Penting, Inilah Penyebab Hernia Diafragmatika

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Penting, Inilah Penyebab Hernia Diafragmatika

Halodoc, Jakarta – Ada banyak kelainan yang mungkin terjadi pada bayi baru lahir, salah satunya hernia diafragmatika. Penyakit ini menyebabkan isi perut bayi tidak berada di tempat seharusnya dan malah masuk ke rongga dada. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa sebenarnya penyebab hernia diafragmatika bisa terjadi pada bayi? 

Hernia diafragmatika kongenital merupakan kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya lubang pada otot diafragma. Lubang tersebut menyebabkan isi rongga perut masuk ke dalam rongga dada bayi. Sebelumnya perlu diketahui, diafragma merupakan otot pernapasan yang memisahkan rongga perut dengan rongga dada. Sayangnya, hingga kini masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab penyakit ini. Namun, ada kelompok bayi baru lahir yang disebut berisiko mengalami hernia diafragmatika. 

Baca juga: Kenali Metode FETO untuk Atasi Hernia Diafragma pada Bayi

Penyebab Hernia Diafragmatika pada Bayi Baru Lahir 

Sejauh ini, masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab hernia diafragmatika. Namun, banyak yang mengaitkan kelainan yang satu ini dengan kondisi genetik. Hernia diafragmatika terjadi karena adanya gangguan perkembangan diafragma bayi selama berada di dalam kandungan. Gangguan perkembangan itu disebut berkaitan dengan kelainan genetik. 

Kabar buruknya, hernia diafragmatika bisa memicu terjadinya gangguan lain yang lebih berbahaya, yaitu perkembangan struktur paru-paru. Pasalnya, saat isi perut masuk ke dalam rongga dada, ada risiko perkembangan paru-paru pun akan turut terganggu. Alhasil, paru-paru bayi tidak bisa berkembang dengan baik dan mungkin akan mengalami gangguan fungsi dalam jangka panjang. 

Bayi yang membawa kelainan ini sering menunjukkan gejala berupa sesak napas, denyut jantung yang cepat, dan kulit berwarna biru akibat kekurangan oksigen. Umumnya, gejala-gejala ini sudah akan terlihat setelah bayi lahir atau lebih dari 24 jam setelah proses kelahiran. Pada beberapa kasus, terutama yang bersifat ringan, hernia diafragmatika bisa saja tidak menunjukkan gejala apapun dan baru diketahui pada usia anak. 

Baca juga: Hernia Diafragma Bisa Ganggu Tumbuh Kembang pada Bayi

Bayi yang dicurigai mengidap kelainan ini perlu mendapatkan pemeriksaan lengkap untuk memastikan diagnosis. Hernia diafragmatika bisa didiagnosis dengan melakukan uji penapisan sebelum persalinan, tujuannya untuk melihat ada atau tidak kelainan genetik pada bayi. Sementara itu, ada pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan setelah proses kelahiran, yaitu rontgen dada. Pemeriksaan ini bisa membantu menunjukkan adanya gambaran isi perut atau tidak di dalam rongga dada. 

Kondisi ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Bayi baru lahir yang diduga mengidap hernia diafragmatika harus segera mendapat penanganan menyeluruh dan intensif dari dokter dan tenaga medis. Karena penyebabnya masih belum diketahui, hingga kini tidak ada cara pasti yang bisa dilakukan untuk mencegah kelainan bawaan ini. Meski begitu, ibu hamil disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan ke dokter, untuk membantu meminimalisasi risiko penyakit bawaan atau penyakit lain yang mungkin menyerang bayi selama berada di dalam kandungan. 

Baca juga: 5 Pemeriksaan Penunjang untuk Diagnosis Hernia Diafragma

Memantau kondisi kesehatan dan kehamilan juga bisa dilakukan dengan mudah melalui aplikasi Halodoc. Ibu bisa memanfaatkan fitur tanya dokter untuk berbicara dengan dokter seputar pertanyaan mengenai kehamilan. Sampaikan juga keluhan-keluhan atau hal yang dicurigai melalui Video/Voice Call dan Chat. Dokter akan membantu dan memberi saran terbaik dalam menjaga kehamilan hingga mempersiapkan kehamilan. Download aplikasinya di App Store dan Google Play.