• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pemeriksaan Fisik untuk Diagnosis Cubital Tunnel Syndrome

Pemeriksaan Fisik untuk Diagnosis Cubital Tunnel Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Cubital tunnel syndrome terjadi ketika saraf ulnar, yang melewati terowongan cubital (terowongan otot, ligamen, dan tulang) di bagian dalam siku, terluka, meradang, bengkak, dan teriritasi.

Cubital tunnel syndrome dapat terjadi ketika seseorang terlalu sering menekuk siku atau banyak bersandar pada sikunya, sehingga mengalami cedera pada area tersebut. Artritis, taji tulang, dan fraktur atau dislokasi siku juga dapat menyebabkan sindrom ini. Bagaimana pemeriksaan fisik untuk diagnosis sindrom ini dilakukan?

Diagnosis Cubital Tunnel Syndrome

Selain riwayat medis lengkap dan pemeriksaan fisik, tes diagnostik untuk cubital tunnel syndrome dapat meliputi:

Baca juga: Tangan Gemetar, Tanda Kebanyakan Main Gadget?

  1. Tes Konduksi Saraf

Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat sinyal bergerak ke saraf untuk menemukan kompresi atau penyempitan saraf.

  1. Elektromiogram (EMG)

Tes ini untuk memeriksa fungsi saraf dan otot serta menguji otot lengan yang dikendalikan oleh saraf ulnaris. Jika otot tidak bekerja sebagaimana mestinya, itu mungkin merupakan tanda bahwa ada masalah dengan saraf ulnaris.

  1. Sinar-X

Ini dilakukan untuk melihat tulang-tulang siku dan memeriksa apakah kamu mengidap artritis atau taji tulang di area siku.

Perawatan yang paling efektif untuk cubital tunnel syndrome adalah:

  1. Beristirahat dan hentikan kegiatan apa pun yang memperburuk kondisi, seperti menekuk siku.
  2. Pemasangan belat atau penyangga busa siku yang dikenakan di malam hari guna membatasi pergerakan dan mengurangi iritasi).
  3. Menggunakan bantalan siku (untuk melindungi terhadap iritasi kronis dari permukaan yang keras).
  4. Obat anti-inflamasi (seperti ibuprofen atau naproxen).
  5. Latihan saraf.

Jika perawatan ini tidak berhasil, profesional medis akan mempertimbangkan untuk melakukan suntikan steroid untuk membantu mengurangi pembengkakan dan rasa sakit ataupun operasi. Informasi lebih detail mengenai diagnosis cubital tunnel syndrome bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc.

Baca: 5 Fakta yang Memicu Cubital Tunnel Syndrome 

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Pencegahan supaya tidak terkena sindrom ini bisa dilakukan dengan cara menjaga agar lengan tetap fleksibel dan kuat. Jangan bertumpu pada siku, terutama pada permukaan yang keras. Lakukan pemanasan sebelum berolahraga atau menggerakkan lengan secara berulang saat olahraga. 

Kenal Lebih Jauh Cubital Tunnel Syndrome

Gejala dan diagnosis cubital tunnel syndrome perlu dilakukan untuk mendeteksi apakah kamu memang mengalami sindrom ini atau tidak. Soalnya sindrom ini dapat berpengaruh pada aktivitas sehari-hari dan mengurangi efisiensi kerja ataupun pergerakan fisikmu.

Sindrom ini dapat menyebabkan nyeri, mati rasa, kesemutan, serta kelemahan otot di tangan dan lengan. Sindrom cubital tunnel seperti halnya sindrom terowongan karpal, adalah sindrom kompresi saraf. Ini berarti ada peningkatan tekanan pada saraf di pergelangan tangan, lengan, atau siku.

Seperti yang sudah disampaikan di atas, dalam banyak kasus, perawatan sederhana, seperti menghindari tekanan asing atau memakai pelindung, dapat membantu menghentikan gejala.  Namun jika memang sudah cukup parah, mendapatkan rekomendasi dari profesional kesehatan adalah langkah yang tepat.

Perawatan spesifik untuk cubital tunnel syndrome akan ditentukan oleh dokter berdasarkan:

  1. Usia, kesehatan fisik, dan riwayat medis.
  2. Sejauh mana kondisi cubital tunnel syndrome.
  3. Toleransi terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu.
  4. Harapan untuk jalannya kondisi.
  5. Pendapat atau preferensi pengidapnya.
Referensi:
Cedars Sinai. Diakses pada 2020. Cubital Tunnel Syndrome,
Stanford Health Care. Diakses pada 2020. Cubital Tunnel Syndrome.
Columbia University Department of Neurology. Diakses pada 2020.