• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pemeriksaan untuk Mendeteksi Borderline Personality Disorder

Pemeriksaan untuk Mendeteksi Borderline Personality Disorder

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Pemeriksaan untuk Mendeteksi Borderline Personality Disorder

Halodoc, Jakarta – Borderline personality disorder (BPD) adalah gangguan kepribadian yang bisa dikenali dari gejala-gejalanya, seperti suasana hati yang sering berubah-ubah dan perilaku yang impulsif. Namun, bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa seseorang memang benar-benar mengidap BPD atau hanya sekadar memiliki sifat yang buruk saja? Karena itu, melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi borderline personality disorder sangat penting agar pengobatan bisa segera dilakukan.

Borderline personality disorder (BPD) atau yang disebut juga gangguan kepribadian ambang adalah penyakit mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan tentang dirinya sendiri dan orang lain, sehingga mengakibatkan pengidapnya memiliki masalah dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini termasuk masalah citra diri, kesulitan untuk mengelola emosi dan perilaku, serta memiliki pola hubungan yang tidak stabil. 

Baca juga: Ini 4 Pemicu Gangguan Mental Borderline Personality Disorder

Gejala Borderline Personality Disorder

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, BPD memengaruhi perasaan pengidap tentang dirinya sendiri, bagaimana ia berhubungan dengan orang lain, dan bagaimana ia bersikap. Berikut ini gejala-gejala BPD secara umum:

  • Memiliki ketakutan yang sangat besar akan pengabaian, bahkan melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari perpisahan atau penolakan dari orang lain.
  • Memiliki pola hubungan intens yang tidak stabil. Misalnya, mengagumi seseorang pada suatu saat, tetapi kemudian tiba-tiba berpikir bahwa orang tersebut sebenarnya kejam atau tidak peduli terhadap dirinya.
  • Mengalami masalah dengan identitas diri dan citra diri yang mencakup pergeseran tujuan dan nilai diri, seperti melihat diri sendiri buruk atau seolah-olah tidak berharga sama sekali.
  • Dapat mengalami periode paranoia yang berhubungan dengan stres dan putusnya kontak dari kenyataan. Periode ini bisa berlangsung dari beberapa menit, hingga beberapa jam.
  • Menunjukkan perilaku impulsif dan berisiko, seperti berjudi, mengemudi dengan sembarangan, melakukan hubungan seks yang tidak aman, menghabiskan waktu, makan secara berlebihan, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain.
  • Mengancam atau berupaya untuk bunuh diri atau melukai diri. Hal ini seringkali sebagai respons terhadap rasa takut akan perpisahan dan penolakan.
  • Perubahan suasana hati yang lebih luas yang berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari, yang dapat meliputi kebahagiaan yang intens, cepat marah, malu, atau cemas.
  • Perasaan kosong yang terus-menerus.
  • Dapat menunjukkan emosi yang tidak pantas dan intens, seperti sering lepas kendali, bersikap sarkastik, atau berkelahi.

Bila kamu atau seseorang yang kamu kenal menunjukkan gejala-gejala tersebut, sebaiknya periksakan diri ke ahli kesehatan mental untuk mendapatkan kepastian diagnosis.

Baca juga: Pengidap Gangguan Kepribadian Ambang Berisiko Alami Depresi

Cara Mendeteksi Borderline Personality Disorder

Profesional kesehatan mental berlisensi, seperti psikiater, psikolog, atau pekerja sosial klinis, yang berpengalaman dalam mendiagnosis dan mengobati gangguan mental, dapat membantu mendeteksi gangguan kepribadian ambang dengan cara:

  • Melakukan wawancara menyeluruh, termasuk bertanya tentang gejala.
  • Melakukan pemeriksaan medis yang cermat dan menyeluruh, yang dapat membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab gejala lainnya.
  • Bertanya tentang riwayat kesehatan keluarga, termasuk riwayat penyakit mental.

Gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder seringkali terjadi dengan penyakit mental lainnya. Adanya gangguan mental lain yang terjadi bersamaan dapat membuat proses mendiagnosis dan mengobati gangguan kepribadian ambang menjadi lebih sulit, apalagi bila gejala penyakit lain tersebut tumpang tindih dengan gejala BPD. Misalnya, seseorang dengan BPD juga lebih mungkin mengalami gejala depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, atau gangguan makan.

Selain itu, pemeriksaan diagnosis BPD di atas hanya dilakukan untuk orang dewasa, bukan pada anak-anak atau remaja. Hal ini karena apa yang tampak, seperti gejala BPD yang terjadi pada anak-anak mungkin dapat menghilang ketika anak-anak bertambah besar dan menjadi lebih dewasa.

Baca juga: Terapi MBT Bisa Atasi Gangguan Kepribadian Ambang

Itulah penjelasan tentang pemeriksaan untuk mendeteksi borderline personality disorder. Bila kamu mengalami gejala BPD, seperti di atas ataupun masalah kesehatan mental lainnya yang dirasa mengganggu kehidupan kamu sehari-hari, coba bicarakan saja pada psikolog dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa curhat dan minta saran kesehatan kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder
NIMH. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder