• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengguna Kacamata Lebih Terlindungi dari COVID-19, Benarkah?

Pengguna Kacamata Lebih Terlindungi dari COVID-19, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Ketika para peneliti di China menganalisis data pasien COVID-19 di rumah sakit, mereka menemukan sesuatu yang aneh, yaitu sangat sedikit dari pasien mereka yang sakit yang memakai kacamata secara teratur.

Di sebuah rumah sakit di Suizhou, Cina, 276 pasien COVID-19 dirawat selama 47 hari, namun hanya ditemukan 16 pasien atau kurang dari 6 persen yang mengidap myopia atau rabun jauh yang mengharuskan mereka untuk menggunakan kacamata selama lebih dari 8 jam sehari.

Mengingat jumlah pengidap rabun jauh tampaknya jauh lebih banyak pada populasi umum daripada di bangsal COVID-19, para ilmuwan jadi bertanya-tanya, bisakah memakai kacamata melindungi seseorang dari infeksi virus corona?

Baca juga: Benarkah Pakaian Anti Virus Dapat Cegah COVID-19?

Alasan Kacamata Mungkin Bisa Melindungi dari COVID-19

Mengenakan kacamata adalah hal yang umum di antara orang Cina dari segala usia. Namun, penulis penelitian tersebut mencatat, sejak wabah COVID-19 terjadi di Wuhan pada Desember 2019, mereka mengamati bahwa hanya sedikit pasien berkacamata yang dirawat di rumah sakit. 

Para penulis berspekulasi bahwa pengamatan ini bisa menjadi bukti awal bahwa pengguna kacamata lebih terlindungi dari COVID-19. Namun, menurut para ahli, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan dari penelitian tersebut atau merekomendasikan orang-orang untuk mulai memakai pelindung mata selain masker untuk menurunkan risiko infeksi.

Kacamata dianggap mungkin bisa melindungi seseorang dari COVID-19 karena alat bantu penglihatan tersebut bisa bertindak sebagai penghalang parsial yang melindungi mata dari percikan batuk atau bersin. Seperti yang sudah diketahui, virus corona bisa menginfeksi melalui mata ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin di dekat mata atau bila kamu menyentuh benda-benda yang terkontaminasi virus lalu menyentuh mata sebelum mencuci tangan.

Selain itu, Dr Yiping Wei dari Rumah Sakit Afiliasi Kedua Universitas Nanchang dan rekan-rekannya berspekulasi bahwa kacamata bisa melindungi dari infeksi COVID-19 karena kacamata mencegah penggunanya menyentuh mata mereka, sehingga bisa mencegah penularan virus dari tangan ke mata.

Penelitian lain sebelumnya menemukan bahwa rata-rata orang normal menyentuh wajah mereka 23 kali dan menyentuh matanya 3 kali per jam. Berdasarkan hipotesis ini, bisa disimpulkan bahwa risiko penularan COVID-19 dua hingga tiga kali lebih rendah pada pengguna kacamata. Melansir dari The Telegraph, studi tersebut menunjukkan bahwa risiko COVID-19 pada orang yang menggunakan kacamata 2-3 kali lebih rendah daripada mereka yang tidak mengenakan kacamata.

Baca juga: Mengapa Kacamata Baru Bisa Bikin Pemakainya Sakit Kepala?

Masih Perlu Penelitian Lebih Lanjut

Namun, mengenai hal itu, Dr. Lisa Maragakis, seorang spesialis penyakit menular dan profesor kedokteran di Sekolah Kedokteran John Hopkins menanggapi bahwa ada sejumlah faktor yang mungkin membuat kacamata bisa memengaruhi risiko seseorang terpapar COVID-19. Misalnya, bisa jadi orang yang memakai kacamata biasanya berusia lebih tua, sehingga cenderung lebih berhati-hati dan lebih banyak tinggal di rumah selama pandemi, dibandingkan mereka yang tidak berkacamata.

Petugas kesehatan memang mengenakan peralatan pelindung mata untuk melindungi mereka dari tetesan liur dari batuk atau bersin, serta partikel aerosol yang terbentuk saat pasien menjalani prosedur medis.

Namun, bagi sebagian besar orang, perlindungan ekstra tersebut mungkin tidak diperlukan selama orang tersebut mengenakan masker dan menjaga jarak fisik saat di tempat umum. Menurut Dr Maragakis, ada kemungkinan penggunaan kacamata justru meningkatkan risiko terpapar COVID-19, karena beberapa pengguna kacamata mungkin lebih sering menyentuh wajah mereka saat memakai atau membenarkan posisi kacamata mereka.

Selain itu, studi dari China tentang penggunaan kacamata yang bisa melindungi dari COVID-19 yang diterbitkan di JAMA Ophthalmology, juga dinilai masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pasalnya, studi tersebut melibatkan kurang dari 300 kasus COVID-19, yang merupakan jumlah yang kecil dari hampir 30 juta kasus infeksi virus Corona yang dilaporkan di seluruh dunia. Selain itu, data tentang rabun jauh di kelompok pembanding juga diperoleh dari sebuah penelitian yang berlangsung beberapa dekade sebelumnya.

Menurut Dr Thomas Steinemann, juru bicara American Academy of Ophthalmology dan professor oftalmologi di MetroHealth Medical Center di Cleveland, diperlukan lebih banyak penelitian untuk melihat apakah penemuan tersebut berlaku pada populasi penelitian lain.

Itulah penjelasan tentang penggunaan kacamata untuk melindungi dari COVID-19. Jadi, kesimpulannya, kacamata dan pelindung wajah memang bisa menawarkan perlindungan yang berharga bagi petugas kesehatan yang berada di garis terdepan, terutama staf ICU dan terapis pernapasan. Namun, bagi masyarakat umum, penerapan 5M (mengenakan masker, rajin mencuci tangan, mempraktikkan jarak fisik, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi dan interaksi) sudah menjadi cara terbaik untuk melawan virus corona.

Baca juga: Rentan Tertular, Begini Cara Tenaga Medis Terlindung dari Virus Corona

Bila kamu ingin bertanya-tanya lebih lanjut seputar COVID-19, hubungi saja dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli dan terpercaya di Halodoc siap memberi saran dan solusi kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
The New York Times. Diakses pada 2021. Does Wearing Glasses Protect You From Coronavirus?
WebMD. Diakses pada 2021. Do Eyeglasses Offer Protection Against COVID-19?
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2021. Could Glasses Protect Against COVID-19?.
The Telegraph. Diakses pada 2021. Glasses wearers are up to three times less likely to catch Covid-19, study finds