• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Operasi Plastik Picu HIV dan AIDS, Mitos atau Fakta?

Operasi Plastik Picu HIV dan AIDS, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Operasi Plastik Picu HIV dan AIDS, Mitos atau Fakta?

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu mendengar mengenai tindakan operasi plastik? Operasi plastik umumnya digunakan untuk memperbaiki dan merekonstruksi jaringan atau bagian kulit yang mengalami kerusakan. Dengan melakukan operasi plastik, diharapkan kerusakan yang terjadi dapat diperbaiki. Sehingga, fungsi jaringan dan kulit dapat berjalan dengan normal.

Baca juga: Seperti Ini Prosedur Operasi Plastik di Wajah

Hampir sama dengan tindakan operasi lainnya, operasi plastik juga dapat memicu berbagai risiko pada pasien. Mulai dari perdarahan, infeksi, hingga nyeri. Lalu, benarkah melakukan operasi plastik dapat meningkatkan risiko HIV dan AIDS? Simak ulasannya, di sini!

Kenali Risiko Operasi Plastik

Operasi plastik merupakan salah satu tindakan yang digunakan untuk memperbaiki jaringan atau bagian kulit yang mengalami kerusakan. Ada beberapa kondisi gangguan pada kulit yang bisa diperbaiki dengan melakukan operasi plastik, seperti:

  1. Kelainan yang dialami sejak lahir. Mulai dari bibir sumbing, celah pada langit-langit mulut, jari berselaput, dan juga tanda lahir.
  2. Bagian tubuh yang mengalami kerusakan akibat suatu penyakit atau pengobatan. Misalnya, gangguan kulit akibat pengangkatan jaringan kanker.
  3. Luka bakar yang cukup parah.

Selain untuk alasan medis mengenai fungsi bagian kulit, tindakan operasi plastik juga dilakukan untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri serta kualitas hidup dari pasien yang menjalani operasi plastik.

Operasi plastik juga banyak dilakukan untuk memperbaiki penampilan atau kecantikan. Namun, kondisi ini tentunya perlu penanganan dari dokter yang tepat agar tindakan operasi berjalan dengan baik.

Hampir sama dengan tindakan operasi lainnya, tindakan ini juga memiliki berbagai risiko. Namun, risiko yang akan dialami oleh tiap pasien berbeda-beda disesuaikan dengan lokasi tindakan operasi. Meskipun begitu, ada risiko yang cukup umum terjadi. Mulai dari perdarahan, nyeri dan rasa tidak nyaman, infeksi, hingga terbentuknya jaringan parut.

Baca juga: Bedanya Transplantasi Wajah dan Operasi Plastik

Operasi Plastik dan HIV/AIDS

HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini menjadi penyakit yang menular. Penularan pun bisa terjadi saat darah, sperma, atau cairan vagina pengidap HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh orang lain. Ada berbagai cara penularan. Mulai dari melakukan hubungan seks tanpa alat pengaman, berbagi jarum suntik, hingga transfusi darah. 

Lalu, apakah dengan tindakan operasi plastik bisa memicu seseorang mengalami HIV/AIDS? Bukan tidak mungkin pengidap HIV/AIDS membutuhkan tindakan operasi plastik. Kondisi inilah yang cukup berbahaya karena dapat meningkatkan risiko penularan pada tenaga medis maupun orang lain. 

Selain berisiko menularkan virus dari darah yang muncul tindakan operasi, melansir dari Journal of Plastic Reconstructive and Aesthetic Surgery, proses penyembuhan bekas operasi yang ada pada pengidap HIV/AIDS juga akan berlangsung lebih lama dibandingkan pasien lain.

Operasi plastik picu HIV/AIDS bukanlah mitos. Untuk itu, sebelum melakukan operasi plastik, pengidap HIV/AIDS perlu melakukan beberapa perawatan untuk menekan jumlah virus dalam tubuh. Hal ini dilakukan untuk menurunkan risiko penularan pada tim medis. 

Kenali Teknik Operasi Plastik

Sebaiknya lakukan operasi plastik sesuai dengan saran dokter. Kamu bisa bertanya langsung pada dokter mengenai tindakan ini lebih dalam. Yuk, download Halodoc sekarang juga melalui App Store serta Google Play!

Dengan mengetahui lebih jelas kondisi kesehatan kamu, tentunya dokter akan lebih mudah memutuskan teknik operasi plastik yang perlu dilakukan. Ada beberapa teknik utama saat melakukan tindakan operasi plastik, seperti:

  1. Cangkok kulit;
  2. Tindakan penutupan kulit yang rusak;
  3. Perluasan jaringan untuk “menumbuhkan” kembali bagian kulit yang rusak.

Baca juga: Efek Jangka Panjang Operasi Plastik Jika Dilakukan Berulang Kali

Itulah beberapa teknik operasi plastik yang sering dilakukan. Pastikan kamu melakukan operasi plastik pada rumah sakit dan dokter dengan kredibilitas yang cukup tinggi. Jangan lupa untuk berdiskusi dengan dokter mengenai riwayat penyakit kamu, hingga efek samping yang mungkin muncul setelah tindakan.

Referensi:
National Health Service UK. Diakses pada 2021. Plastic Surgery.
Journal of Plastic Reconstructive and Aesthetic Surgery. Diakses pada 2021. HIV and The Surgeon.