• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengidap Hipospadia Bisa Alami Gangguan Psikologis

Pengidap Hipospadia Bisa Alami Gangguan Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Kebanyakan anak laki-laki terlahir dengan penis yang terlihat normal dan berfungsi dengan baik. Namun, beberapa anak laki-laki terlahir dengan gangguan yang disebut hipospadia. 

Hipospadia adalah kondisi penis yang tidak terlihat normal dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ini bisa diketahui dari lubang penis yang tidak berada di ujung penis melakinkan di tengah batang penis, bahkan juga bisa di skrotum. Hipospadia bisa membuat pengidapnya mengalami gangguan psikologis. Baca selengkapnya di sini!

Kenapa Pengidap Hipospadia Bisa Alami Gangguan Psikologis?

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Journal of Pediatric Psychology, hipospadia dapat menyebabkan pengidapnya mengalami gangguan psikologis. Anak laki-laki dengan kondisi tidak begitu aktif dalam aktivitas sosial. Bisa jadi karena rendahnya rasa percaya diri karena penampilan penis yang berbeda.

Pun, setelah mengalami penanganan bedah, pengidap hipospadia bisa mengalami masalah emosional karena pengalaman medis di rumah sakit saat dilakukan penanganan. Apalagi jika kondisi ini dibawa sampai usia remaja ketika anak sedang membentuk citra diri. 

Baca juga: 3 Cara untuk Mengobati Kista Epididimis

Besar kemungkinan kondisi abnormal dari lubang penisnya membuat anak kehilangan citra akan dirinya. Dia mungkin saja merasa berbeda dari anak-anak remaja pada umumnya. Belum lagi bila teman-temannya tahu kondisi yang berbeda tersebut dan menjadikannya candaan. 

Pria yang lahir dengan hipospadia setelah menjalani perawatan dan sudah mendapatkan fungsi dan penampilan penis normalnya, pada situasi tertentu akan mengingat depresi dan kecemasan yang dialaminya di masa lalu. 

Baca juga: Mau Cek Sperma, Begini Prosedur yang Mesti Dilakukan

Ini dapat mengganggu keputusan relasinya di masa depan. Mengetahui dampak psikologi dari kondisi hipospadia, itu artinya tidak hanya penanganan medis yang menjadi perhatian utama melainkan juga penanganan psikologi.

Punya pertanyaan tentang hipospadia? Tanyakan saja langsung ke dokter di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Masalah Lain pada Pengidap Hipospadia

Hipospadia paling sering terlihat saat lahir. Tidak hanya lubang penis yang salah lokasi, tetapi juga bentuk kulup yang sering kali tidak sempurna di bagian bawahnya. Hal ini membuat membuat ujung penis terbuka. 

Namun, beberapa bayi yang baru lahir memiliki kulup abnormal dengan lubang penis berada di posisi normal. Pada kondisi yang lain, kulup yang lengkap bisa jadi menyembunyikan lubang penis yang abnormal. 8 dari 100 anak laki-laki pengidap hipospadia juga memiliki testis yang belum sepenuhnya masuk ke dalam skrotum.

Baca juga: Begini Cara Ketahui Kondisi Kesehatan Mr.P Pasanganmu

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, penanganan hipospadia diatasi dengan pembedahan. Tujuannya untuk membuat bentuk penis senormal mungkin sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya. 

Usia yang direkomendasikan untuk melakukan pembedahan untuk kondisi ini adalah usia 6 sampai 12 bulan. Meski begitu, umumnya kondisi ini bisa ditangani pada segala usia. Pembedahan yang sukses akan membuat penis kembali normal dan bertahan sepanjang usia dan bahkan akan menyesuaikan saat penis berkembang di masa pubertas. Pengalaman pembedahan ini bisa jadi pengalaman yang cukup memorable, sehingga perlu pendampingan psikologis supaya anak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Referensi:
Journal of Pediatric Psychology. Diakses pada 2020. Psychosocial Adaptation of Middle Childhood Boys With Hypospadias After Genital Surgery.
Research Gate. Diakses pada 2020. Hypospadias: Psychosocial, Sexual, and Reproductive Consequences in Adult Life.
Urology Care Foundation. Diakses pada 2020. What is Hypospadias?