• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Orangtua Ketahui Beda Gejala DBD dan COVID-19 pada Anak

Orangtua Ketahui Beda Gejala DBD dan COVID-19 pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Orangtua Ketahui Beda Gejala DBD dan COVID-19 pada Anak

“Di masa pandemi ini sebaiknya jangan hanya fokus pada pencegahan infeksi COVID-19 saja. Penyakit demam berdarah tidak kalah bahayanya, terutama pada anak. Hindari menyalahartikan gejala demam anak, karena DBD dan COVID-19 memiliki gejala yang sekilas mirip. Langkah terbaik adalah mencermati gejala dan memeriksakan kesehatan anak ke dokter.”

Halodoc, Jakarta – Kondisi pandemi COVID-19 masih berlangsung, angka pengidap COVID-19 masih terus bertambah, termasuk pada anak-anak. Namun, virus corona bukan satu-satunya yang harus diwaspadai pada anak-anak maupun keluarga. Wabah demam berdarah dengue (DBD) juga harus diperhatikan, terutama pada anak yang bermain di rumah. 

Saat ini DBD juga sedang musim. Selain orang dewasa, penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti ini juga menyerang anak-anak. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit dengan gejala demam tinggi dan gejala seperti flu. Pada kondisi sebelum pandemi, gejala DBD sering disalahartikan sebagai penyakit flu biasa.

Di masa pandemi COVID-19, dikhawatirkan gejalanya juga tersamarkan dengan gejala infeksi virus corona. Penting bagi orangtua untuk bisa membedakan gejala DBD dengan infeksi COVID-19 agar penanganan tepat dilakukan. 

Baca juga: Ibu, Kenali Gejala DBD pada Anak yang Dapat Terlihat

Gejala DBD pada Anak yang Perlu Dikenali

Kebanyakan anak DBD tidak mengalami gejala. Beberapa anak mungkin memiliki gejala ringan yang terjadi dari 4 hari hingga 2 minggu setelah gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala yang muncul umumnya ringan pada anak kecil. Anak yang lebih besar mungkin mengalami gejala sedang hingga berat dan bisa mengembangkan penyakit serius yang mengancam jiwa. 

Gejala demam berdarah biasanya berlangsung 2-7 hari dan berkisar:

  • Demam tingkat rendah hingga tinggi mencapai 40 derajat celcius.
  • Sakit badan, disertai nyeri pada otot dan tulang.
  • Sakit kepala parah.
  • Ruam di sekujur tubuh.
  • Perdarahan ringan dari hidung atau gusi.
  • Sakit perut, mual atau muntah.
  • Mudah memar.
  • Perubahan perilaku/iritabilitas. 

Mungkin demam anak turun selama 1 hari, tapi kemudian naik lagi. Ayah dan ibu harus teliti dan tidak boleh lengah ketika suhu badan anak turun. Saat demam sedang turun, anak justru memasuki masa kritis yang berisiko mengalami DBD berat. 

Demam berdarah yang parah terjadi ketika pembuluh darah menjari rusak dan bocor, serta sejumlah sel pembentuk gumpalan (trombosit) dalam aliran darah turun. Hal ini bisa menyebabkan syok, perdarahan internal, kegagalan organ, bahkan kematian.

Tanda-tanda peringatan demam berdarah yang parah (yang merupakan keadaan darurat yang mengancam jiwa) bisa berkembang dengan cepat. Tanda peringatan biasanya dimulai satu atau dua hari pertama setelah demam hilang, gejala berupa:

  • Sakit perut parah.
  • Muntah terus-menerus.
  • Pendarahan dari gusi atau hidung.
  • Darah dalam urin, tinja, atau muntah.
  • Perdarahan di bawah kulit, yang terlihat seperti memar.
  • Sesak napas.
  • Kelelahan. 
  • Tangan dan kaki terasa basah dan terasa dingin. 

Penyakit demam berdarah yang parah adalah keadaan darurat medis yang mengancam jiwa. Ayah dan ibu harus segera mendapatkan pertolongan medis. Segera buat jadwal kunjungan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. 

Baca juga: Begini Cara Tepat untuk Menangani Gejala DBD pada Bayi

Cermati Perbedaan Penyakit DBD dan Infeksi COVID-19

Virus penyebab DBD dan virus penyebab COVID-19 sekilas menyebabkan gejala yang mirip di tahap awal.

Penyebab

DBD disebabkan oleh salah satu dari empat virus, yaitu virus Dengue 1, 2, 3, dan 4. Oleh sebab itu, seseorang bisa terinfeksi virus dengue beberapa kali dalam hidupnya. 

Sementara itu, COVID-19 adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona. Belum jelas apakah antibodi yang dibuat dari infeksi COVID-19 bisa memberikan perlindungan agar tidak terinfeksi lagi. 

Masa Inkubasi

Masa inkubasi demam berdarah berkisar antara 3-10 hari, biasanya 5-7 hari. Sementara itu masa inkubasi COVID-19 diperkirakan berlangsung hingga 14 hari, dengan rata-rata 4-5 hari dari paparan hingga timbulnya gejala. 

Gejala

Jika dibaca sekilas, gejala DBD yang dituliskan di atas mirip dengan gejala infeksi COVID-19. Namun, sebaiknya cermati perbedaan gejala satu per satu. Gejala COVID-19 biasanya:

  • Demam atau kedinginan.
  • Batuk.
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Kelelahan.
  • Nyeri otot atau tubuh.
  • Sakit kepala.
  • Kehilangan rasa atau penciuman.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat atau pilek.
  • Mual atau muntah.
  • Diare.

Baca juga: 5 Gejala DBD yang Tak Boleh Diabaikan

Gejala COVID-19 di atas mungkin belum mencakup semua, mengingat informasi tentang COVID-19 masih terus diperbaharui. Pastikan untuk memeriksakan diri ke dokter. 

Setidaknya itulah yang perlu diketahui tentang perbedaan gejala DBD dan COVID-19 pada anak. Ayah dan ibu memang harus mewaspadai penyakit yang diakibatkan COVID-19 pada anak. Namun, penyakit DBD juga tidak bisa dianggap sepele. 

Di situasi pandemi saat ini, segala bentuk penyakit harus diwaspadai, begitu juga DBD. Pastikan untuk selalu melakukan langkah pencegahan semaksimal mungkin, agar imunitas anak tetap terjaga dan penyakit apapun tidak mudah menyerang. 

Referensi:

CDC. Diakses pada 2021. Is it Dengue or is it COVID-19?
CDC. Diakses pada 2021. Dengue and COVID-19
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Dengue fever
International Medical Clinic. Diakses pada 2021. Children and dengue – what to look out for