• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengidap Obesitas Rentan Alami Penyakit Asam Lambung

Pengidap Obesitas Rentan Alami Penyakit Asam Lambung

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Sudah tahu kan kalau obesitas bisa memicu berbagai penyakit lainnya? Sebut saja kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, sleep apnea, atau gangguan jantung. Namun, apa kamu sudah tahu kalau pengidap obesitas ternyata juga rentan mengalami penyakit asam lambung? 

Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) ini adalah munculnya sensasi terbakar di bagian dada. Perasaan tak mengenakkan ini disebabkan oleh asam lambung yang naik ke kerongkongan. Lantas, apa penyebab asam lambung? Lalu, apa hubungannya obesitas dengan GERD?

Baca Juga: Jangan Sepelekan 3 Bahaya Akibat Asam Lambung

Tekanan pada Abdomen Perut

Mau tahu apa penyebab penyakit asam lambung? Gangguan lambung ini disebabkan akibat melemahnya otot bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES). Otot yang berbentuk seperti cincin ini dapat membuka dan menutup saluran kerongkongan. 

Ketika makan, otot ini mengendur dan makanan pun dapat masuk dari kerongkongan ke dalam lambung. Setelah makanan turun ke lambung, otot LES akan kembali menegang dan menutup.

Namun, pada pengidap penyakit asam lambung otot ini melemah sehingga tak dapat menutup. Alhasil, isi lambung dan asam lambung naik ke kerongkongan.

Terdapat beragam yang memicu terjadinya GERD atau asam lambung. Menurut pakar di National Institutes of Health (NIH), GERD bisa dipicu oleh: 

  • Obesitas.
  • Penggunaan alkohol.
  • Hernia hiatal (suatu kondisi ketika bagian perut bergerak di atas diafragma, yaitu otot yang memisahkan rongga dada dan perut).
  • Kehamilan.
  • Scleroderma.
  • Merokok.
  • Berbaring dalam waktu 3 jam setelah makan.

Lantas, apa hubungannya obesitas dengan GERD? Menurut jurnal di US National Library of Medicine National Institutes of Health - “Gastro-esophageal reflux disease and obesity, where is the link?”, obesitas menyebabkan peningkatan tekanan abdomen yang melemaskan sfingter esofagus bagian bawah, sehingga mukosa esofagus terpapar kandungan lambung. 

Masih menurut jurnal di atas, obesitas juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala dan komplikasi GERD yaitu, esofagitis erosif, Barrett’s esophagus, dan adenokarsinoma esofagus. 

Baca juga: 4 Jenis Gangguan Lambung

Sensasi Panas Hingga Sakit Tenggorokan

Ketika menyerang seseorang, umumnya GERD akan menyebabkan rasa asam atau pahit di mulut. Gejala GERD lainnya yang terbilang umum adalah sensasi panas atau perih di dalam dada dan ulu hati. Nah, kedua gejala ini biasanya semakin menjadi-jadi ketika pengidapnya berbaring atau membungkuk setelah makanan. 

Pada beberapa kasus, gejala GERD juga bisa ditandai dengan mual setelah makan, dan merasa adanya makanan yang tersangkut di belakang tulang dada.

Di samping itu, menurut ahli di NIH ada pula beberapa gejala GERD yang kurang umum, antara lain: 

  • Batuk atau mengi.
  • Kesulitan menelan.
  • Cegukan.
  • Suara serak atau perubahan suara.
  • Sakit tenggorokan.

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Ini Dampak dari Obesitas

Hati-hati, gejala GERD bisa bertambah parah pada malam hari. Nah, bagi kamu yang mengalami gejala-gejala di atas, bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 

Referensi:
US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses pada 2020. Gastro-esophageal reflux disease and obesity, where is the link?
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Gastroesophageal reflux disease
Obesity Action Coalition. Diakses pada 2020. Obesity & Heartburn: What is the Link?