• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Orangtua Alami PTSD, Benarkah Bisa Menurun ke Anak?

Orangtua Alami PTSD, Benarkah Bisa Menurun ke Anak?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatis, seperti menjadi korban kekerasan atau cedera dapat mengembangkan masalah kesehatan mental yang disebut post traumatic stress disorder (PTSD). Gangguan kesehatan mental ini bisa terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah kejadian, atau bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. 

Mungkin banyak orang yang mengira bahwa PTSD sebagai efek negatif pengalaman pribadi. Namun penelitian menunjukkan bahwa mungkin bukan sekedar pengalaman individu, kemungkinan kondisi ini juga dapat diwariskan. Misalnya dari orangtua kepada anaknya. Benarkah demikian? Ini ulasannya. 

Baca juga: Ketahui Fakta Penting tentang PTSD

PTSD yang Dialami Orangtua Kemungkinan Diwariskan Ke Anak

Kemungkinan pengalaman trauma seseorang atau orangtua meninggalkan bekas kimiawi pada gen seseorang, yang kemudian diturunkan ke generasi mendatang. Kondisi ini dikenal sebagai pewarisan epigenetik, meskipun proses tersebut tidak secara langsung merusak gen, namun mampu mengubah mekanisme pengekspresiannya. Hal ini bisa menyebabkan perubahan dalam penampilan fisik atau perilaku seseorang. 

Misalnya, anak yang lahir dari ibu yang mengalami trauma selama Perang Dunia II cenderung menunjukkan karakteristik yang berkaitan dengan PTSD. Selain itu, anak-anak yang lahir dari orangtua yang mengalami perang saudara di suatu negara atau bencana alam yang besar cenderung mengalami depresi dan kecemasan. 

Faktor genetik diketahui berperan dalam meningkatnya risiko seseorang mengalami stres, trauma, dan depresi. Sekitar 40 persen stres dapat diturunkan dalam keluarga, sedangkan 60 persen sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Jenis stres yang parah dan terjadi berulang kali dipengaruhi oleh faktor genetik dibanding faktor lingkungan.

PTSD juga bisa muncul sebagai respons jangka pendek mendadak (disebut gangguan stres akut) terhadap suatu peristiwa dan berlangsung berhari-hari atau hingga berbulan-bulan. 

Orang dengan PTSD mungkin tidak mencari pertolongan profesional dari psikiater atau psikolog karena mereka merasa ketakutan setelah melalui peristiwa traumatis. Terkadang seseorang mungkin tidak mengenali hubungan antara gejala yang dialami dan trauma. 

Pada anak, guru, dokter, konselor, teman, dan anggota keluarga lainnya yang mengenal anak atau remaja dengan baik dapat berperan penting dalam mengenali gejala PTSD. 

Gejala PTSD umumnya terlihat setelah seseorang mengalami kejadian yang traumatis. Waktu kemunculan dan tingkat keparahannya bisa saja berbeda pada setiap orang. Beberapa peristiwa menimbulkan gejala sejak 3 bulan awal setelah mengalami kejadian traumatis. Namun, ada juga seseorang yang baru merasakan gejala setelah bertahun-tahun mengalami kejadian traumatis. 

PTSD yang dialami oleh anak-anak yang didapatkan dari orangtuanya memiliki gejala khusus, seperti:

  • Anak sering melakukan reka ulang kejadian traumatis yang dialaminya melalui permainan yang dimainkannya. 
  • Anak mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan kejadian trauma yang dialaminya. 

Baca juga: Orang di Bidang Militer Lebih Rentan Terhadap PTSD

Membantu Anak yang Mengalami PTSD

Anak membutuhkan dukungan dan pengertian orangtuanya. Terkadang, anggota keluarga lain seperti orang tua dan saudara kandung juga membutuhkan dukungan. Meskipun keluarga dan teman memainkan peran kunci dalam membantu pemulihan anak atau siapa pun yang mengalami PTSD, biasanya bantuan dari profesional juga dibutuhkan. 

Berikut ini hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mendukung anak yang mengalami PTSD:

  • Sebagian besar anak memerlukan periode penyesuaian setelah peristiwa yang membuatnya stres. Selama waktu itu, penting bagi orangtua untuk memberikan dukungan, cinta, dan pengertian kepada anaknya.
  • Jangan biarkan anak mengambil terlalu banyak waktu di sekolah atau aktivitas lainnya. 
  • Biarkan mereka berbicara mengenai peristiwa traumatis kapan saja jika mereka merasa siap.
  • Yakinkan bahwa perasaan yang dialami anak adalah normal dan mereka tidak menjadi gila.

Baca juga: Kejadian Traumatis Picu Gangguan Jiwa, Ini Penyebabnya

Dapatkan juga bantuan profesional seperti psikolog anak melalui aplikasi Halodoc jika ayah dan ibu khawatir jika anak memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Pikiran untuk bunuh diri adalah hal yang serius pada usia berapa pun dan harus segera ditangani. 

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)
Lab Roots. Diakses pada 2020. Can We Inherit PTSD from Our Parents?
Harvard Medical School. Diakses pada 2020. Post-Traumatic Stress Disorder