• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Sindrom HELLP Sebabkan Gagal Paru Bayi
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Sindrom HELLP Sebabkan Gagal Paru Bayi

Mitos atau Fakta Sindrom HELLP Sebabkan Gagal Paru Bayi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 31 Agustus 2020
Mitos atau Fakta Sindrom HELLP Sebabkan Gagal Paru Bayi

Halodoc, Jakarta - Ketika tengah mengandung, apa bumil pernah mengalami keluhan seperti sakit kepala, mual, muntah, lemas, nyeri perut pada bagian kanan atas, atau perdarahan? Tidak menutup kemungkinan kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya sindrom HELLP di tengah kehamilan.

Masih asing dengan sindrom ini, ya? Sindrom HELLP ini berkaitan dengan tiga hal. Pertama, hemolisis (H) adalah kerusakan atau hancurnya sel darah perah. Padahal, sel darah merah perannya amat vital, mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Kedua, elevated liver enzymes (EL) yaitu peningkatan kadar enzim yang dihasilkan organ hati. Terakhir, low platelets count (LP), rendahnya trombosit atau keping darah. 

Sampai kini penyebab sindrom HELLP belum diketahui secara pasti. Namun, preeklamsia atau eklamsia di masa kehamilan diduga bisa memicu terjadinya sindrom ini. Lalu, apa saja dampak sindrom HELLP bagi ibu atau janin? Benarkah sindrom HELLP bisa sebabkan gagal paru bayi? 

Baca juga: 5 Masalah Kesehatan yang Rentan Dialami Ibu Hamil

Bayi Kesulitan Bernapas

Jangan sekali-kali meremehkan penyakit ini. Sindrom HELLP yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati, bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa ibu dan bayi. American Pregnancy Association mengungkapkan, salah satu dampak sindrom HELLP pada bayi adalah Infant respiratory distress syndrome (lung failure) atau sindrom gangguan pernapasan bayi (gagal paru).

Menurut ahli di National Health Service - UK, Newborn respiratory distress syndrome (NRDS) ini terjadi ketika paru-paru bayi belum berkembang dengan sempurna, dan tak dapat menyediakan cukup oksigen. Alhasil, bayi akan mengalami kesulitan bernapas.

NRDS ini biasanya terjadi karena paru-paru bayi tak menghasilkan surfaktan yang cukup. Padahal, zat surfaktan ini berfungsi untuk mempertahankan kantong-kantong udara (alveoli) tetap mengembang. 

Hal yang perlu ditegaskan, meski Infant respiratory distress syndrome (lung failure) atau newborn respiratory distress syndrome memiliki nama yang mirip, tapi kedua kondisi ini tidak terkait dengan acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Bukan Cuma Gagal Paru

Gagal paru pada bayi atau infant respiratory distress syndrome bukan satu-satunya komplikasi sindrom HELLP yang perlu diwaspadai. Sindrom HELLP ini juga bisa menimbulkan komplikasi serius untuk ibu hamil.

Nah, berikut ini dampak sindrom HELLP lainnya pada ibu hamil, menurut ahli di American Pregnancy Association:

  • Abruptio Plasenta, ketika terjadi pemisahan antara plasenta dari lapisan uterus.
  • Edema Paru (penumpukan cairan di paru-paru).
  • Koagulasi intravaskular diseminata (masalah pembekuan darah yang menyebabkan perdarahan).
  • Ruptur hematoma pada bagian hati.
  • Gagal ginjal akut.
  • Intrauterine growth restriction (IUGR) atau pertumbuhan janin terhambat.
  • Kehilangan cukup banyak darah sehingga membutuhkan transfusi darah.

Baca juga: Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Sindrom HELLP pada Ibu Hamil

Sesak Napas sampai Nyeri Punggung

Mau tahu angka kejadian dari masalah kehamilan ini? National Institutes of Health (NIH) mengatakan, sindrom HELLP ini terjadi pada 1-2 dari 1.000 kehamilan. Namun, risiko kejadiannya bisa meningkat menjadi 10-20 persen, bila bumil mengalami preeklamsia atau eklamsia

Masih menurut NIH, umumnya sindrom ini terjadi pada trimester tiga kehamilan, atau usia 26-40 minggu. Meski begitu dalam beberapa kasus sindrom HELLP ini juga bisa terjadi setelah bumil melahirkan. 

Lantas, seperti apa gejala sindrom HELLP yang mungkin dialami pengidapnya? Bumil yang berhadapan dengan sindrom HELLP akan mengalami gejala seperti pengidap preeklamsia atau eklamsia. Namun, gejala sindrom HELLP ini bisa berkembang seiring bergulirnya waktu, seperti: 

  • Sesak napas.
  • Sakit kepala.
  • Kejang, pada kasus yang berat.
  • Retensi cairan, pembengkakan tubuh seperti pada wajah atau kaki. 
  • Penambahan berat badan.
  • Mual, muntah, nyeri ulu hati setelah makan.
  • Perasaan tidak nyaman dan nyeri pada bagian perut kanan atas karena pembesaran hati.
  • Mimisan atau pendarahan lain yang tak berhenti dengan mudah (jarang terjadi).
  • Penglihatan kabur.
  • Nyeri pada punggung saat menarik napas dalam.

Maka dari itu, jangan sepelekan sindrom HELLP ini. Jika bumil mengalami beberapa gejala tersebut, segera tanyakan pada dokter atau memeriksakan diri ke rumah sakit pilihan. Agar lebih praktis, ibu bisa membuat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc, sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit.

Referensi:
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. HELLP Syndrome.
American Pregnancy Association. Diakses pada 2020. HELLP Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2020. What is HELLP Syndrome? 
Web MD. Diakses pada 2020. What is HELLP Syndrome?