Pengidap Sindrom Metabolik Berisiko Terserang Penyakit Jantung, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Pengidap Sindrom Metabolik Berisiko Terserang Penyakit Jantung, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Memiliki satu masalah kesehatan saja pastinya sudah membuat kita resah. Apalagi bila yang dialami empat keluhan sekaligus. Jangan salah, kondisi ini bisa terjadi loh, bisa digambarkan oleh sindrom metabolik. Kata ahli, sindrom ini merupakan kondisi adanya gangguan gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan obesitas pada satu individu. Hmm, bikin khawatir kan?

Meski enggak menular, tapi sindrom ini bisa dialami oleh siapapun. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Namun dalam kebanyakan kasus, sindrom ini lebih sering dialami oleh lansia.

Namun yang perlu diketahui, kata ahli sindrom ini bisa saja memicu berbagai keluhan pada organ jantung. Lho, kok bisa sakit jantung akibat sindrom metabolik?

Kenali Gejala-gejalanya

Sebelum menjawab mengapa sakit jantung akibat sindrom metabolik, maka ada baiknya untuk berkenalan dulu dengan gejala sindrom ini. Kata ahli, kendati enggak menunjukkan gejala spesifik, ada sejumlah tanda klinis yang patut diwaspadai dari sindrom ini. Berikut contohnya:

  • Kadar kolesterol HDL yang rendah, kurang dari 40 mg/dL untuk pria dan 50 mg/dL untuk wanita.

  • Tekanan darah terus-menerus berkisar di 140/90 mmHg atau lebih.

  • Meningkatnya risiko penggumpalan darah, contohnya deep vein thrombosis.

  • Ukuran lingkar pinggang di atas normal, di atas 80 cm (wanita) atau 90 cm (pria).

  • Kadar trigliserida yang tinggi dalam darah, sekitar 150 mg/dL atau lebih.

  • Tingginya kadar gula darah puasa, yaitu 100 mg/dL ke atas.

  • Rentan mengalami peradangan, seperti pembengkakan dan iritasi.

Sangkut Paut Sindrom Metabolik dan Penyakit Jantung

Balik ke pertanyaan di atas, apa hubungannya sindrom ini dengan penyakit jantung? Benarkah sakit jantung akibat sindrom metabolik benar-benar bisa terjadi? Hmm, jawabannya singkat. Benar! Enggak percaya?

Menurut para ahli melalui beberapa studi, sindrom metabolik ini bisa meningkatkan penyakit jantung hingga 2-4 kali, bila dibandingkan dengan orang sehat. Studi ini dilaporkan dari sebuah penelitian yang menelisik pengaruh sindrom metabolik terhadap penyakit jantung. Studi selama 13 tahun itu melibatkan 14.364 partisipan dari berbagai etnis. Dalam periode tersebut, didapatkan 1.101 partisipan mengalami penyakit jantung koroner atau stroke iskemik untuk pertama kalinya.

Peneliti menemukan hal menarik di sini. Partisipan berkulit hitam dengan faktor risiko sindrom metabolik dan obesitas berisiko 117 persen lebih besar terkena penyakit jantung, bila dibandingkan dengan partisipan yang sehat. Sedangkan partisipan berkulit putih dengan faktor risiko sindrom metabolik, tak memiliki perbedaan risiko dengan partisipan yang sehat.

Ada juga penelitian lainnya yang diterbitkan di Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Di sana para ahli mempelajari 155.971 data partisipan dari tahun 2002 sampai 2009. Data yang dikumpulkan cukup banyak, mulai dari berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan indeks massa tubuh masing-masing partisipan.

Dari studi itu para ahli menemukan, orang yang mengidap sindrom metabolik berisiko 1,6 kai lipat lebih besar meninggal akibat penyakit jantung. Tentunya hal ini bila dibandingkan dengan orang yang enggak mengidap sindrom metabolik.

Untungnya, peningkatan risiko ini enggak berlaku bila faktor diabetes dan tekanan darah dihilangkan. Dengan kata lain, temuan ini menunjukkan kalau diabetes dan hipertensi merupakan faktor yang besar dalam meningkatkan kematian sakit jantung akibat sindrom metabolik.

Punya keluhan dengan sindrom metabolik atau penyakit jantung? Kamu bisa kok berdiskusi dengan dokter untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: