• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos dan Fakta Terkait Coronavirus

Mitos dan Fakta Terkait Coronavirus

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui mengakibatkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat, yaitu Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Terkait dengan laporan kasus pneumonia misterius di Wuhan, Tiongkok, yang tidak diketahui penyebabnya pada 31 Desember 2019, maka pada 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama virus baru tersebut Severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya sebagai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Ada mitos dan fakta yang terkait dengan COVID-19. Apa saja? Berikut pembahasannya!

  • COVID-19 Berbeda dengan Virus SARS

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2 ini masuk ke dalam keluarga virus corona.  Virus SARS merupakan coronavirus yang diidentifikasi pada tahun 2003 dan termasuk dalam keluarga besar virus corona. Namun, virus SARS berbeda dengan SARS-CoV-2. 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

  • Gejala Ringan hingga Berat

COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang, ataupun berat. Gejala klinis utama yang muncul, yaitu demam (suhu >38 derajat Celsius), batuk, dan kesulitan bernapas. Selain itu, dapat disertai dengan sesak memberat, fatigue, mialgia, gejala gastrointestinal, contohnya diare dan gejala saluran napas lain. 

Setengah dari pasien timbul sesak dalam satu minggu. Pada kasus berat perburukan secara cepat dan progresif, seperti ARDS, syok septik, asidosis metabolik yang sulit dikoreksi, dan perdarahan atau disfungsi sistem koagulasi dalam beberapa hari. Pada beberapa pasien, gejala yang muncul ringan, bahkan tidak disertai dengan demam. Kebanyakan pasien memiliki prognosis baik dengan sebagian kecil dalam kondisi kritis, bahkan kehilangan nyawa.

Baca juga: WHO: Gejala Ringan Corona Bisa Dirawat di Rumah

  • Orang yang Rentan Terkena

Ketika seseorang yang mengidap COVID-19 batuk atau menghembuskan napas, mereka melepaskan tetesan cairan yang terinfeksi. Kebanyakan tetesan ini jatuh pada permukaan dan benda di dekatnya, seperti meja atau telepon. Orang lain terkena COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi, kemudian menyentuh mata, hidung, ataupun mulut.

Jika mereka berdiri dalam jarak 1 atau 2 meter dari seseorang yang terkena COVID-19, maka dapat terkena virus melalui batuk atau hembusan napas pengidap. Dengan kata lain, COVID-19 menyebar serupa dengan cara penyebaran flu. Sebagian besar orang yang terinfeksi COVID-19 mengalami gejala ringan dan sembuh. Namun, beberapa berlanjut ke penyakit yang lebih serius dan mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit. 

Risiko penyakit serius meningkat sesuai dengan usia, yaitu orang di atas 40 tahun tampaknya lebih rentan daripada mereka yang di bawah 40. Orang dengan yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah dan orang-orang dengan kondisi, seperti diabetes, penyakit jantung, dan paru-paru juga lebih rentan tertular menjadi penyakit serius.

  •  Penyebaran Massif

Orang yang berusia lanjut dan dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti, diabetes, dan penyakit jantung), biasanya lebih rentan terkena COVID-19 dan bisa berdampak menjadi sakit parah. Sejak muncul pada akhir Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok, menurut data real-time dari Johns Hopkins CSSE (26 Maret 10:35 WIB), virus ini sudah menyebar ke 175 negara di berbagai dunia, di mana sebanyak 470.973 orang terjangkit virus corona terbaru, SARS-CoV-2. Korban meninggal dunia sebanyak 21.293 orang, sedangkan 114.444 orang sudah sembuh dari serangan virus ini.

  • Penularan dari Hewan ke Manusia

Virus Corona merupakan penyakit zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika juga telah menegaskan mengenai hubungan antara kelelawar dan virus Corona. Sebenarnya virus corona jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia dan menyebar ke individu lainnya. Namun, kasus di Tiongkok kini menjadi bukti nyata kalau virus ini bisa menyebar dari hewan ke manusia. 

  • Hewan Peliharaan Bisa Tertular COVID-19

Virus corona terbaru yang menyebabkan penyakit COVID-19 ternyata tak hanya menular dari manusia ke manusia, tetapi juga dari manusia ke hewan. Berdasar laporan otoritas kesehatan Hong Kong, seekor anjing milik pasien COVID-19 terjangkit virus corona terbaru, SARS-CoV-2. Hasil pemeriksaan anjing ras Pomeranian tersebut menunjukkan infeksi weak positive atau “lemah positif”. Maksudnya, anjing tersebut terjangkit virus corona, tetapi hanya sebatas pada permukaan tubuhnya. 

  • Mengurangi Risiko Terjangkit COVID-19

Hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus Corona. Namun, ada beberapa upaya yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi risiko terjangkit COVID-19. Berikut ini cara yang bisa kamu lakukan: 

  1. Sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik hingga bersih.
  2. Hindari menyentuh hidung, mulut, dan wajah saat tangan dalam keadaan kotor atau belum dicuci.
  3. Tidak kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sakit.
  4. Tidak menyentuh hewan atau unggas liar. 
  5. Membersihkan dan mensterilkan permukaan benda yang sering digunakan. 
  6. Tutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk dengan tisu. Kemudian, buanglah tisu dan cuci tangan hingga bersih. 
  7. Jangan keluar rumah dalam keadaan sakit.
  8. Kenakan masker bila flu dan batuk dan segera berobat ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala penyakit saluran napas. 
  • Lama SARS-CoV-2 dapat Bertahan di Benda Mati

Sampai saat ini belum diketahui berapa lama SARS-CoV-2 bertahan di permukaan suatu benda mati, meskipun ada informasi awal yang menunjukkan dapat bertahan hingga beberapa jam. Namun, disinfektan sederhana dapat membunuh virus tersebut, sehingga tidak mungkin menginfeksi orang lagi.

  • Belum Ditemukan Vaksin untuk COVID-19

Belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk COVID-19. Namun, gejala yang ditimbulkan dapat diobati. Oleh karena itu, pengobatan harus didasarkan pada kondisi klinis pasien dan perawatan suportif dapat sangat efektif.

  • Antibiotik Tidak Bekerja Melawan COVID-19

Tidak, antibiotik tidak bekerja melawan virus, hanya bakteri. COVID-19 disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak boleh digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan. Namun, jika kamu dirawat di rumah sakit untuk COVID-19, kamu mungkin menerima antibiotik, karena infeksi sekunder bakteri mungkin terjadi.

  •  Orang yang Berisiko Terinfeksi COVID-19

Orang yang tinggal atau bepergian di daerah di COVID-19 bersirkulasi sangat mungkin berisiko terinfeksi. Saat ini, Tiongkok merupakan negara terjangkit COVID-19 dengan sebagian besar kasus telah dilaporkan. Mereka yang terinfeksi di negara lain adalah orang-orang yang belum lama ini bepergian dari Tiongkok, atau yang telah tinggal atau bekerja secara dekat dengan para wisatawan, seperti anggota keluarga, rekan kerja, ataupun tenaga medis yang merawat pasien sebelum mereka tahu bahwa pasien tersebut mengalami COVID-19. Oleh karena itu, petugas kesehatan yang merawat pasien COVID-19 berisiko lebih tinggi dan harus konsisten melindungi dirinya sendiri dengan prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat.

Baca juga: Cara Hadapi Ancaman Virus Corona di Rumah

  • Orang yang Rentan Tertular COVID-19

Tidak ada batasan usia orang-orang dapat terinfeksi COVID-19. Namun, orang yang lebih tua dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung)  lebih rentan untuk menderita sakit parah.

  •  Perbedaan Influenza Biasa dengan COVID-19

Orang yang terinfeksi COVID-19 dan influenza akan mengalami gejala infeksi saluran pernapasan yang sama, seperti demam, batuk, dan pilek. Walaupun gejalanya sama, tetapi penyebab virusnya berbeda-beda. Namun, kesamaan gejala tersebut membuat kita sulit mengidentifikasi masing-masing penyakit tersebut, sehingga pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk mengonfirmasi apakah seseorang terinfeksi COVID-19. 

Untuk itulah, WHO merekomendasikan setiap orang yang menderita demam, batuk, dan sulit bernapas harus mencari pengobatan sejak dini, dan memberitahukan petugas kesehatan jika mereka telah melakukan perjalanan dalam 14 hari sebelum muncul gejala, atau jika mereka telah melakukan kontak erat dengan seseorang yang sedang menderita gejala infeksi saluran pernapasan.

  •  Waktu Inkubasi COVID-19 dalam Tubuh Manusia

Waktu yang diperlukan sejak tertular/terinfeksi, hingga muncul gejala disebut masa inkubasi. Saat ini masa inkubasi COVID-19 diperkirakan antara 2–11 hari, dan perkiraan ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan kasus. Berdasarkan data dari penyakit akibat coronavirus sebelumnya, seperti MERS dan SARS, masa inkubasi COVID-19 juga bisa mencapai 14 hari.

  • Orang yang Positif COVID-19 Bisa Menularkan ke Orang Lain

Sangat penting untuk memahami kapan orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus ke orang lain untuk upaya pengendalian. Informasi medis terperinci dari orang yang terinfeksi diperlukan untuk menentukan periode infeksi COVID-19. Menurut laporan terbaru, ada kemungkinan orang yang terinfeksi COVID-19 dapat menular sebelum menunjukkan gejala yang signifikan. Namun, berdasarkan data yang tersedia saat ini, sebagian besar yang menyebabkan penyebaran adalah orang-orang yang memiliki gejala.

Bila mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2020. 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV), Wuhan, China.

Halodoc. Diakses pada 2020. Coronavirus.

South China Morning Post. Diakses pada 2020. Coronavirus: dog of Hong Kong Covid-19 patient tests ‘weak positive’.

The GISAID  Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Diakses pada Januari 2020. 2019-nCoV Global Cases (by Johns Hopkins CSSE).

IDI - Siaran Pers Ikatan Dokter Indonesia. Diakses pada 2020. Outbreak Pneumonia Virus Wuhan.