• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyakit Autoimun Bisa Sebabkan Pemfigus, Benarkah?

Penyakit Autoimun Bisa Sebabkan Pemfigus, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Pemfigus vulgaris adalah kelainan autoimun yang melibatkan lepuh dan erosi pada kulit dan selaput lendir. Pada banyak kasus pemphigus dimulai dengan lepuh di mulut, diikuti oleh lepuh kulit yang mungkin datang dan pergi. 

Lepuh di dalam mulut bisa membuat pengidapnya sulit makan. Pecahnya lepuh pada kulit mungkin menyakitkan dan membatasi aktivitas sehari-hari orang tersebut. Komplikasi karena infeksi ini bisa serius dan sifat lepuh yang merusak dapat mengakibatkan kehilangan cairan tubuh dan protein. Informasi selengkapnya mengenai pemphigus bisa dibaca di bawah ini!

Disebabkan karena Kondisi Autoimun

Pemfigus vulgaris adalah gangguan autoimun. Dalam kasus pemfigus vulgaris, sistem kekebalan tubuh secara keliru menghasilkan antibodi terhadap protein spesifik di kulit dan selaput lendir, yang dikenal sebagai desmogleins.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Genetic and  Diseases Information Center, protein-protein ini membentuk lem yang menjaga sel-sel kulit menempel dan kulit tetap utuh. Ketika desmoglein diserang, sel-sel kulit terpisah satu sama lain dan cairan dapat terkumpul di antara lapisan kulit, membentuk lepuh yang tidak sembuh-sembuh. 

Baca juga: Ketahui 6 Penyakit yang Termasuk Gangguan Autoimun

Dalam beberapa kasus, lepuh ini dapat menutupi area kulit yang luas. Meskipun jarang, beberapa kasus pemfigus vulgaris disebabkan oleh obat-obatan tertentu. Meskipun dalam banyak kasus penyebab pasti pemfigus vulgaris masih belum diketahui, beberapa faktor yang berpotensi relevan telah diidentifikasi, seperti faktor genetik dan usia. 

Informasi lebih lengkap mengenai pemphigus, dapat ditanyakan langsung di HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Bagaimana Pengobatan Pemfigus

Tujuan dari pengobatan pemfigus vulgaris adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan remisi, serta menghindari komplikasi, seperti infeksi. Obat-obatan dan terapi digunakan untuk mengurangi pembentukan lepuh dan membantu penyembuhan lepuh dan mengurangi jaringan parut. 

Setelah remisi, penting untuk menentukan dosis minimal obat yang diperlukan untuk mengendalikan proses penyakit, karena penggunaan steroid dan obat imunosupresif jangka panjang dapat meningkatkan risiko masalah medis lainnya. Perawatan pemphigus ini bersifat individual dan sangat perlu untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan yang lain. Beberapa bentuk perawatannya adalah:

  1. Steroid (kortikosteroid), seperti prednison. Steroid dapat membantu seseorang menjalani remisi dan tetap dalam remisi, tetapi ini harus diimbangi dengan masalah medis yang dapat disebabkan oleh penggunaan steroid jangka panjang.

  2. Suplai imunosupresif dan imunoterapi lainnya dapat digunakan sebagai tambahan terhadap terapi steroid untuk mengurangi risiko kekambuhan atau untuk mengurangi kekuatan dosis steroid yang digunakan. Sekali lagi pilihan obat atau terapi tambahan (terapi adjuvant) harus seimbang dengan memikirkan kemungkinan efek samping negatif.

  3. Immunoadsorption (prosedur pemurnian darah yang menghilangkan antibodi penyebab penyakit).

Obat tambahan dapat dipertimbangkan jika seseorang tidak mencapai remisi dengan kombinasi steroid dan salah satu obat atau terapi. Antibiotik, antivirus, dan antijamur dapat digunakan untuk mencegah atau melawan infeksi. 

Baca juga: Raditya Dika Alami Mata Kering, Ini Bahayanya

Perawatan luka juga perlu diterapkan termasuk mandi untuk menjaga kebersihan dan membalut luka sebagai penyembuhan lepuh dan luka. Kasus pemfigus vulgaris yang parah mungkin memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan luka yang tepat, serta cairan intravena dan elektrolit jika borok mulut parah. 

Referensi:

Genetic and Rare Diseases Information Center. Diakses pada 2020. Pemphigus Vulgaris.
Healthline. Diakses pada 2020. Pemphigus Vulgaris.