?

Mata Malas Akibat Penggunaan Ponsel

Mata malas adalah kondisi ketika otak lebih cenderung membuat salah satu mata saja yang bekerja, sementara mata yang satunya menjadi “malas”. Kondisi ini bisa terjadi akibat kualitas penglihatan pada satu sisi mata yang lebih buruk daripada mata yang lainnya, sehingga otak mengabaikan impuls dari mata yang lemah tersebut.

Mata malas bisa terjadi ketika kedua mata tidak digunakan secara seimbang dan dipicu oleh banyak hal. Salah satunya adalah kebiasaan buruk seperti terlalu sering bermain gadget yang menyebabkan gangguan penglihatan. Atau secara tiba-tiba seperti mengalami trauma yang menyebabkan kerusakan pada mata.

Ada berbagai pemicu yang bisa menyebabkan mata malas, yaitu: 

  • Mata juling (strabismus) yang tidak ditangani;

  • Faktor genetik, seperti riwayat keluarga dengan mata malas;

  • Perbedaan kemampuan penglihatan yang cukup jauh di antara kedua mata;

  • Turunnya kelopak mata;

  • Kekurangan vitamin A;

  • Ulkus kornea;

  • Operasi mata;

  • Gangguan penglihatan;

  • Glaukoma.

Baca juga: Periksa Mata Sejak Dini, Kapan Sebaiknya Mulai Dilakukan?

Lantas, Bagaimana Gejala Awal dari Mata Malas?

Jika masih dalam tahapan yang ringan, mata malas sulit untuk dideteksi. Biasanya kondisi ini baru terlihat ketika sudah parah. Namun, ada beberapa tanda atau gejala awal dari mata malas yang sebenarnya bisa terlihat, seperti:

  • Kecenderungan menabrak benda di satu sisi.

  • Mata yang ‘berlari’ ke mana-mana, baik sisi dalam atau luar.

  • Kedua mata kelihatan tidak bekerja bersama.

  • Kurangnya kemampuan memperkirakan jarak.

  • Penglihatan ganda.

  • Sering mengernyit.

Jika mengalami gejala tersebut, atau melihat seseorang, baik itu orang dewasa atau anak-anak mengalami gejala tersebut sebaiknya segera manfaatkan aplikasi Halodoc untuk berdiskusi dengan dokter mata. Jika gejala semakin parah dan mengganggu, sebaiknya buat janji dengan dokter mata di rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. 

Baca juga: Ini Nama Lain dari Mata Malas

Apa Saja Langkah Pengobatan Mata Malas? 

Langkah untuk mengobati mata malas, maka perlu dilakukan dengan cara mengatasi penyebabnya. Prinsipnya adalah membantu mata yang lebih lemah untuk berkembang menjadi normal. Apabila pengidap mengalami kelainan refraksi seperti rabun jauh atau rabun dekat, dokter mata meresepkan kacamata dengan ukuran yang tepat untuk setiap mata. 

Pengidapnya juga bisa menggunakan penutup mata untuk mata yang lebih sehat. Tujuannya untuk melatih mata yang lemah agar bisa lebih fokus untuk melihat dan perkembangan otak untuk mengontrol penglihatan pun terbantu. Penutup mata bisa digunakan selama 1-2 jam dalam sehari.

Sementara itu, jika mata malas terjadi akibat mata juling, maka dokter mata menyarankan operasi untuk memperbaiki otot mata tersebut. Semakin cepat mata yang malas diobati, maka semakin baik pula hasil pengobatannya. Jadi, jangan ragu untuk memeriksakan diri pada dokter mata, ketika mengalami gangguan penglihatan dalam bentuk apa pun.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Lazy Eye (Amblyopia).  
Healthline. Diakses pada 2019. Lazy Eye.