Inilah Mitos Kesehatan yang Keliru Tetapi Dipercaya (Bagian 1)

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Inilah Mitos Kesehatan yang Keliru Tetapi Dipercaya (Bagian 1)

Halodoc, Jakarta - Sejak kecil mungkin orangtua meminta kita untuk melakukan banyak hal demi menjaga kesehatan. Misalnya minum delapan gelas sehari, tidak langsung makan setelah berenang supaya perut tidak mengalami kram, dan masih banyak lagi. Semakin dewasa, kamu mungkin sadar bahwa nasihat orangtua tentang mitos kesehatan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Penelitian di bidang kesehatan tidak pernah berhenti dilakukan, namun sayangnya tidak semua informasi kesehatan tersampaikan dengan tepat. Nah, berikut ini beberapa mitos kesehatan yang keliru namun masih banyak dipercaya orang. Apa saja? Simak ulasannya berikut!

Baca juga: Mitos dan Fakta Unik Tentang Kesehatan Mental Anak

Susu Memiliki Segudang Manfaat 

Anggapan bahwa susu adalah produk yang kaya manfaat sebetulnya hanya keberhasilan mereka dalam membuat iklan sehingga membuat masyarakat luas percaya. Departemen Pertanian AS sempat menyarankan bahwa orang dewasa wajib minum tiga cangkir susu sehari untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara minum lebih banyak susu atau suplemen kalsium dan vitamin D dengan berkurangnya risiko patah tulang. 

Makanan Organik Terjamin Bebas Pestisida dan Lebih Bergizi

Kenyataannya makanan organik tidak sepenuhnya bebas dari pestisida dan mereka tidak selalu lebih baik untuk kesehatanmu. Petani yang menanam produk organik diizinkan menggunakan bahan kimia yang berasal dari alam. Pada beberapa kasus justru mereka lebih buruk bagi lingkungan daripada jenis pestisida sintetis. Makanan organik tidak selamanya memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan makanan non-organik. 

Makanan yang Jatuh ke Lantai Kurang dari 5 Detik Masih Aman Dikonsumsi 

Ini adalah mitos terburuk yang sayangnya hingga kini masih saja banyak dipercaya orang.  Aturan lima detik bukan hal yang benar karena bakteri dapat mencemari makanan dalam milidetik. Berdasarkan Tes Mythbusting, makanan lembap juga menarik lebih banyak bakteri daripada makanan kering, tetapi terbukti bahwa tidak pernah ada durasi aman. Sebaliknya, keamanan tergantung pada seberapa bersih permukaan tempat kamu menjatuhkan makanan.

Baca juga: Mitos dan Fakta Tentang Kulit dan Jerawat

Makan Cokelat Bikin Jerawat Muncul

Dalam sebuah penelitian selama satu bulan, para ilmuwan memberi makan lusinan permen yang mengandung 10 kali jumlah cokelat biasa, dan lusinan batang cokelat palsu lainnya. Ketika mereka menghitung jerawat sebelum dan setelah mengonsumsi cokelat, nyatanya tidak ada "perbedaan" antara kedua kelompok. Baik cokelat maupun lemak tidak berpengaruh pada jerawat. Terpenting adalah selalu menjaga kebersihan wajah.

Konsumsi Apel Tiap Hari Baik untuk Kesehatan

Kamu mungkin pernah dengar istilah "An apple a day keeps the doctor away". Tetapi anggapan ini tidak selamanya benar. Apel dikemas dengan vitamin C dan serat, keduanya penting untuk kesehatan jangka panjang, tetapi nutrisi ini tidak selamanya kamu butuhkan.

Saat virus atau bakteri tertentu menyerang tubuhmu, sebuah apel sayangnya tidak melakukan apa pun untuk melindungi kamu atau tidak juga memperkuat sistem imun tubuhmu. 

Kopi Menghambat Pertumbuhan

Sebagian besar penelitian tidak menemukan korelasi antara konsumsi kafein dan pertumbuhan tulang pada anak-anak. Sementara pada orang dewasa, para peneliti telah melihat bahwa peningkatan konsumsi kafein memang sedikit membatasi penyerapan kalsium, tetapi dampaknya sangat kecil. Sehingga satu sendok makan susu akan lebih dari cukup mengimbangi efek dari secangkir kopi. Media tampaknya bertanggung jawab atas mitos ini. 

Baca juga: Kenali Fakta dan Mitos Seputar Kesehatan Gigi dan Mulut

Masih ingin tahu lebih banyak mengenai fakta dan mitos kesehatan lain? Kamu bisa chat dengan dokter di Halodoc untuk menanyakannya. Aplikasi ini juga memungkinkan kamu untuk mendapatkan saran kesehatan yang tepat untuk kamu. 

Referensi:
Business Insider. Diakses pada 2019. Health 'Facts' You've Been Told All Your Life That Are Totally Wrong.