• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Nyeri Ulu Hati Bisa Jadi Gejala Gastroparesis

Nyeri Ulu Hati Bisa Jadi Gejala Gastroparesis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta – Ketika makanan dicerna, otot-otot saluran pencernaan berkontraksi untuk mendorong makanan yang telah masuk. Namun, pada pengidap gastroparesis, gerakan normal otot (motilitas) ini tidak bekerja secara spontan. Melambat atau tidak berfungsinya motilitas perut ini membuat perut tidak dapat dikosongkan dengan benar.

Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti pereda nyeri opioid, antidepresan, obat tekanan darah tinggi dan alergi dapat memperlambat pengosongan lambung dan menyebabkan gejala serupa. Bagi orang yang sudah mengidap gastroparesis, konsumsi obat-obatan ini dapat memperburuk kondisi yang ada. Selain penggunaan obat-obatan, gastroparesis juga kerap dialami pengidap diabetes dan seseorang yang telah menjalani operasi. 

Gejala yang ditimbulkan gastroparesis umumnya adalah mual, muntah, dan kembung. Selain itu, nyeri dibagian ulu hati diyakini juga menjadi salah satu tanda gastroparesis. Nah, agar kamu bisa membedakan gastroparesis dengan kondisi lain, yuk simak penjelasan berikut. 

Baca juga: Diabetes Meningkatkan Risiko Alami Gastroparesis

Nyeri Ulu Hati, Benarkah Tanda Alami Gastroparesis?

Gejala gastroparesis sangat mirip dengan kondisi lainnya. Pasalnya, gastroparesis menimbulkan gejala seperti, mual, muntah, dan nyeri pada ulu hati. Semua gejala ini disebabkan oleh motilitas, sehingga makanan yang tinggal di perut lebih lama dari biasanya. Selain nyeri pada ulu hati, gastroparesis mungkin juga menimbulkan gejala seperti berikut:

  • Mulas atau naiknya asam lambung ke kerongkongan.
  • Cepat kenyang saat makanan.
  • Perut kembung.
  • Menurunnya nafsu makan.
  • Penurunan berat badan.
  • Perubahan kadar gula darah.

Mengobati gastroparesis biasanya dimulai dengan mengidentifikasi dan mengobati kondisi yang mendasarinya. Jika gastroparesis disebabkan oleh diabetes, dokter mungkin akan menangani kondisi ini terlebih dahulu. Nah, apabila kamu mengalami gejala yang mirip gastroparesis dan ingin memastikannya, sebaiknya langsung periksakan ke dokter saja. 

Apabila kamu berencana mengunjungi rumah sakit, kini kamu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu lewat aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat Halodoc.

Baca juga: Perlu Tahu 7 Gangguan Pencernaan dari yang Ringan Sampai Berat

Cara Menangani Gastroparesis

Meski perut terasa penuh, mendapatkan nutrisi yang cukup sangat diperlukan selama pengobatan gastroparesis. Banyak orang dapat mengelola gastroparesis dengan mengubah pola makannya menjadi lebih sehat dan teratur. Dokter mungkin merujuk kamu ke ahli gizi untuk membantu menemukan makanan yang lebih mudah dicerna sehingga kamu mendapatkan cukup kalori dan nutrisi dari makanan. Selain itu, ahli gizi mungkin juga akan menyarankan beberapa hal berikut:

  • Makan dalam porsi kecil tapi sering.
  • Kunyah makanan dengan baik.
  • Makan buah dan sayuran yang dimasak dengan baik.
  • Hindari memakan sayuran mentah.
  • Hindari buah dan sayuran berserat, seperti jeruk dan brokoli.
  • Pilih sebagian besar makanan rendah lemak.
  • Pilih sup dan makanan bubur yang lebih mudah ditelan.
  • Minum air minimal 1,5 liter sehari.
  • Olahraga ringan setelah makan.
  • Hindari minuman berkarbonasi, alkohol, dan merokok.
  • Usahakan untuk tidak berbaring selama 2 jam setelah makan.
  • Konsumsi multivitamin setiap hari.

Baca juga: Terlalu Sering Bersendawa Bisa Jadi Gangguan Kesehatan

Tidak sulit untuk mengatasi gastroparesis asalkan kamu disiplin dan punya tekad yang kuat untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat. Selain menerapkan gaya hidup sehat, kamu mungkin juga perlu mempertimbangkan obat-obatan yang akan diminum agar gejala gastroparesis tidak semakin memburuk.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Gastroparesis.
My Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Gastroparesis: Management and Treatment.