Orang Mengidap Obesitas Rentan Mengalami Neuropati Diabetik

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Orang Mengidap Obesitas Rentan Mengalami Neuropati Diabetik

Halodoc, Jakarta - Sebagai salah satu jenis kerusakan saraf, neuropati diabetik rentan dialami oleh pengidap diabetes. Penyakit ini bisa dibilang muncul sebagai komplikasi serius dari diabetes, lantaran kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama menyebabkan kerusakan pada serabut saraf di seluruh tubuh. Seperti tungkai, kaki, peredaran darah, jantung, sistem pencernaan, dan saluran kemih. Benarkah penyakit ini juga rentan dialami orang yang obesitas?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa gejala neuropati diabetik umumnya berkembang secara bertahap dan baru disadari pengidapnya setelah terjadi kerusakan saraf yang signifikan. Berdasarkan lokasi saraf yang rusak, neuropati diabetik dibagi menjadi empat jenis, yaitu mononeuropati, neuropati otonom, femoral neuropathy, serta neuropati perifer.

Mononeuropati atau neuropati fokal mengenai saraf tertentu pada di wajah, batang tubuh, atau kaki. Meski gejalanya dapat terasa menyakitkan, kondisi ini dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Gejala yang timbul dari mononeuropati di antaranya adalah:

  • Lumpuh pada salah satu sisi wajah.

  • Nyeri pada tulang kering, kaki, panggul, punggung bagian bawah, paha depan, dada, atau perut.

  • Rasa sakit di belakang mata, mata sulit fokus, atau penglihatan ganda.

Baca juga: Diabetes Tak Terkontrol Sebabkan Neuropati Diabetik, Ini Alasannya

Jenis neuropati diabetik berikutnya adalah neuropati otonom, yaitu kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti pencernaan, saluran kemih, genital, dan sistem vaskular (pembuluh darah). Gejala yang ditimbulkan antara lain:

  • Pada sistem pencernaan: kembung, diare, sembelit, muntah, atau nyeri ulu hati.

  • Pada sistem vaskular: detak jantung menjadi lebih cepat, tekanan darah rendah, pusing, mual, muntah, atau pandangan menjadi gelap setelah berdiri dengan cepat (hipotensi ortostatik).

  • Pada sistem genital: disfungsi ereksi, Miss V kering, atau sulit orgasme

  • Pada saluran kemih: kembung, inkontinensia urine, atau kesulitan mengosongkan kandung kemih (pada saat buang air kecil serasa tidak tuntas).

Jenis neuropati diabetik yang ketiga adalah femoral neuropathy, atau sering juga disebut diabetic amyotrophy, yaitu kondisi yang menyerang saraf-saraf yang terletak di pinggul, bokong, paha, atau tungkai. Gejala yang ditimbulkan antara lain:

  • Sulit bangun dari posisi duduk.

  • Perut menjadi bengkak.

  • Nyeri hebat pada pinggang, paha, atau bokong.

Jenis neuropati diabetik yang terakhir adalah neuropati perifer. Jenis yang paling banyak diidap ini menyebabkan kerusakan pada sistem saraf perifer, terutama pada tungkai dan kaki. Gejala yang dapat muncul berupa:

  • Kesemutan pada kaki bagian bawah, atau terasa panas.

  • Kram atau nyeri.

  • Refleks berkurang.

  • Kehilangan keseimbangan dan koordinasi.

  • Otot lemah.

  • Masalah serius pada kaki serius, seperti infeksi, tukak, nyeri sendi dan tulang, atau perubahan bentuk (deformitas).

  • Kebas atau penurunan kemampuan merasakan sakit dan perubahan suhu.

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Cara Diagnosis Neuropati Diabetik

Obesitas Dapat Meningkatkan Risiko

Neuropati diabetik sebenarnya disebabkan oleh gabungan dari beberapa faktor. Faktor utamanya adalah kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama yang membuat dinding pembuluh darah (kapiler) menjadi lemah sehingga tidak bisa memberi asupan oksigen dan gizi pada saraf. Pada akhirnya, sel saraf menjadi rusak.

Sementara faktor lain yang berperan dalam neuropati diabetik adalah faktor genetik, peradangan saraf yang disebabkan oleh respon autoimun, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok, yang menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah.

Lalu, benarkah penyakit ini rentan dialami oleh pengidap obesitas? Jawabannya mungkin saja. Sebab risiko neuropati diabetik memang akan meningkat pada orang yang mengalami obesitas. Namun, obesitas bukanlah faktor risiko satu-satunya. Ada beberapa faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko neuropati diabetik, yaitu:

  • Diabetes diidap dalam waktu lama dengan kadar gula darah yang tidak terjaga dengan baik.

  • Mengalami gangguan pada ginjal sehingga racun dalam darah meningkat dan dapat menimbulkan kerusakan saraf.

  • Merokok. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan arteri menyempit dan mengeras, sehingga aliran darah ke kaki menjadi berkurang. Kondisi ini membuat luka lebih sulit untuk sembuh.

Baca juga: Sama Merusak Saraf, Ini Bedanya Neuropati Diabetik dan Stroke

Itulah sedikit penjelasan tentang neuropati diabetik. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!