• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pemeriksaan Mikrobiologi untuk Keracunan Makanan

Pemeriksaan Mikrobiologi untuk Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Pemeriksaan Mikrobiologi untuk Keracunan Makanan

Halodoc, Jakarta - Ketika kamu mengalami keracunan makanan, kamu akan merasakan gejala, seperti kram perut, muntah, dan diare. Gejala ini bisa terjadi beberapa jam atau satu hingga dua hari setelah kamu mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Pasalnya, sekitar 250 jenis bakteri dan virus serta parasit bisa menyebabkan keracunan makanan. 

Meski gejala utama adalah mual, muntah, sakit perut, dan diare, tetapi kamu juga mungkin mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga adanya darah pada feses. Kamu bisa saja mengalami dehidrasi, sehingga mulut dan tenggorokan terasa kering dan frekuensi buang air kecil pun jadi berkurang. Keracunan makanan juga bisa mengakibatkan kamu mengalami penglihatan kabur atau ganda, tetapi ini jarang terjadi. 

Pemeriksaan Mikrobiologi untuk Diagnosis Keracunan Makanan

Salah satu cara mendiagnosis keracunan makanan adalah melalui pemeriksaan mikrobiologi. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap sampel urine, darah, feses, sekret atau kerokan kulit yang bisa dilakukan melalui pemeriksaan secara mikroskopis, pembiakan, maupun pengecatan. 

Baca juga: Alasan Makan Buah dan Sayuran Mentah Picu Keracunan Makanan

Jika gejala yang kamu alami cenderung parah, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan mikrobiologis untuk mendapatkan diagnosis yang lebih akurat. Pemeriksaan mikrobiologis meliputi:

  • Kultur feses, merupakan pemeriksaan laboratorium yang paling umum untuk mendiagnosis keracunan makanan. Dokter bisa melakukannya apabila kamu mengalami demam atau sakit perut yang parah bersama dengan gejala lainnya. Pemeriksaan ini bisa membantu mengetahui apakah penyakit yang terjadi ada kaitannya dengan kontaminasi bakteri, karena pemeriksaan mikroskopis pada feses dapat mengidentifikasi parasit. Namun, tes ini tidak selalu memberikan hasil yang akurat. 
  • Tes darah, dapat dilakukan jika dokter mengira infeksi telah menyebar dalam darah. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya bakteri listeria dan virus hepatitis A. tes darah khusus bisa membantu mengidentifikasi penyakit dengan mencari peradangan dan tanda adanya dehidrasi. 
  • Pemeriksaan darah dan feses bisa membantu mengidentifikasi adanya racun, seperti botulisme yang sangat membahayakan. 

Baca juga: Catat, Ini 6 Cara Simpel Mencegah Keracunan Makanan

Sekarang, kamu bisa melakukan pemeriksaan laboratorium tanpa perlu keluar rumah. Cukup gunakan aplikasi Halodoc, tes lab bisa dilakukan di rumah dan kamu tinggal menunggu hasilnya. Kamu pun bisa tanya jawab dengan dokter di aplikasi Halodoc seputar gejala yang mungkin alami sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium. 

Penanganan Keracunan Makanan

Keracunan makanan sering kali membaik tanpa perlu dilakukan pengobatan dalam waktu 48 jam. Supaya kamu lebih nyaman dan terhindar dari dehidrasi, kamu bisa mencoba beberapa cara berikut ini. 

  • Berhenti makan dan minum selama beberapa jam hingga perut terasa lebih baik.
  • Konsumsi es batu atau sedikit air. Kamu juga bisa mengonsumsi soda bening, kaldu bening, atau minuman olahraga tanpa kafein. Jika kamu dehidrasi atau diare, mengonsumsi larutan rehidrasi oral mungkin bisa membantu.
  • Konsumsi probiotik, tetapi pastikan kamu telah mendapatkan persetujuan dokter untuk mengonsumsinya.
  • Makan perlahan. Secara bertahap mulailah kembali makan dengan mengonsumsi makanan yang terasa hambar, rendah lemak, dan mudah dicerna, seperti roti panggang, agar-agar, atau pisang. Berhenti jika kamu kembali merasa mual.
  • Hindari makanan atau minuman tertentu sampai kondisimu membaik. Ini termasuk produk susu, kafein, alkohol, nikotin, dan makanan berlemak atau berbumbu tajam.
  • Perbanyak istirahat, karena keracunan makanan dan dehidrasi bisa membuat tubuh kelelahan dan terasa lemas.

Baca juga: Makan Daging Terkontaminasi Bakteri, Apa Bahayanya?

Konsumsi air putih dan elektrolit bisa membantu menjaga keseimbangan sekaligus pengganti cairan tubuh yang hilang selama kamu mengalami diare akibat keracunan makanan. Jika belum juga membaik, biasanya dokter akan meresepkan obat antibiotik apabila gejala yang kamu alami terbilang cukup parah. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Food Poisoning.
WebMD. Diakses pada 2020. How do I Know If I Have Food Poisoning?
RS Pupuk Kaltim. Diakses pada 2020. Pemeriksaan Mikrobiologi.