Begini Pengobatan untuk Atasi Eklampsia pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Begini Pengobatan untuk Atasi Eklampsia pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta - Ditandai dengan gejala kejang, eklampsia adalah kondisi serius yang diakibatkan oleh preeklampsia pada ibu hamil. Meski termasuk dalam kondisi yang jarang terjadi, eklampsia harus ditangani sesegera mungkin, karena dapat membahayakan nyawa ibu dan janin. Bagaimana pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi eklampsia?

Agar risiko berbahaya dari eklampsia bisa dihindari, cara paling efektif yang bisa dilakukan adalah mendeteksi risiko terjadinya preeklampsia pada masa-masa awal kehamilan. Konsultasikan kondisi tubuh dan faktor-faktor risiko yang dimiliki dengan dokter di aplikasi Halodoc. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa obrolkan langsung gejalamu melalui Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Preeklamsia dalam Kehamilan bisa Terulang

Kemudian jika diduga mengalami eklampsia, pengobatan yang dilakukan biasanya akan tergantung pada kondisi ibu hamil pada saat itu. Jika preeklampsia yang muncul sudah memasuki tahap eklampsia, penanganan utama yang bisa dilakukan adalah persalinan, terutama jika kehamilan sudah cukup bulan. 

Namun, pada beberapa kasus, eklampsia juga dapat terjadi pada jangka waktu 24 jam setelah persalinan. Untuk itu, biasanya diperlukan pemberian obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah. Pilihan obat-obatan yang berfungsi untuk menurunkan tekanan darah hingga di bawah 160 mmHg, di antaranya hydralazine, labetalol, dan nifedipine.

Sementara itu, untuk mengobati kejang yang terjadi selama eklampsia pada ibu hamil, dokter biasanya akan memberikan obat seperti:

  • Magnesium sulfat. Berfungsi untuk menurunkan risiko berulangnya kejang pada ibu hamil yang mengalami eklampsia, dan biasanya diberikan dalam bentuk larutan secara intravena. Pemberian obat ini untuk meredakan kejang umumnya dilakukan selama 24-48 jam.

  • Diazepam, phenytoin, dan natrium amobarbital. Ketiga obat tersebut dapat diberikan jika kejang kembali terjadi pada ibu hamil, meski sudah diberikan magnesium sulfat.

Baca juga: Ibu Hamil Alami Kejang, Apa Sebabnya?

Kemudian setelah kejang diredakan, dokter biasanya akan melakukan persiapan persalinan bayi. Hal ini dilakukan agar preeklampsia dan eklampsia dapat dihentikan, terutama jika janin telah cukup usia untuk dilakukan persalinan. Namun, jika eklampsia terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 34 minggu, persalinan biasanya hanya bisa dilakukan dengan metode caesar. Persalinan caesar juga perlu segera dilakukan jika sudah ada tanda-tanda gawat janin pada eklampsia. 

Jika Eklampsia Tidak Segera Ditangani

Jika tidak segera ditangani dengan baik dan sesegera mungkin, eklampsia dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk kematian ibu dan janin. Namun beberapa komplikasi lain yang masih dapat terjadi setelah persalinan dan pengobatan eklampsia adalah:

  • Kerusakan sistem saraf pusat dan perdarahan intrakranial akibat kejang yang muncul berulang. Kondisi lain yang dapat terjadi akibat kerusakan sistem saraf pusat adalah kebutaan kortikal, akibat kerusakan pada korteks oksipital otak.

  • Gagal ginjal akut dan gangguan ginjal lain.

  • Gangguan kehamilan dan janin.

  • Gangguan dan kerusakan hati (sindrom HELLP).

  • Gangguan sistem peredaran darah, seperti koagulasi intravena terdiseminasi (DIC).

  • Penyakit jantung koroner dan stroke.

  • Kemunculan kembali preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan berikutnya.

Baca juga: 5 Cara Cegah Preeklampsia Usai Persalinan

Perlu diketahui bahwa bayi yang lahir dari ibu yang mengalami eklampsia saat hamil umumnya dapat hidup normal layaknya bayi lain. Meski begitu, mereka biasanya lahir dengan kondisi prematur dan harus tinggal di rumah sakit lebih lama. Angka kematian pada ibu hamil pengidap eklampsia pun terbilang cukup kecil. 

Kematian pada ibu pengidap eklampsia biasanya terjadi akibat kondisi medis lain, seperti sindrom HELLP dan kekurangan trombosit. Sementara itu, kematian janin akibat eklampsia biasanya diakibatkan oleh gangguan atau kerusakan pada plasenta, gangguan pertumbuhan dalam rahim, dan hipoksia

Referensi:

Healthline. Diakses pada 2019. Eclampsia

Medical News Today. Diakses pada 2019. Everyhting You Need to Know About Eclampsia

WebMD. Diakses pada 2019. Understanding Preeclampsia and Eclampsia