• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pemfigoid Bulosa Tidak Bisa Dicegah, Benarkah?

Pemfigoid Bulosa Tidak Bisa Dicegah, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Meskipun langka, pemfigoid bulosa merupakan penyakit kulit yang tetap perlu diwaspadai. Pasalnya, tidak hanya menimbulkan gejala yang sangat mengganggu, seperti lepuhan yang gatal dan kemerahan, pemfigoid bulosa kadang-kadang juga bisa menyebabkan masalah serius. Sayangnya, pemfigoid bulosa tidak bisa dicegah. Benarkah demikian? Yuk, cari tahu jawabannya di sini.

Apa Itu Pemfigoid Bulosa?

Pemfigoid bulosa adalah kondisi kulit langka yang menyebabkan lepuhan besar berisi cairan. Luka lepuhan tersebut biasanya berkembang di area lipatan kulit, seperti perut bagian bawah, paha atas, atau ketiak. Meskipun dapat menyerang siapa saja, tetapi pemfigoid bulosa paling sering dialami oleh orang yang berusia 60 tahun ke atas.

Pemfigoid bulosa termasuk penyakit autoimun, karena penyakit kulit ini disebabkan oleh kesalahan sistem kekebalan tubuh yang menyerang lapisan tipis di bawah lapisan luar kulit tubuh sendiri. Penyebab respon sistem imun yang tidak normal ini masih belum diketahui. Namun, pemfigoid bulosa kadang-kadang dapat dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu.

Dalam kebanyakan kasus, pemfigoid bulosa dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan, tetapi mungkin butuh waktu hingga lima tahun sampai sembuh sepenuhnya. Pengobatan yang dilakukan biasanya bertujuan untuk membantu mengatasi lepuh dan mengurangi rasa gatal. 

Hal ini termasuk pemberian obat kortikosteroid seperti prednisone dan obat-obatan lainnya yang bermanfaat untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Pemfigoid bulosa dapat mengancam nyawa, terutama bagi orangtua yang memiliki kondisi kesehatan yang sudah buruk.

Baca juga: Tidak Hanya Lenting Besar, Ini Gejala Lain Pemfigoid Bulosa

Penyebab Pemfigoid Bulosa

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pemfigoid bulosa terjadi karena gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang seharusnya menghasilkan antibodi untuk melawan bakteri, virus atau zat asing lainnya yang berpotensi berbahaya, malah menyerang jaringan tertentu di tubuh sendiri.

Pada kasus pemfigoid bulosa, sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi terhadap jaringan yang menghubungkan lapisan luar kulit (epidermis) dan lapisan kulit di bawahnya (dermis). Antibodi ini memicu peradangan yang menghasilkan lepuhan pemfigoid bulosa yang gatal.

Pemfigoid bulosa biasanya muncul secara random tanpa faktor penyebab yang jelas. Namun, pada beberapa kasus, berikut ini faktor-faktor yang dapat memicu penyakit kulit tersebut:

  • Obat-obatan. Obat resep yang dapat menyebabkan pemfigoid bulosa, antara lain etanercept (Enbrel), sulfasalazine (azulfidine), furosemide (Lasix), dan penisilin.

  • Cahaya dan radiasi. Terapi sinar ultraviolet yang biasanya digunakan untuk mengobati kondisi kulit tertentu dapat memicu pemfigoid bulosa. Misalnya, terapi radiasi untuk mengobati kanker.

  • Kondisi medis. Gangguan kesehatan yang dapat memicu pemfigoid bulosa, antara lain psoriasis, lichen planus, diabetes, rheumatoid arthritis, kolitis ulserativa, dan multiple sclerosis. 

Baca juga: Begini Pengobatan untuk Atasi Pemfigoid Bulosa

Apakah Pemfigoid Bulosa Dapat Dicegah?

Oleh karena pemfigoid bulosa merupakan penyakit autoimun, sampai saat ini belum ada tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit kulit tersebut. Namun, kamu bisa menghindari obat-obatan yang dapat memicu pemfigoid bulosa. Bicarakanlah pada dokter mengenai alternatif obat yang lebih aman untuk kamu konsumsi.

Selain itu, bila kamu mengidap kondisi medis yang dapat memicu terjadinya pemfigoid bulosa, segera kunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan sebelum penyakit kulit tersebut terjadi.

Baca juga: 5 Makanan yang Bisa Mencegah Pemfigoid Bulosa

Bila kamu ingin bertanya lebih lanjut mengenai pemfigoid bulosa, tanyakan saja pada ahlinya dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat untuk bertanya apa saja seputar kesehatan kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Bullous pemphigoid.