Pengaruh Sindrom Sjogren pada Miss V

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Pengaruh Sindrom Sjogren pada Miss V

Halodoc, Jakarta – Sindrom sjogren adalah kelainan genetik yang dikenal memiliki gejala pada mata dan mulut. Kondisi ini bisa menyebabkan kedua bagian tersebut terasa kering. Meski demikian, sindrom ini jarang ditemukan sebagai penyakit yang berdiri sendiri alias sering ditemukan juga penyakit arthritis rheumatoid dan lupus bagi pengidapnya.

Pada mata, penyakit ini bisa menyebabkan gejala berupa mata kering yang disertai dengan sindrom, seperti terbakar, terasa gatal, ataupun berpasir. Sedangkan di mulut, sindrom sjogren bisa menyebabkan pengidapnya merasakan sensasi penuh dalam mulut dan menyebabkan kesulitan menelan dan berbicara.

Meski begitu, sindrom tersebut nyatanya tidak hanya menyebabkan dua gejala itu saja. Sindrom sjogrem bisa menyebabkan pengidapnya mengalami nyeri, bengkak, dan kekakuan sendi. Pembengkakan pada kelenjar ludah, ruam dan kekeringan pada kulit, batuk kering terus menerus, serta rasa lemas atau kelelahan yang berkelanjutan pun sering terjadi. Bahkan, penyakit ini ternyata juga bisa memengaruhi organ reproduksi wanita alias Miss V.

Pengaruh Sindrom Sjogren pada Miss V

Salah satu gejala yang terjadi karena sindrom ini adalah Miss V menjadi kering. Tak hanya itu, kondisi ini pun menyebabkan pengidapnya mengalami sakit saat berhubungan intim. Seperti di mata dan mulut dan rasa kering di organ reproduksi ini pun bisa sangat mengganggu dan menyiksa.

Untuk mengatasi Miss V yang kering karena sindrom sjogren, biasakanlah untuk selalu menggunakan pelumas saat akan berhubungan intim. Selain itu, rutin menggunakan pelembab juga bisa dilakukan untuk mengurangi rasa kering yang muncul.

Kabar buruknya, wanita memiliki peluang lebih besar terserang sindrom ini, terutama yang sudah berusia di atas 40 tahun. Hal lain yang menjadi faktor risiko sindrom sjogren adalah adanya riwayat penyakit rematik dan penyakit lainnya.

Penyebab dan Diagnosis Sindrom Sjogren

Hingga saat ini, masih belum diketahui secara jelas penyebab sindrom Sjogren. Namun seperti penyakit autoimun lainnya, kondisi ini bisa terjadi karena sistem kekebalan tubuh mengalami disfungsi dan berbalik menyerang sel-sel sehat dalam kelenjar-kelenjar penghasil cairan, seperti kelenjar air mata dan kelenjar saliva. Selain itu, ada juga yang menyebut bahwa kondisi ini bisa terjadi karena dipicu oleh infeksi virus atau bakteri.

Untuk mendiagnosis penyakit ini, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan dan menanyakan apakah mata dan mulut yang kering telah terjadi lebih dari 3 bulan. Pemeriksaan juga akan melihat apakah ada penggunaan obat tetes mata yang sering dan pertanyaan-pertanyaan yang merujuk pada  gejala-gejala sindrom Sjogren.

Pada tahap selanjutnya, beberapa pemeriksaan lanjutan mungkin akan dilakukan. Mulai dari tes darah yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan anti-RO (SS-A) dan anti-LA (SS-BS), antibodi yang ditemukan dalam pengidap sindrom Sjogren. Ada juga tes schirmer yang dilakukan untuk memeriksa produksi air mata, hingga tes saliva (skintigrafi dan sialogram). Biopsi bibir juga dapat dilakukan untuk mengecek keberadaan kumpulan sel-sel inflamasi yang merupakan indikasi sindrom Sjogren.

Setelah terdiagnosis, biasanya penanganan sindrom Sjogren dilakukan akan berbeda antara satu pengidap dedan ngan yang lainnya. Hal itu terjadi karena ada perbedaan organ yang diserang dan perbedaan gejala yang muncul.

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja! Lebih mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan tips hidup sehat dan informasi seputar kesehatan dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.

Baca juga: