• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pendendam, Gejala yang Dialami Gangguan Kepribadian Paranoid
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pendendam, Gejala yang Dialami Gangguan Kepribadian Paranoid

Pendendam, Gejala yang Dialami Gangguan Kepribadian Paranoid

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 23 Oktober 2020
Pendendam, Gejala yang Dialami Gangguan Kepribadian Paranoid

Halodoc, Jakarta – Ada beberapa hal yang bisa dikenali sebagai gejala gangguan paranoid, salah satunya sering menyimpan dendam alias pendendam. Biasanya, hal ini terjadi karena ada pengalaman atau trauma pada masa lalu, pernah merasa disakiti oleh orang sekitar, sehingga menyimpan hal itu menjadi dendam dan berakhir pada perilaku paranoid. 

Gangguan paranoid adalah masalah yang terjadi pada kesehatan mental. Penyakit mental ini ditandai dengan menyimpan dendam, rasa takut berlebihan, serta tidak bisa percaya dengan orang lain. Orang yang mengidap gangguan ini bisa tiba-tiba menjadi orang yang sangat khawatir dan merasa tidak tenang karena selalu merasa rasa curiga dan ketakutan berlebihan pada sekalipun pada orang terdekat. 

Baca juga: Gangguan Paranoid Sulit Memiliki Hubungan Harmonis, Benarkah?

Mengenali Orang dengan Gangguan Paranoid

Gangguan paranoid menyebabkan pengidapnya selalu menganggap orang lain berbahaya dan memiliki niat untuk menyakiti. Orang dengan gangguan ini cenderung merasa sangat takut, curiga, dan berujung pada menyimpan dendam. Belum diketahui pasti apa penyebabnya, tapi gangguan paranoid disebut berkaitan dengan pengalaman traumatis di masa lalu. 

Selain itu, ada beberapa ciri lain yang bisa muncul sebagai gejala gangguan kepribadian paranoid, di antaranya: 

  • Meragukan komitmen dan kesetiaan orang lain. Hal ini bisa menyebabkan pengidapnya tidak mempercayai orang di sekitar dan merasa semua orang akan menipu. 
  • Tertutup dan enggan bercerita pada orang lain. Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi karena pengidap paranoid merasa sangat takut dan khawatir informasi yang diberikan akan disalahgunakan. 
  • Mendendam dan tidak bisa memaafkan orang lain. 
  • Sering menganggap bahwa seseorang memiliki makna tersembunyi atau niat buruk saat berkomentar atau menanyakan sesuatu. 
  • Memiliki kecurigaan berulang, umumnya terjadi tanpa ada alasan yang jelas. 
  • Bersikap dingin dan menjauhi serta menghindari menjalin hubungan dengan orang lain. 
  • Sering merasa tidak bersalah. Saat berada di tengah pertengkaran dengan seseorang, pengidap gangguan paranoid kerap merasa dirinya yang paling benar. 

Karena selalu merasa curiga dengan orang lain, pengidap gangguan ini seringkali kesulitan untuk bergaul, bahkan terkesan memancing permusuhan. Terkadang, pengidap penyakit ini sering menyendiri dan enggan bekerja sama dengan orang lain. Gangguan mental ini sebaiknya tidak disepelekan dan harus mendapat penanganan tepat agar hubungan dengan lingkungan sekitar tidak menjadi rusak. 

Baca juga: Ibu yang Alami Gangguan Paranoid, Ini Pengaruhnya pada Anak

Perlu dilakukan pemeriksaan oleh psikolog untuk mendiagnosis penyakit ini. Sebab, beberapa gejala kepribadian paranoid hampir sama dengan gejala gangguan mental lain, seperti gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) dan skizofrenia. Segera temui ahli psikologi jika merasa mengalami tanda-tanda gangguan kepribadian paranoid.  

Jika ragu, kamu bisa mencoba bertanya seputar gangguan paranoid pada psikolog atau psikiater di aplikasi Halodoc. Lebih mudah menghubungi ahlinya melalui Video/Voice Call atau Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan mental dan tips menjaga kesehatan dari dokter terpercaya. Download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Baca juga: Sering Menyimpan Dendam, Waspada Gangguan Kepribadian Paranoid

Setelah didiagnosis, orang yang mengidap penyakit ini akan disarankan untuk menjalani terapi untuk mengurangi perasaan tidak percaya atau paranoid di dalam diri. Konsumsi obat-obatan juga bisa dilakukan untuk membantu mengurangi gejala paranoid yang mengganggu. Segera cari bantuan ahli jika gejala masalah kesehatan mental ini sudah sangat buruk dan mengganggu.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder.
Healthline. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder. 
WebMD. Diakses pada 2020. Paranoid Personality Disorder.