Pentingnya Ibu Hamil untuk Menjaga Tekanan Darah

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Pentingnya Ibu Hamil untuk Menjaga Tekanan Darah

Halodoc, Jakarta – Menjaga tekanan darah tetap normal dan stabil selama kehamilan sangatlah penting. Tekanan darah tidak boleh terlalu tinggi ataupun terlalu rendah. Jika tekanan terlalu tinggi dapat menyebabkan preeklamsia, tekanan darah yang terlalu rendah dapat memicu terjadinya sindrom Sheehan. 

Sindrom Sheehan merupakan kondisi ketika kelenjar pituitari mengalami kerusakan saat melahirkan, akibat perdarahan hebat atau tekanan darah yang terlampau rendah selama atau setelah melahirkan. Sindrom ini dapat memengaruhi berbagai hal, termasuk produksi ASI, siklus menstruasi, dan kesehatan reproduksi. 

Baca juga: Kenali Jenis Hormon Kehamilan dan Fungsinya untuk Wanita Hamil

Gejala yang ditimbulkan sindrom Sheehan dapat muncul perlahan ataupun seketika. Berbagai gejala yang umum muncul, yaitu:

  • Gangguan menstruasi, seperti amenorrhea atau oligomenorrhea.
  • Tekanan darah rendah.
  • Rambut yang dicukur tidak tumbuh lagi.
  • Kadar gula darah rendah.
  • Tidak mengeluarkan ASI.
  • Tubuh mudah lelah.
  • Aritmia.
  • Payudara menyusut.
  • Berat badan bertambah.
  • Mudah kedinginan.
  • Kondisi mental menurun.
  • Kulit kering.
  • Nafsu seksual menurun.
  • Nyeri sendi.
  • Kerutan di sekitar mata dan bibir.

Sayangnya, banyak wanita yang bertahun-tahun tidak menyadari adanya sindrom Sheehan pada tubuhnya. Selain karena gejala yang bisa sama sekali tidak muncul, gejala sindrom Sheehan juga dapat diduga sebagai hal lain. Misalnya, tubuh mudah lelah yang banyak diduga sebagai hal yang normal pada wanita yang baru melahirkan.

Baca Juga: 11 Tanda Ibu Menyusui Alami Sindrom Sheehan

Meski demikian, sekecil apapun keluhan yang dialami sebaiknya dibicarakan dengan dokter, untuk menghindari komplikasi serius yang mungkin mengintai. Diskusikanlah dengan dokter di aplikasi Halodoc, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Sheehan

Sindrom Sheehan terjadi karena adanya perdarahan hebat atau tekanan darah yang terlampau rendah selama atau setelah melahirkan. Hal ini dapat merusak kelenjar hipofisis yang membesar selama hamil, sehingga kelenjar tidak dapat berfungsi normal dan tidak menghasilkan hormon yang seharusnya diproduksi. 

Sindrom Sheehan dapat disebabkan oleh setiap kondisi yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan hebat atau tekanan darah rendah selama kehamilan. Beberapa kondisi tersebut adalah:

  • Solusio plasenta (lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir).
  • Plasenta previa (kondisi sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim).
  • Melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kilogram atau melahirkan bayi kembar.
  • Preeklamsia selama masa kehamilan.
  • Penggunaan alat bantu persalinan, seperti forcep atau vakum.

Baca Juga: Inilah 8 Tips Mengejan Saat Persalinan

Diagnosis dan Pengobatan untuk Sindrom Sheehan

Untuk memastikan diagnosis sindrom Sheehan, dokter biasanya akan menjalankan tes darah untuk memeriksa kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Selain tes darah, dokter juga akan melakukan tes stimulasi hormon, dengan menyuntikkan hormon dan mengambil kembali sampel darah untuk melihat respon kelenjar hipofisis.

Jika diperlukan, dokter juga akan melakukan tes pencitraan. seperti CT scan atau MRI. Prosedur ini dilakukan untuk melihat ukuran kelenjar pituitari dan memeriksa adanya kemungkinan lain, misalnya tumor hipofisis. Setelah diagnosis dipastikan, barulah pengobatan dilakukan. 

Pengobatan untuk sindrom Sheehan umumnya dilakukan dengan terapi pengganti hormon yang hilang, seperti:

  • Kortikosteroid. Digunakan sebagai pengganti hormon adrenal yang tidak diproduksi akibat kekurangan hormon adrenokortikotropik. 
  • Levotiroksin. Untuk meningkatkan kadar hormon tiroid yang kekurangan akibat rendahnya produksi TSH (thyroid-stimulating hormone) oleh kelenjar hipofisis.
  • Estrogen. Merupakan hormon yang produksinya diatur oleh kelenjar hipofisis.
  • Hormon pertumbuhan. Terapi pengganti hormon pertumbuhan pada wanita dengan sindrom Sheehan dapat menjaga rasio normal otot dan lemak tubuh, menurunkan kadar kolesterol, mempertahankan massa tulang, dan meningkatkan kualitas hidup pengidap secara keseluruhan.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Sheehan's syndrome
Healthline. Diakses pada 2019. Sheehan syndrome