• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pentingnya Konsensual untuk Hubungan yang Sehat dan Langgeng

Pentingnya Konsensual untuk Hubungan yang Sehat dan Langgeng

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Sejauh ini kamu mungkin sering mendengar istilah konsensual atau "persetujuan" hanya dalam konteks kekerasan seksual. Padahal, kenyataannya ini merupakan percakapan yang harus dilakukan oleh pasangan sebelum mereka melakukan aktivitas seksual atau lainnya. Sayangnya, tidak cukup banyak orang yang mengetahui betapa pentingnya konsensual untuk menciptakan hubungan yang sehat dan langgeng.

Sederhananya, konsensual adalah persetujuan yang diberikan setiap pihak ketika mereka hendak melakukan aktivitas seksual. Ini bisa termasuk pelukan, ciuman, sentuhan, atau hubungan intim. Kedua belah pihak harus setuju, dan persetujuan tersebut tidak hanya sekedar memberikan izin untuk aktivitas tertentu. Kedua belah pihak harus memberikan persetujuan dengan mengatakannya secara jelas dan antusias. Selain itu, hanya karena seseorang menyetujui sesuatu satu kali, itu tidak berarti mereka akan selalu setuju. Persetujuan harus diberikan setiap saat, karena seseorang selalu dapat berubah pikiran.

Baca juga: 6 Trauma Akibat Kekerasan Seksual


Mengapa Konsensual Dianggap Penting?

Salah satu kesalahpahaman yang paling berbahaya tentang persetujuan dalam hubungan adalah anggapan bahwa kamu tidak benar-benar perlu membicarakannya, kecuali salah satu pasangan ingin mencoba sesuatu yang baru dalam hubungan intim. Kesalahpahaman lain yang juga sering terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa konsensual tidak diperlukan hanya karena seseorang adalah pasanganmu. 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, persetujuan dapat berubah dari menit ke menit, jadi sangat penting bagi kamu dan pasangan untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dalam semua hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual. 

Meminta persetujuan bukan hanya sebagai tanda penghormatan, ini merupakan hal yang wajib dan memiliki payung hukum tersendiri. Pasalnya, setiap aktivitas seksual tanpa persetujuan bisa dikategorikan sebagai kekerasan seksual, tak peduli jika ia adalah pasanganmu. Tidak meminta persetujuan kepada pasangan mungkin dapat menyakiti seseorang yang kamu sayangi, bahkan tanpa disadari. Jadi, pastikan untuk mendapatkan persetujuan setiap saat.

Baca juga: 5 Hal Ini Masuk Kategori Pelecehan Seksual, Apa Alasannya?


Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Memberi Persetujuan atau Tidak?

Saat kamu meminta persetujuan kepada pasangan untuk melakukan aktivitas seksual tersebut, maka jawabannya harus disampaikan dengan antusias, jelas, diberikan dengan cuma-cuma, aktif, dan tidak berasumsi. 

Saat pasangan kamu sebenarnya tidak memberikan persetujuan atas aktivitas seksual tertentu, maka ada beberapa tanda yang dapat dilihat, misalnya:

  • Seseorang hanya pasrah atau merasa ditekan.
  • Seseorang merasa tidak aman untuk menolak.
  • Seseorang tengah dalam kondisi mabuk atau tidak sadarkan diri.
  • Salah satunya masih di bawah umur.
  • Berada dalam posisi otoritas atas orang lain (misalnya seorang guru, pelatih, manager, dan lain-lain).

Salah satu cara terbaik untuk menentukan apakah seseorang merasa tidak nyaman dengan situasi apa pun, terutama situasi seksual, adalah dengan mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang bisa diajukan, antara lain:

  • "Apakah ada sesuatu yang tidak ingin kamu lakukan?"
  • “Apakah kamu senang melakukan hal ini?”
  • “Apakah kamu merasa nyaman?”
  • “Apakah kamu ingin berhenti?”
  • “Apakah kamu ingin melanjutkan?”

Konsensual Juga Tak Melulu Soal Seks

Meski konsensual berkaitan dengan hubungan, hal ini bukan hanya tentang kehidupan seks antara kamu dan pasangan. Ini juga berlaku tentang bagaimana kamu dan pasangan bersikap dengan mantan kekasih atau teman. 

Faktanya, kamu dan pasangan mungkin memiliki gagasan berbeda tentang apa yang dimaksud dengan menggoda atau selingkuh, dan kamu berdua harus bisa menyetujui peran yang dimainkan orang lain dalam hubungan kalian. Jadi, persetujuan dalam hubungan bukan hanya tentang seks yang kamu dan pasangan miliki. Pada intinya, mendapatkan persetujuan dalam hubungan secara harfiah hanya mengomunikasikan dengan pasangan tentang sikap dan perilaku yang membuat kalian masing-masing merasa nyaman, entah itu seputar seks atau bukan. 

Semua ini dilakukan semata-mata untuk menghindari miskomunikasi, karena banyak sekali di luar sana hubungan yang berakhir hanya karena komunikasi yang tidak dibangun dengan baik.

Baca juga: Orangtua Perlu Tahu, Pendidikan Seks Tidak Tabu untuk Anak

Untuk tips lain seputar trik mempertahankan hubungan yang sehat dan langgeng, kamu juga bisa tanyakan pada psikolog di Halodoc, lho. Psikolog akan dengan senang hati memberikan saran yang kamu butuhkan untuk menjaga hubungan tetap harmonis. Ambil segera smartphone-mu, dan nikmati kemudahan bicara dengan psikolog kapan dan di mana saja!

Referensi:
Bustle. Diakses pada 2020. Why Consent Matters In Your Relationship.
Family Planning - New South Wales. Diakses pada 2020. Relationships and Consent.
SAVIS Youth. Diakses pada 2020. What is Consent?